|
Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:
وإخلاص العمل لله والرضا بقضاء الله والصبر على حكم الله والإيمان بأقدار الله كلها خيرها وشرها حلوها ومرها
Dan mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala, ridho dengan ketentuan Allah Subhanahu wata’ala, serta sabar dalam menjalani hukum Allah Subhanahu wata’ala.
Dan beriman dengan takdir seluruhnya, yang baik maupun yang buruk, manis maupun pahit. |
Syaikh Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi
Adapun dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya ikhlas dalam beramal hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala, maka dalam kitabullah dan Sunnah Rasulullah terdapat dalil-dalil yang mencukupi dalam permasalahan ini. Dan setelah itu baru dalil dari ijma’ umat Islam atas hal tersebut.
Adapun dalil dari kitabullah adalah firman Allah,
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (Al Bayyinah: 5)
Dan firman-Nya,
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai (nya)." (Ghafir: 14)
Dan firman-Nya,
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar." (Az Zumar: 3)
Dan firman-Nya,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya". (Al Kahfi: 110)
Dan ayat-ayat yang lainnya. Semua ayat ini memerintahkan untuk mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala secara tersurat dan melarang dari perbuatan syirik yang besar maupun yang kecil secara tersirat.
Adapun dalil dari As Sunnah, diantaranya adalah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwasanya Allah Subahanahu wata’ala berfirman,
وعن أبي هريرة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال سمعت رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يقول: <قال اللَّه تعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملاً أشرك فيه معي غيري تركته وشركه> رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
"Aku adalah dzat yang Maha Kaya tidak butuh kepada sekutu-sekutu dari perbuatan syirik. Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang dalam amalan tersebut dia menyekutukan Aku dengan yang lain maka aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Az Zuhd wa Ar Riqaq dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu)
Dan hadits,
وعنه رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال سمعت رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يقول: <إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه رجل استشهد فأتي به فعرّفه نعمته فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: قاتلت فيك حتى استشهدت. قال: كذبت ولكنك قاتلت لأن يقال جريء فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار، ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن، فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلّمته وقرأت فيك القرآن. قال: كذبت ولكنك تعلمت ليقال عالم وقرأت القرآن ليقال هو قارئ فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار، ورجل وسّع اللَّه عليه وأعطاه من أصناف المال فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل تحب أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك. قال: كذبت ولكنك فعلت ليقال هو جواد فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه ثم ألقي في النار> رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, katanya: "Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:"Sesungguhnya pertama-tama orang yang diputuskan pada hari kiamat ialah seseorang lelaki yang mati dalam peperangan fi-sabilillah. Orang itu didatangkan, lalu diperlihatkanlah kepadanya akan kenikmatan yang akan dimilikinya, kemudian iapun dapat melihatnya pula. Allah berfirman: "Apakah yang engkau amalkan sehingga dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?" Orang itu menjawab: "Saya berperang untuk membela agama-Mu sehingga saya terbunuh dan mati syahid." Allah berfirman: "Engkau berdusta tetapi sebenarnya engkau berperang itu ialah supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang berani dan memang engkau sudah dikatakan sedemikian itu." Orang itu lalu disuruh minggir, kemudian diseret atas mukanya sehingga dilemparkan ke dalam api neraka.
Selanjutnya ialah seorang lelaki yang menuntut ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca al-Quran, ia didatangkan, lalu diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat diperolehnya dan ia juga dapat melihatnya. Allah berfirman: "Apakah amalan yang sudah engkau kerjakan sehingga engkau dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?" Orang itu menjawab: "Saya menuntut ilmu dan sayapun mengajarkannya, juga saya membaca al-Quran untuk mengharapkan keridhaan-Mu." Kemudian Allah berfirman: "Engkau berdusta, tetapi sesungguhnya engkau menuntut ilmu itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang alim, juga engkau membaca al-Quran itu supaya engkau dikatakan sebagai seorang pandai dalam membaca al-Quran dan memang engkau telah dikatakan sedemikian itu. Selanjutnya orang itu disuruh minggir dan diseret atas mukanya sehingga dilemparkanlah ia ke dalam api neraka.
Ada pula seorang lelaki yang telah dikaruniai kelapangan hidup oleh Allah dan pula diberi berbagai macam kekayaan. la didatangkan lalu diperlihatkanlah padanya kenikmatan-kenikmatan yang dapat diperolehnya dan ia juga dapat melihatnya itu. Allah berfirman: "Apakah amalan yang sudah engkau lakukan sehingga dapat memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu?" la menjawab: "Tiada suatu jalanpun yang Engkau cinta kalau jalan itu diberikan nafkah, melainkan sayapun menafkahkan harta saya untuk jalan tadi karena mengharapkan keridhaan-Mu." Allah berfirman: "Engkau berdusta, tetapi engkau telah mengerjakan yang sedemikian itu supaya dikatakan: "Orang itu amat dermawan sekali" dan memang sudah dikatakan sedemikian itu." Orang itu lalu disuruh minggir lalu diseret atas mukanya sehingga dilemparkanlah ia ke dalam api neraka." (Riwayat Muslim)
Adapun ijma’: telah sepakat di antara para ulama akan haramnya syirik, yang kecil maupun besar dan bahwasanya riya termasuk dari syirik, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil baik dari kitabullah, sunnah Rasulullah, dan ijma’ umat Islam.
Ucapan beliau, Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala,
والرضا بقضاء الله والصبر على حكم الله
"Dan ridho dengan ketentuan Allah, serta sabar dalam menjalani hukum Allah"
Ridho terhadap keputusan (ketetapan) Allah merupakan kedudukan yang sangat agung, dan yang dimaksud dengan ketentuan di sini adalah ketentuan yang tidak ada andil seseorang di dalamnya, seperti sakit dan sehat, kaya dan miskin, maut dan seluruh musibah yang menimpa seorang hamba. Dalam perkara ini manusia terbagi menjadi dua. Atau bisa juga dikatakan bahwa seorang hamba memiliki dua keadaan dalam perkara ini, dan kedua keadaan tersebut salah satunya lebh tinggi kedudukannya daripada yang lainnya,
1. Ridho. Inilah keadaan yang paling tinggi, yakni kamu ridho dengan takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan untukmu dan ridho dengan rizki yang dibagi oleh Allah Subhanahu wata’ala, serta ridho dengan musibah yang telah Allah Subhanahu wata’ala takdirkan menimpamu. Ridho dengan takdir berupa musibah yang menimpa seorang hamba semata-mata takdir Allah Subhanahu wata’ala, sama sekali dia tidak mampu dan tidak ada orang lain untuk menolaknya. Ridho dengan takdir ini merupakan kedudukan yang tinggi, merupakan sifat yang sangat berharga dan mulia, yakni dengan cara seorang hamba mengharap pahala atas musibah tersebut setelah musibah menimpa dirinya, di mana kalau seandainya dia diberi pilihan untuk memilih antara pahala dan musibah tersebut dengan hilangnya musibah tersebut ia lebih memilih pahala tersebut (yakbi tetapnya musibah tersebut menimpa dirinya sehingga dia terus mendapatkan pahala bersabar dan ridho).
2. Apabaila dia tidak mampu untuk menjadi orang yang ridho dengan takdir tersebut maka hendaknya dia menjadi orang yang bersabar. Ini adalah keadaan yang kedua, ia bersabar atas musibah tersebut apabila ditakdirkan menimpa dirinya dan sabar dalam memikul kesulitannya dalam rangka mengharap pahala dari Allah Subhanahu wata’ala dan tunduk dengan ketentuan dan takdir Allah Subhanahu wata’ala.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
"… dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Al Baqarah: 177)
Dan dalam sebuah hadits,
“Apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka dengan menimpakan musibah kepada mereka, barangsiapa yang ridho maka dia akan mendapatkan keridhoan dari Allah dan barangsiapa yang marah maka dia akan mndapatkan kemarahan dari Allah" (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu)
Wabillahit taufiq.
Ringkasan:
Tidak boleh ridho terhadap kemaksiatan dan tidak pula berdalil dengan takdir ketika melakukannya, bahkan wajib baginya untuk beruasaha menghilangkan dan memutuskannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (Ali Imran: 110)
Dan nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu dengan tangannya maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu dengan lisannya maka dengan hatinya, itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim, no. 78, dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Kalau seandainya Allah Subhanahu wata’ala mentakdirkan orang-orang kafir berhasil menduduki salah satu negeri kaum Muslimin, apakah boleh bagi kita untuk mengatakan, "Ini merupakan perkara yang sudah ditakdirkan, kita biarkan saja" dan tidak berusaha untuk menghilangkan kemungkaran ini hingga kaum Muslimin kembali merdeka dalam negerinya dan kembali tenang dari penjajahan kaum kuffar? Jawabnya: tidak boleh baginya untuk diam atas kejadian tersebut, tidak boleh ridho dengannya, serta tidak boleh untuk bersabar melihat kenyataan seperti itu. Wabillahit taufiq.
[Dari Kitab Irsyaadus Saari ila Taudhihi Syarhis Sunnah lil Imam Al Barbahari, Edisi Indonesia Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari Meniti Sunnah di Tengah Badai Fitnah oleh Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi, Penerbit Maktabah Al Ghuroba, hal 261-268]
Filed under: Aqidah Ahlus Sunnah, Firqah Hizbiyah, Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari















