Hidayah Itu Mahal

Al Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Pernahkah terpikirkan bahwa kita tengah berada dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang dihalangi untuk memperolehnya ?

Kita bisa tahu ajaran yang benar dari agama Islam ini. Tahu ini haq, itu bathil…ini tauhid itu syirik…ini sunnah itu bid’ah… Lalu kita dimudahkan untuk mengikuti yang haq dan meninggalkan yang bathil. Sementara banyak orang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang sesat atau ada yang tahu tapi tidak dimudahkan baginya untuk mengamalkan al haq, malah ia gampang berbuat kebathilan. wal iyadzu billah

Kita dapat berjalan mantap dibawah cahaya terang benderang, sementara banyak orang yang tertatih meraba dalam kegelapan.

Kita tahu apa tujuan hidup kita dan kemana kita kan menuju, sementara ada orang orang yang tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Bahkan kebanyakan mereka menganggap, mereka hidup hanya untuk dunia, sekedar makan, minum dan bersenang senang didalamnya.

Apa namanya semua yang kita miliki ini wahai saudaraku, kalau bukan anugerah terbesar, nikmat yang tiada ternilai ? Inilah hidayah dan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada jalan-Nya yang lurus.

Dalam tanzil-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus." (Al Baqarah: 213)

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al Utsaimin rahimahullah, menerangkan dalam tafsirnya bahwa hidayah di sini maknanya adalah petunjuk dan taufiq. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala maka mesti mengikuti hikmah-Nya. Siapa yang beroleh hidayah maka memang ia pantas mendapatkannya (Tafsir Al Qur’anil Karim, 3/31).

Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan ayat "wa Huwa a’lamu bil muhtadiyn", beliau hafizhahullah berkata, "Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meletakkan hidayah di dalam hati kecuali kepada orang yang pantas mendapatkannya. Adapun orang yang tidak pantas memperolehnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya beroleh hidayah tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan hidayah hati kepada setiap orang, namun hanya diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya berhak mendapatkannya dan dia memang pantas. Sementara  orang yang Dia ketahui tidak pantas beroleh hidayah dan tidak cocok, maka diharamkan dari hidayah tersebut."

Asy Syaikh yang mulia melanjutkan, "Di antara sebab terhalangnya seseorang dari beroleh hidayah adalah fanatik terhadap kebatilan dan semangat kesukuan, partai, golongan, dan semisalnya. Semua itu menjadi sebab seseorang tidak mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang kebenaran telah jelas baginya namun tidak menerimanya, ia akan dihukum dengan terhalang dari hidayah. Ia dihukum dengan penyimpangan dan kesesatan, dan setelah itu ia tidak dapat menerima al haq lagi. Maka disini ada hasungan kepada orang yang telah sampai al haq kepadanya untuk bersegera menerimanya. Jangan sampai ia menundanya atau mau pikir pikir dahulu, karena kalau ia menundanya maka ia memang pantas diharamkan atau dihalangi dari hidayah tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

"Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati hati mereka." (Ash Shaff: 5)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

"Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan yang sangat." (Al An’am: 110)

[I'anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid 1/357]

Perlu engkau ketahui, hidayah itu ada dua macam:

Pertama

Hidayah yang bisa diberikan oleh mahkluk, baik dari kalangan para nabi dan rasul, para da’i atau selain mereka. Ini dinamakan hidayah irsyad (bimbingan), dakwah, dan bayan (keterangan). Hidayah inilah yang disebutkan dalam ayat,

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) benar benar memberi hidayah kepada jalan yang lurus." (Asy Syura: 52)

Kedua

Hidayah yang hanya bisa diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak selain-Nya. Ini dinamakan hidayah taufiq. Hidayah inilah yang ditiadakan pada diri Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam terlebih selain beliau, dalam ayat,

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki." (Al Qashash: 56)

Yang namanya manusia, baik ia da’i atau selainnya, hanya dapat membuka jalan dihadapan sesamanya. Ia memberikan penerangan dan bimbingan kepada mereka, mengajari mereka mana yang benar, mana yang salah. Adapun memasukkan orang lain ke dalam hidayah dan memasukkan iman ke dalam hati, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya karena ini hak Allah Subahanhu wa Ta’ala semata.

[Al Qaulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, sebagaimana dinukil dalam Majmu' Fatawa wa Rasa'il beliau, 9/340-341]

Saudaraku, bersyukurlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan dua hidayah yang tersebut di atas. Karena berapa banyak orang yang telah sampai kepadanya hidayah irsyad, telah sampai padanya dakwah, telah sampai padanya al haq, namun ia tidak dapat mengikutinya karena terhalang dari hidayah taufiq. Sementara dirimu, ketika tahu al haq dari al bathil segera engkau pegang erat yang haq tersebut dan engkau hempaskan kebathilan sejauh mungkin. Berarti hidayah taufiq dari Rabbul Izzah menyertaimu. Tinggal sekarang, hidayah itu harus engkau jaga karena ia sangat bernilai dan sangat penting bagi kehidupan kita. Ia harus menyertai kita bila ingin selamat didunia terlebih di akhirat. Bagaimana tidak? Sementara kita di setiap rakaat dalam shalat diperintah untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hidayah kepada jalan yang lurus,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

"Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada  jalan yang lurus." (Al Fatihah: 6)

Bila timbul pertanyaan: bagaimana seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu shalatnya dan di luar shalatnya sementara mukmin berarti ia telah beroleh hidayah? Bukankah dengan begitu berarti ia telah meminta apa yang sudah ada pada dirinya?

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah memberikan jawabannya: Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing hamba-hamba-Nya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam. Seorang hamba butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah agar hidayah itu bertambah dan terus menerus dimilikinya. Karena seorang hamba tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak dapat menolak kemudharatan dari dirinya, kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki. Allah Azza wa Jalla pun membimbing si hamba agar di setiap waktu memohon kepada-Nya pertolongan, kekokohan dan taufiq. Orang yang bahagia adalah orang yang diberi taufiq oleh Allah Azza wa Jalla untuk memohon hidayah karena Allah Azza wa Jalla telah memberikan jaminan untuk mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di penghujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya. Ini sebanding dengan firman Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ

"Wahai orang orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…" (An Nisaa: 136)

Dalam ayat ini Allah Azza wa jalla memerintahkan orang orang yang telah beriman agar tetap beriman. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar tetap tsabat (kokoh), terus menerus dan tidak berhenti melakukan amalan amalan yang dapat membantu seseorang agar terus di atas keimanan. Wallahu A’lam

[Tafsir Al Qur'anil 'Azhim, I/38]

Berbahagialah dengan hidayah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqomahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah Azza wa Jalla. Hadirilah selalu majlis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah Azza wa Jalla. Bergaullah dengan orang orang shalih dan jauhi orang orang yang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua itu sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan kepadamu. Satu lagi yang penting, jangan engkau jual agamamu karena menginginkan dunia karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali kali janganlah engkau kembali kebelakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama. Ingatlah,

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

"Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?" (Yunus: 32)

Kata Al Imam Al ‘Allamah Muhammad Jamaluddin Al Qosimi rahimahulloh, " Kebenaran dan kesesatan itu tidak ada perantara antara keduanya. Maka siapa yang luput dari kebenaran mesti ia jatuh dalam kesesatan." (Mahasinut Ta’wil 6/24)

Lalu apa persangkaanmu dengan orang yang tahu kebenaran dari kebathilan, semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di dalam hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red) dan lisan hal nya mengatakan ’selamat tinggal kebenaran’?

Wallahul Musta’an. Sungguh syaitan telah berhasil menipu dan menghempaskannya ke jurang yang sangat dalam.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amiin Ya Robbal ‘Alamiin…

WAllahu A’lam Bish Shawab

[Dinukil dari majalah Asy Syariah No. 50/V/1430 H/2009]

Sumber: http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/untaian-nasehat/hidayah-itu-mahal/