Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi
(Bagian 3 – T A M M A T)
Pembahasan Ketiga: Manhaj Salaf adalah Manhaj Yang Tinggi dan Menang Sampai Hari Kiamat
Diantara keistimewaan manhaj salaf ini ialah, senantiasa mendapat kemenangan sampai Allah azza wajala mewarisi bumi dan seisinya ini. Di mana Allah azza wajala telah menjadikan manhaj Nabi-Nya ini sebagai penutup semua ajaran agama yang diturunkan dari langit. Dan Allah azza wajala tidak akan menerima agama selain agama (Islam) ini.
Allah azza wajala jadikan pula agama ini sebagai agama bagi seluruh penduduk bumi. Yang demikian tentunya manhaj inipun akan tetap merupakan bagian dari risalah abadi ini, generasi demi generasi seiring dengan peredaran masa sampai hari kiamat.
Memang, kadang selubungnya semakin berkurang, demikian juga pengikutnya. Akhirnya terjadi keterasingan mereka di beberapa penjuru dunia. Apalagi ketika bid’ah, khurafat (cerita-cerita bohong) dan penyimpangan semakin tersebar dan menjauhkan kaum muslimin dari jalan yang benar. Akan tetapi Allah azza wajala tidak akan membiarkan agama-Nya dipermainkan oleh ahli bid’ah tersebut. Allah azza wajala tetap mentakdirkan adanya para pengikut manhaj salaf ini yang akan membongkar kepalsuan mereka dan membantah tipu daya mereka.
Inilah sejumlah dalil utama yang mejelaskan faedah makna yang mulia ini, yaitu adanya kemenangan dan hidupnya manhaj ini dalam keadaan mulia dan mendapat pertolongan sampai datang ketetapan Allah azza wajala. Diantara dalil-dalil tersebut adalah:
Firman Allah azza wajala:
إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (Ghafir: 51)
Dan:
وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ. إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ. وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ
“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (Ash Shaaffaat: 171-173)
Juga firman Allah azza wajala:
كَتَبَ اللَّهُ لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Allah tetap menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al Mujadalah: 21)
Siapapun yang memperhatikan ayat-ayat ini akan melihat bahwa ayat ini menjelaskan bagaimana pertolongan dan pembelaan Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya yang shalih lagi beriman. Tidaklah bertentangan dengan berbagai kejadian yang menimpa para Nabi tersebut akibat ulah kaumnya, seperti yang dialami Nabi Yahya bin Zakariya dan Ibrahim alaihi salam. Hal ini semakin jelas dari berbagai keterangan para mufassir tentang ayat-ayat ini yang menunjukkan pastinya pertolongan Allah bagi para Nabi dan Rasul-Nya. Di antaranya adalah Ibnu Jarir rahimahulullah ketika menyatakan:
“Ayat-ayat ini menunjukkan dua pengertian yang shahih, yaitu: br>Pengertian pertama ialah, bahwa Kami pasti menolong para Rasul Kami dan orang-orang mukmin dengan meninggikan (derajat) mereka di atas orang-orang yang mendustakan mereka, memenangkan mereka sehingga dapat mengalahkan dan menghinakan musuh-musuh mereka sehina-hinanya, sebagaimana keadaan Nabi Daud, Sulaiman dan Muhammad shalawatullahi wa salamuhu ‘alaimin.
Atau (pengertian ke dua ialah) menghukum orang-orang yang menentang dengan menghancurkan mereka dan menyelamatkan para Rasul itu dari orang-orang yang memusuhi dan mendustakan mereka. Sebagaimana Allah azza wajala perbuat terhadap Nabi Nuh dan kaummnya. Atau menimpakan siksaan kepada orang-orang yang mendustakan itu dalam kehidupan dunia ini setelah wafatnya para Rasul itu, sebagaimana Allah azza wajala berbuat terhadap orang-orang yang membunuh Yahya alaihi salam dengan menjadikan mereka dijajah dan ditindas oleh musuh-musuh mereka.”
Dalam masalah ini ada juga sejumlah hadits yang menegaskan bahwa ketetapan Allah azza wajala senantiasa berlaku bagi ummat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, dimana mereka senantiasa tetap dalam keadaan istiqomah dan baik sampai Allah azza wajala mewarisi bumi dan seisinya ini. Diantaranya ialah:
Sabda Rasulullah;
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ لا يَضُرًُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَ تَعَالىَ وَ هُمْ كذَلِكَ
“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan al haq, tidak bermudharat bagi mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta’ala sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. Al-Bukhari no.7459 dan Muslim no. 1920)
Dan sabda beliau juga:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan dengannya kebaikan niscaya Allah jadikan dia fakih dalam agamanya. Sesungguhnya saya hanyalah pembagi dan Allah yang memberi. Dan akan senantiasa urusan umat ini dalam keadaan istiqomah sampai datangnya kiamat atau datangnya keputusan Allah.” (HR. Muslim dari Mu’awiyah bin Abi Syufan ra.)
Muhammad bin Isma’il Al Bukhari mengatakan: “Ali bin Al Madini telah berkata kepada saya, ”Mereka adalah ashhabul hadits (orang-orang yang mempelajari dan mengikuti hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam).””
Ibnu Hajar rahimahulullah mengatakan, ”Dalam hadits ini terlihat adanya mukjizat yang jelas, bahwasannya sifat ini –walhamdulillah- senantiasa sejak zaman Nabi Shallallahu’alaihi wasallam hingga saat ini. Dan akan tetap ada sampai datangnya keputusan Allah.”
Yang juga menunjukkan keistimewaan yang besar ini sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits Tamim Ad Dari Radhiallahu’anhu,
“Pasti urusan ini (Islam) akan sampai kepada apa yang dicapai oleh malam dan siang. Dan Allah tidak akan membiarkan satu rumah penduduk kota atau kampung atau orang-orang badui (yang tinggal tidak menetap pada satu tempat) dengan memuliakan orang yang mulia dan menghinakan mereka yang hina. Mulia, di mana Allah muliakan dengannya Islam, hina, dimana Allah menghinakan dengannya orng-orang kafir.” (HR. Ahmad 4/404, Ath Thabrani 2/58 dan Al Hakim 4/430)
Setelah menguraikan sejumlah hadits Nabi ini, adalah sesuai agaknya para pembaca memperhatikan sebab yang mendatangkan kemenangan, kekuatan dan kemuliaan ini. Dan akan saya paparkan sebuah ayat dari Kitabullah azza wajala (Al Qur’an) yang menjelaskan sebab-sebab tersebut, yaitu firman Allah azza wajala:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nuur: 55)
Ayat yang mulia ini menjelaskan sebab yang mendatangkan pertolongan, yaitu beribadah kepada Allah, mentauhidkan-Nya, dan berjalan di atas manhaj tauhid dan nubuwwah, serta menjauhi penyimpangan syahwat dan bid’ah.
Selamatnya tauhid dari kekotoran syirik, bid’ah dan syahwat merupakan sebab kemenangan, kemuliaan dan kekuatan serta tambahan kebaikan bagi umat ini.
Syaikh Al ‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahulullah ketika mengomentari ayat ini mengatakan, “Tatkala salafus shalih generasi pertama umat ini berjalan dengan petunjuk Al Qur’an dan sejarah perjuangan Rasul Shallallahu’alaihi wasallam, maka Allah memuliakan dan mengangkat derajat mereka serta menjadikan mereka berkuasa di bumi ini, sebagai bukti apa yang dijanjikan Allah kepada mereka”
Maka wajib atas setiap da’i muslim untuk senantiasa berjalan di atas manhaj yang mulia ini, jangan sampai menyimpang daripada –Nya. Dan sejauh mana seseorang menjaga agama yang mulia ini, seperti itu pula Allah akan menjaga dan menolongnya.
[Dinukil dari kitab Asas Manhajus Salaf fii Da’wati Ilallah Edisi Indonesia Manhaj Dakwah Salafiyyah, Penulis Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi, Penerbit Pustaka Al Haura, hal 258-261]
T A M M A T
Filed under: Hidupkan Sunnah















