• Kalender Hijriyah

    KALENDER HIJRIAH
  • Barokallahu fiikum


  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

    "Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Al Fatawa 4/149)

  • Thoghut Demokrasi Berbuah Penyakit Jiwa (Bagian 4-TAMAT)

    Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi

    (Bagian 4 – TAMMAT)
    Disegerakannya Hukuman bagi Orang-Orang yang Menyelisihi Para Rasul

    Sebagaimana halnya Ittiba’ kepada para rasul akan senantiasa mendapat pertolongan, maka sebaiiknya, menyelisihi para rasul akan mendatangkan kehinaan. Allah Ta’ala berfirman:

    إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الأذَلِّينَ

    “Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al Mujadalah: 20)

    Dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam

    وَجُعِلَ الذِّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

    "…dan dijadikan kehinaan dan kekerdilan atas orang yang menyelisihi perintahku." (Riwayat Ahmad (2/50), Ibnu Abi Syaibah (5/322) dan selain keduanya. Riwayat ini Hasan. Lihat As-Siyar karya Adz Dzahabi (915/509) dan Al Fath karya Ibnu Hajar (6/98))

    Tafsirnya, seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah: "Bid'ah itu disertai dengan perpecahan, sedangkan Sunnah disertai dengan persatuan. Oleh karena itu, dikatakan Ahlus Sunnah waljama'ah sebagai lawan dari Ahlu Bid'ah dan Al Furqah. (Al Istiqamah (1/42) dan jika engkau menghendaki lihat kitab Ijma’ul Juyus Al Islamiyah karya Ibnul Qayyim (hal.6))

    Para ulama telah sepakat bahwa sebab-sebab kekalahan yang paling besar adalah karena perselisihan; dan perselisihan yang paling keras -tidak ragu lagi- adalah berselisih dalam hal agama. Dan apabila munculnya perselisihan tersebut karena sikap meremehkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah gabungkan keduanya dalam satu ayat. Allah berfirman:

    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا

    “Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan jangan kalian berselisih yang menyebabkan kalian menjadi gentar.” (QS. Al Anfaal: 46)

    Dan oleh karena berpegang teguh dengan sunnah adalah “perahu keselamatan” di “lautan perselisihan”, maka Nabi Shallallahu'alaihi wasallam memerintahkan untuk berlayar dengannya tatkala terjadi perselisihan itu. Beliau Shallallahu'alaihi wasallam bersabda:

    فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ، يَرَ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفاَءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهاَ وَعَضُّوْا عَلَيْهاَ بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “…dan sungguh, kalian yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka peganglah oleh kalian Sunnahku dan Sunnah Khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah kalian dariperkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang baru diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” [Riwayat Ahmad (4/162,167), Abu Dawud (4607), At Turmudzi (2678), Ibnu Majah (42-44) dan Ad Darimi (1/44,45). Riwayat ini Shahih]

    Allah Ta’ala berfirman:

    وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ

    “Dan janganlah kamu meyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang keterangan yang jelas bagi mereka.” (QS. Ali ‘lmran: 105)

    Yakni: datang wahyu kepada mereka yang akan menyatukan mereka. Akan tetapi mereka meninggalkannya sehingga  merekapun berselisih.

    Hal di atas menjadi jelas tatkala kita menengok sejarah orang-orang Yahudi dan Nasrani dimana orang-orang Nasrani mengikuti ajaran pendeta yang mereka ada-adakan sendiri dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka sehingga Allah Subhanahu waTa’ala menumbuhkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sebagaimana yang difirmankan dalam surat Ali Imran:

    وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

    Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami orang-orang Nasrani,” ada yang telah Kami ambil perjanjian, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Oleh karena itu, Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat.” (QS. Al Maa’idah: 14)

    Berkata Ibnu Taimiyah: “Hal ini menjadi dalil bahwa mereka telah meninggalkan sebagian dari apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, sehingga hal itu menyebabkan timbulnya permusuhan dan kebencian yang diharamkan di antara sesama mereka.” [Majmu' Fatawa (20/109)]

    Adapun orang-orang Yahudi, mereka juga meninggalkan sebagian dari apa yang telah diperintahkan kepada mereka sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu waTa’ala:

    يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

    "Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dariapa yang telah diperingatkan kepada mereka." (QS. Al Maidah: 13)

    Perbuatan mereka yang meninggalkan sebagian dari apa yang telah diperintahkan kepada mereka ini menyebabkan munculnya tindakan mereka yang sudah dikemukakan sebelumnya berupa kelalaian atau penyelewangan dikarenakan mereka benci kepada apa-apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala. Allah berfirman:

    وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

    “Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan ‘permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari  kiamat.” (QS. Al Maa’idah: 64) [Lihat: Majmu' Fatawa juga (13/227)]

    Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Perselisihan yang terjadi di antara orang-orang yang bukan pemeluk suatu agama atau kelompok adalah lebih banyak dari perselisihan yang terjadi di antara pemeluk suatu agama (ahlul milah). Barangsiapa yang berada lebih dekat mengikuti para nabi maka perselisihan di antara mereka pun lebih sedikit. Perselisihan yang terjadi di antara para filosof Yunani, India dan lainnya adalah yang paling banyak; dan hanya Allah Subhanahu waTa’ala yang mengetahui jumlahnya. Kemudian perselisihan yang terjadi di antara pengikut kelompok yang paling banyak dan paling parah bid’ahnya seperti golongan Rafidhah. Kemudian perselisihan yang terjadi di antara pengikut Mu’tazilah dan yang semacamnya. Kemudian perselisihan di antara kelompok-kelompok yang menganggap dirinya sebagai bagian dari Al Jamaah seperti hainya kelompok Kullabiyah, Karamiyah dan Asy’ariyah serta yang lainnya. Dan terakhir perselisihan yang terjadi di antara para ahlul-hadits dan merekalah yang paling sedikit perselisihannya dalam hal ushuul (dasar, pokok; aqidah). Hal ini dikarenakan warisan yang mereka terima dari Nabi adalah lebih agung dibanding warisan yang diterima selain mereka, sehingga tali Allah yang mereka pegang dengan teguh ini dapat menjaga mereka. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman:

    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا

    “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah.” (QS. Ali ‘lmran:103) [Minhajus Sunnah (6/311)]

    Dan di antara mutiara yang sangat berharga yang pernah diutarakan Abul Muzhaffar As Sam’ani rahimahullah adalah ucapan beliau: “Dan yang menunjukkan bahwa para ahlul hadits itu senantiasa berada dalam kebenaran adalah jika anda menela’ah seluruh kitab-kitab yang telah disusun oleh mereka dari yang awal dari mereka hingga yang akhir, dari yang lama sampai yang baru, terlepas dari negeri yang berbeda dan saling berjauhan satu dengan yang lain, begitu pula zaman mereka yang berbeda dan tempat tinggal mereka yang tersebar di berbagai penjuru dan tempat di belahan bumi ini, maka anda akan mendapati bahwa mereka berada pada jalan dan jalur yang sama serta corak yang satu dalam hal i’tiqad. Mereka semua dalam masalah aqidah ini berjalan di atas jalan sama. Perkataan mereka dalam masalah aqidah itu satu dan apa yang mereka nukil juga satu. Kamu tidak akan melihat adanya perselisihan, dan tidak pula perpecahan dalam perkara akidah itu berapapun kecilnya. Bahkan seandainya engkau kumpulkan semua ucapan mereka dan semua yang mereka nukil dari para pendahulu mereka, niscaya kamu dapati seakan-akan dia datang dari hati yang satu dan keluar juga dari satu lisan. Apakah ada dalil yang lebih jelas yang menunjukkan bahwa mereka berada di atas kebenaran daripada dalil ini? Allah Ta’ala berfirman:

    أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An Nisa: 82)

    Allah juga berfirman:

    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

    “Dan berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan berpecah belah.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

    Beliau melanjutkan, "Adapun kalau engkau melihat kepada pengikut-pengikut hawa nafsu dan Ahlu bid'ah, niscaya engkau akan melihat mereka saling pecah, berselisih, atau berkelompok-kelompok dan bergolong-golongan. Hampir-hampir tidak kamu dapati ada dua orang dari mereka yang aqidahnya berada di atas jalan yang satu. Sebagiannya membid'ahkan sebagian yang lain, bahkan mereka saling mengkafirkan; anak mengkafirkan bapaknya, saudara mengkafirkan saudaranya, tetangga mengkafirkan tetangga yang lain. Engkau melihat mereka selamanya berada dalam perselisihan, saling membenci dan pecah. Keributan mereka sekilas hilang namun mereka tidak pernah bisa bersatu.

    تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ

    "Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaumyang t/'ada mengerti." (QS. Al Hasyr: 14) [Dari kitab Al Hujjah Li Qawamis Sunnah (2/220)]

    Uraian di atas dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa orang-orang yang menyelisihi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam berhak menerima hukuman yang disegerakan, dengan sebab perselisihan yang terjadi pada mereka.

    Ibnu Sa’ad, Ahmad, Al Baihaqi dan yang lainnya meriwayatkan dengan beberapa sanad dari beberapa orang sahabat bahwa mereka para sahabat radhiallaahu ‘anhum ajma’iin berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pemah mengutus Abdullah bin Hudzafah As Sahami -salah seorang dari enam orang yang diutus- menghadap Kisra (kaisar Persia) untuk mengajaknya masuk Islam. Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menitipkan sepucuk surat buat sang Kisra. Abdullah berkata: Maka saya menyerahkan surat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam kepadanya (Kisra) yang kemudian diambilnya lalu dirobek-robeknya surat tersebut. Tatkala hal itu sampai ke telinga Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau pun bersabda: “Ya Allah, hancurkanlah kerajaannya.” [Sampai disini riwayat Al Bukhari dalam Shahih-rtya (64), akan tetapi tambahan do'a ini adalah mursal]

    Kisra lalu mengirim surat kepada Badzan, salah seorang yang ia tugaskan sebagai gubernur di Yaman, agar mengutus dua orang lelaki yang kekar dan kuat untuk menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di tanah Hijaz (Madinah) yang diharapkan nantinya pulang menghadap Kisra dengan membawa berita tentang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Badzan kemudian mengutus Qahramarl dan seorang pria lain dan menitipkan surat kepada keduanya. Keduanya pun tiba di Madinah dan menyerahkan surat Badzan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yang disambut oleh beliau Shallallahu’alaihi wasallam dengan senyum. Beliau Shallallahu’alaihi wasallam kemudian mengajak kedua utusan tersebut untuk memeluk Islam dan keduanya pada saat itu menggigil ketakutan.

    Dalam satu riwayat disebutkan: Tatkala Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam melihat kumis keduanya yang dipelihara dan dipilin serta pipi (atau cambang) yang dicukur maka beliau Shallallahu’alaihi wasallam memalingkan wajah-nya dari mereka dan berkata: “Celaka kalian! Siapa yang memerintahkan kalian seperti ini?!.”
    Keduanya berkata: “Tuan kami -yakni Kisra- yang memerintahkan kami.”
    Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Akan tetapi, aku diperintahkan oleh Rabb-ku untuk memelihara jenggotku serta memotong kumisku. Sekarang pergilah kalian dariku. Besok kalian datang lagi ke sini dan akan aku kabarkan apa yang aku inginkan.”

    Keesokan harinya kedua orang laki-laki itu datang lagi, maka beliau berkata kepada keduanya: “Sampaikanlah kepada atasan kalian berdua bahwa Rabb-ku telah membinasakan tuan kalian Kisra malam ini.” Lalu keduanya pun pulang dan mendapati apa yang telah disabdakan oleh beliau Shallallahu’alaihi wasallam benar-benar menjadi kenyataan.” [Riwayat Ibnu Sa'ad (1/259-260), Ahmad (5/43), Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwah (4/387-394). Lihat karya Al AIbani (1429) dan Takrij-nya atas Kitab Fiqhus Sirah karya Al Ghazali (hal.388-389)]

    Dalam kisah ini Nabi memberitahukan kebinasaan Kisra tatkala dia berani merobek risalah beliau dan tidak menjaga kehormatannya. Allah menghukum dan menyegerakan kebinasaannya kepada orang yang membenci Rasul-Nya. Allah berfirman:

    إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ

    “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al Kautsar: 3)

    Dan yang membunuh Kisra adalah anaknya sendiri, sebagaimana disebutkan oleh Al Hafizh dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari. [Lihat: (7/733-734)]

    Hal itu merupakan hukuman yang sempurna dengan munculnya permusuhan antara individu-individu dalam satu umat. Lalu bagaimana kalau permusuhan itu munculnya di antara satu keluarga? (Tentu lebih dahsyat lagi). Ini sebagai perwujudan dari firman Allah Ta’ala:

    وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

    “Dan Kami telah timbulkan kebencian dan permusuhan di antara mereka sampai hari kiamat.” (QS. Al Maidah:64)

    Bandingkanlah antara kisah Kisra ini dengan kisah Qaishar (Kaisar Romawi) yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan yang lainnya yang di dalamnya ada ucapan Kaisar kepada Abu Sufyan Radhiallahu'anhu yang diutus kepadanya tentang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yang bunyinya: “Jika sekiranya apa yang anda ucapkan itu benar maka ia (beliau Shallallahu’alaihi wasallam) akan menguasai tempat dimana kedua kaki saya berpijak sekarang ini. Sungguh aku sudah mengetahui kalau ia akan keluar (menyiarkan kebenaran yang ia bawa) hanya saja aku tidak menyangka sebelumnya jika ia adalah seorang dari kalian. Seandainya aku mengetahui bahwa aku akan bisa menemuinya maka dengan susah-payah aku akan berusaha menemuinya dan sekiranya aku berada di dekatnya maka aku akan mencuci kedua kakinya….” (HR. Bukhari no.7)

    Ibnu Taimiyah rahimahulllah berkata: “Dan sungguh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah menulis surat kepada Kisra Parsi dan Qaishar Romawi yang kedua-duanya bukan muslim. Akan tetapi karena Qaishar memuliakan surat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan memuliakan utusan beliau Shallallahu’alaihi wasallam, maka tetaplah kerajaannya. Bahkan dikatakan: “Bahwa kerajaannya tetap ada dan dipegang oleh keturunannya sampai hari ini. Sedangkan  Kisra, ia merobek-robek surat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan menghina beliau Shallallahu’alaihi wasallam maka Allah Subhanahu waTa’ala membunuhnya tak lama setelah peristiwa tersebut dan mencabik-cabik serta merobek-robek  kerajaannya dan setelah itu tidak ada yang tersisa dari kerajaannya sampai hari ini. Peristiwa ini -wallaahu a’lam- merupakan perwujudan dari firman Allah Subhanahu waTa’ala “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al Kautsar: 3)

    Jadi, setiap orang yang membenci beliau, marah dan memusuhi beliau, niscaya Allah akan memutuskannya dan membinasakan dirinya serta pengaruhnya. Ada yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al Ash bin Wail atau berkenaan dengan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith atau Ka’ab bin Al Asyraf dan engkau bisa melihat apa yang Allah perbuat terhadap mereka. Ada perkataan yang terkenal: “Daging para ‘ulama beracun.” Lalu bagaimana dengan dagingnya para Nabi ‘alaihimus salam?! [Ash Shaarim Al Maslul (hal. 164-165) dan lihat Al Fathkasya Ibnu Hajar (1/44).

    Saya berkata: "Simak baik-baik ucapan beliau rahimahullah:

    Sesungguhnya kerajaannya tetap eksis di tangan para keturunannya sampai hari ini dan bandingkan dengan ucapan Hirqal (Hiraqlius; kaisar Romawi) setelah ia membaca surat Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam: "Wahai kalian bangsa Romawi, apakah kalian menginginkan kebahagiaan dan kebenaran serta kerajaan yang tetap ada dan jaya dengan mengangkat baiat kepada Rasulullah (mengikuti apa yang beliau bawa)?"

    lbnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Dan peristiwa yang hampir sama dengan kejadian di atas adalah kisah yang diceritakan oleh beberapa orang muslim yang dapat dipercaya yang mendapatkan pengalaman berkali-kali sewaktu mereka mengepung benteng-benteng pertahanan dan kota-kota yang berada di pesisir wilayah Syam, dimana kaum muslimin pada waktu itu mengepung Bani Al Ashfar (yang sampai saat ini masih ada). Mereka berkata: "Kami pernah mengepung sebuah bangunan benteng atau kota sebulan lamanya atau lebih, sampai-sampai kami hampir putus asa karenanya. Tapi tiba-tiba mereka para penghuni benteng atau kota yang sedang dikepung tersebut mencaci-maki Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam dan menghina kehormatan beliau Shallallahu'alaihi wasallam maka ketika itu pula kemenangan datang dengan mudah dan benteng serta kota segera takluk dan tunduk dengan mudah pula. Kemenangan dan penaklukan ini hanya sehari atau dua hari dan setelah itu takluklah benteng pertahanan musuh dengan diawali oleh peperangan yang dahsyat yang menimpa musuh."

    Mereka yang ikut berperang, sekalipun mereka menyaksikan langsung penaklukan yang begitu cepat dan mudah tatkala mereka mendengar musuh berani mencaci-maki kehormatan Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam hati mereka tetap bergejolak dan penuh dengan kemarahan yang sangat atas apa yang telah diucapkan oleh musuh yang mencaci-maki Rasulullah. [Ash Shaarim Al Maslul (hal.164-165) dan lihat Al Fath karya Ibnu Hajar (1/44)]

    Berkata Ibnu Taimiyah: “Surat Al Kautsar. Betapa agungnya surat ini! Dan betapa melimpahnya faedah-faedah yang terkandung dalam kalimatnya yang ringkas! Hakekat maknanya diketahui pada akhir ayatnya (yakni) bahwa Allah Subhanahu waTa’ala akan memutuskan orang yang membenci Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari segala kebaikan, terputus penyebutan (nama)nya, keluarganya, hartanya, sehingga menjadi kerugian baginya di akhirat. Terputus hidupnya, maka tidak ada lagi manfaat, tidak bisa menambah amal shalih yang bisa didapat untuk bekal buat hari yang dijanjikan. Terputus hatinya, maka tidak ada lagi hasrat untuk kebaikan. Hatinya tidak terdorong untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan beriman kepada rasul-rasul-Nya. Terputus amal-amalnya, maka hidupnya tidak digunakan dalam ketaatan. Terputus dari pertolongan, maka tidak ada baginya penolong dan tidak pula pembantu. Terputus dari semua amal-amal shalih, maka dia tidak merasakan amalan-amalannya sebagai kelezatan dan sesuatu yang manis. Sekalipun dzahirnya melaksanakan amalan, akan tetapi hatinya tidak bisa merasakan. Inilah balasan bagi orang yang membenci ajaran Rasul serta menolaknya karena mengikuti hawa nafsunya atau gurunya atau pemimpinnya atau orang tuanya.

    Orang-orang yang membenci ayat-ayat dan hadits-hadits (tentang) sifat-sifat Allah dan menta’wilnya dengan cara yang tidak dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya atau membawanya sesuai dengan madzhab kelompoknya atau dia berangan-angan agar ayat-ayat sifat tidak diturunkan dan hadits-hadits sifat tidak diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ….apabila mereka mendengar ayat-ayat atau hadits-hadits itu dijadikan dalil oleh Ahlu Sunnah kepada kebenaran, hati mereka sempit, dan mereka ingin lari darinya. Tanda apa lagi yang lebih nyata yang menunjukkan kebencian mereka kepada Rasul daripada tanda tersebut?… Begitu juga orang-orang yang melebihkan ucapan manusia dan ilmu-ilmu mereka di atas Al Qur’an dan As-sunnah. Kalau bukan karena kebencian mereka kepada ajaran Rasul, untuk apa dia berbuat seperti itu, bahkan sampai-sampai sebagian mereka ada yang melupakan Al Qur’an yang telah dihafalnya, laiu menyibukkan diri dengan ucapan fulan dan fulan….

    Hati-hatilah, wahai manusia. Janganlah kalian membenci ajaran Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam atau menolaknya karena hawa nafsumu atau karena membela madzhab atau gurumu atau karena kesibukanmu dengan nafsu-nafsu duniawi. Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan seseorang taat kepada orang lain selain kepada Rasul-Nya dan agar mengambil apa-apa yang didakwahkannya. Sekiranya ada seseorang yang menyelisihi semua makhluk untuk mengikuti Rasul, Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban atas tindakannya yang menyelisihi semua orang itu. Dan seseorang ditaati selama dia mengikuti Rasul. Kalau dia memerintah kita untuk menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Rasul, tidak perlu kita taati.

    Ketahuilah semua itu. Dengarkanlah dan taatilah, ikuti ajaran Rasul! Janganlah kalian membuat-buat bid’ah yang akan menjadikan amalanmu tertolak. Tidak ada kebaikan sama sekali dalam amalan yang tidak mengikuti tuntunan Rasul. Wallahu A’lam." [Majmu' Fatawa (16626-529)]

    [Diambil dari kitab Sittu Duror min Ushuul Ahlil Atsar, Penulis Asy Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi, Penerbit Maktabah Al Ilmiyah, Judul Asli: Landasan keempat - Kemuliaan Hanya Dapat Dicapai Dengan limu]

    T A M M A T

  • Pilih Kategori

  • Jumlah Klik

    • 653,737 hits .. sejak 3 Sya'ban 1428 H | 16 Agust 2007
  • Indeks Sunniy

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 294 pengikut lainnya.