Abu Harun As Salafy
Ada-ada saja masyarakat kita ini, hidup di jaman yang jauh dari jamannya generasi terbaik umat ini (baca: salafus shalih) membuat hati miris karena kalau tidak disikapi dengan hilm dan rifq bisa-bisa terjadi benturan yang tidak kita inginkan. [1]
Di suatu hari di tengah forum rapat di kantor RW terjadi silang pendapat mengenai suatu persoalan. Pada saat itulah aku mengacungkan jariku dan berkata, "Bismillah, perkenalkan saya warga baru di sini, nama saya Abu Harun. Begini pa, ttg yang kita bicarakan ini saya mau memberikan usul atau masukan……". Pak RW berkata, "ya silahkan pak Abu" ^_^ $#@%
Sejak saat itulah aku dipanggil pak Abu, ketika ketemu di jalan disapa dengan pak Abu. ^_^ (lhoh..lhoh…). Demikian pula ketika pemilihan ketua RT kemarin, moderator berkata, "Bapak dan ibu sekalian, telah kita sepakati bahwa yang terpilih menjadi ketua RT [2] peride depan adalah bapak Abu" ^_^ $#@%
Padahal kan "Abu" adalah bagian dari nama kun yah, artinya bisa jadi "bapaknya". Kalau disebut pak Abu berarti, "pak bapaknya". ihiks..
Merembet juga nih kepada istriku, Ummu Harun, kadang2 tetangga manggil dengan "bu Ummu", yang lebih kucu lagi pernah dipanggil "bu Abu". hihihihihi $#@%
Istriku, Ummu Harun berkata, "Abi, masa ada tetangga kita yang pernah mengira kalau kita adalah temannya Amrozi. Kemarin dia bilang kita temannya Nurdin M. Top" ^_^ $#@%
Kataku, "Truss kamu bilang apa sama mereka?"
Jawab istriku, "Aku jawab aja: bu, tahu gak kalau Amrozi dan Nurdin M. Top itu kagak pernah gaul, mereka ngedekem di rumah aja. Lha ibu tahu sendiri kegiatan suami saya. Lha saya sendiri setiap sore ngajar TPA di masjid [3], setap pagi ada di depan rumah sambil nyuapin si kecil."
Sambungnya, "Alhamdulillah tetangga depan rumah kita ngebelain, "iya nih.. sembarangan, ati-ati kalo ngomong" ^_^ $#@%
Yaaah.. demikianlah fenomea masyarakat kita, tugas kita hendaknya menjelaskan kepada mereka tentang hal-hal yang belum mereka pahami. Hendaknya kita meluruskan kesalahan mereka akibat ketidak tahuan mereka. Dan persoalan-persoalan seperti ini yang paling paham adalah ulama, ahli ilmu. Maka wajib bagi setiap Muslim untuk dekat kepada ahli ilmu, mendiskusikan problematika muamalah dengan mereka adalah sumber mata air yang berharga.
Kalau kita bertindak sendiri, berijtihad sendiri bisa jadi kita akan salah, keluar dari jalur. Jangan sampai kita menyikapinya dengan ifrath (bermudah-mudahan) atau tafrith (berlebih-lebihan).
Sekali lagi, urusan kemasyarakatan diskusikanlah dengan ahli ilmu.
Wallahu a’lam.
____________
Footnote:
[1] Sebagaimana yang Allah fimankan,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (Ali Imran: 159)
[2] Mohon nasihatnya (klik) Akupun Terpilih Menjadi Ketua RT
[3] Cuma berjalan dua minggu, awalnya istriku mengira itu TPA umum dikelola orang awam. Makanya bersedia ngajar di sana. Kemudian barulah tahu kalau ternyata TPA tersebut dikelola oleh hizbiy (kerjasama antara PKS, Persis, dan Harokah Sunniyah). Setelah tahu langsung deh keluar baik-baik dari sana, ndak mau ngajar lagi.
Filed under: Akhlak Salaf, Potret Keluarga, Urgensi Dakwah
















islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dianggap asing beruntunglah orang2 yang dianggap asing
ingat masuk kedalam system bukanlah cara dakwah rasulullaah, kita memang wajib ta’at kepada penguasa pada perkara yang ma’ruf, tapi kita bukanlah penjilat yang haus kekuasaan.
Makanya buat Abu Harun, yang biasa-biasa saja sesuai dengan keindonesiaan, dengan budaya kedaerahan yang indah.
Islam ya Islam, tapi Islam bukan Arab atau kearab-araban. Nggak usah lha pake idiom-idiom Arab seperti akhi, uthi, ya seperti anda: Abu, Ummi.) Rasanya lebih pas, indah dan hormat kalau kita sebut: mas, mbak, pak lik, bu lik, pak de, bu de, bapak, ayah, ibu, bunda, biyung, eyang. uda, paman, bibi, teteh, aak, adik, kakak, uwak, aki, encing, nenek, kakek, buyut dst
Sayapun Islam tapi bukan Arab dan menggunakan idiom-idiom Arab kearab-araban.Sekali lagi Islam bukan Arab.
assalamu’alaikum akh…
semoga dengan ilmu yg akh…miliki berkah di dunia dan akhirat”amiiin”
saya orang indo tapi saya tinggal di Taiwan ,jadi blog akh…online ke internasional dong.
semoga dengan membuka dan membaca di blog akh…bisa bawa manfaat untuk saya dalam mempertahankan iman islam”amiin”
wassalamu’alaikum wr .wb
Makanya sangat naif kalau kita mengambil sebagian kata dan menolak sebagian kata yang lain.
Membaca komentar si Abu ini saya koq jadi geli, kenapa, rasanya bukanlah hendak menyerap sebagian arab sebagian enggak, tapi akhir-akhir ini yang saya lihat secara demonstratif ingin menunjukkan bahwa inilah Islam….
Tapi yang nampak bukan wajah Islam, tapi wajah arab.
Haruskah islam itu arab ?????????
Bismillah..
Hanya usul, lebih baik komentar yang masuk difilter, tidak harus semuanya di-publish, karena bisa jadi hanya akan menimbulkan debat kusir, atau pun tercetus fitnah (perpecahan) di antara kaum muslimin.
Barakallahu fiikum
assalamualaikum,
jangan sampai kita (yang menisbahkan diri lebih dekat kepada ilmu dibanding “orang awwam”) ikut-ikutan lucu …
mengekpose diri terhadap permasalahan ummat (meski hanya se level RT misalnya ..) tetapi kita justru masih kebingungan atau hilang kesabaran dalam menghadapinya …
jangan kan jadi ketua rt, bahkan ikut rapat rutin sebagai warga rt saja tidak selalu mudah untuk menghandel permasalahan (syar’i) yang muncul di dalamnya …
sabar dalam istiqamah diatas al haq, dan arif/penuh hikmah dalam menjelaskan kepada mereka … serta banyak-banyak bertanya kepada ahli ilmu, dan mohon pertolongan kepada Allah tentunya, agar tidak ikut-ikutan lucu …
allahu a’lam
wassallamualaikum
Biasanya orang yang selalu mencibir, mencaci maki orang lain, hampir dipastikan ilmunya masih kurang dan masih banyak yang harus dia pelajari. makanya kalau anda melihat Imam Syafie dan Imam Malik tidak pernah mengklaim bahwa pendapat mereka yang benar tentang qunut Subhuh, yang sering ribut adalah para manusia yang ilmunya baru secuil.
Ketika antum mengatakan,
ketahuilah bahwa itu salah satu bentuk mencibir, mencaci maki orang lain. Ingat tadi antum berkata,
Oleh karena itu yuk sama-sama kita belajar dan jangan suka mengkritik orang lain, apalagi mengkritik Ahlus Sunnah. kritikan Ahlus Sunnah adalah karena rasa cinta mepada agama yang sduah dirubah-rubah sebagian manusia akhir jaman ini, adapun kritikan ahlul bid’ah kepada ahlus sunnah karena kedengkian mereka dan kesombongan mereka yang mereasa paling benar sehingga gak suka dikritik.
Berpikirlah dewasa, saudaraku.
yo wis, dewek-dewek wae. ora sah dialemi, podo-podo islame. ati-ati loh, kalo sih ngerasa paling baik tar malah jadi iblis lo..”ana khoyrum minhu=saya lebih baik dari Adam
a.s“. ok coooy…i love you full..ha.ha.ha. (oya, mohon maaf pak abu, ana lagi nyari istri, umur dah 28 th, tapi yang mau dipakein purdah. jenengan punya channel ga?)Adam Alaihis salam, yang lengkap laah jangan disingkat singkat. Akhwat pakai burdah banyak di sini, sampeyan musti ngaji dulu takutnya akhwatnya yang ndak mau… ihiks..
Assalamu’alaykum
Apa kabar, Saudaraku? Masih ingat saya? Saya telah kembali ke kota kita nih (sementara). Menyoal hal di atas, antum udah kasih tau ke mereka kan, identitas antum yang sebenarnya? Nama legal antum sesuai KTP/dokumen (bukan kunyah) udah mereka tahu blm?
assalamu’alaykum..
wah lucu juga ya akh,hehehe..
oh iya salam kenal ya, sering mampir tapi belum pernah kasih komen.
ana ikhwan salafy di purwokerto, tapi sekarang lagi kuliah di malaysia.
Menurut ane, Pak RW nya benar dan antum yang salah, karena antum sendiri yang mengatakan “nama saya Abu Harun” bukan “nama kunyah saya Abu Harun” sehingga wajar pak RW menyangka nama antum Abu Harun, karena nama disini adalah nama yang legal bukan kunyah, menurut ane lebih baik mengatakan nama asli dulu sesuai akte kelahiran, baru setelah itu mengatakan nama Kunyah, boleh2 saja menggunakan Kunyah, tapi juga lihat kondisi sekitar, sehingga syiar islam berupa Kunyah itu menjadi tepat sasaran dan tidak menimbulkan kesan lucu bagi antum dan masyarakat sekitar. Wallahualam.
Sebagai pendatang baru pertama kali di kampung harus lapor terlebih dahulu ke RT, RW malah ikut rapat terlebih dahulu mangkanya Pak RW mengatakan ” ya silahkan pak Abu , maka yang salah anda atau Pak RW biasanya pendatang baru di kampung syukuran mengundang tetangga untuk mengenalkan diri dan keluarganya agar bisa menjadi warga kampung
Sebagai pendatang baru lapor pada RT dan RW terlebih dahulu atau ikut forum rapat di kantor RW terlebih dahulu padahal pendatang baru belum terdaftar sebagai warga.
Pemilihannya dengan voting ya akh ?? terus nanti gimana kalau disuruh ngadain peringatan 17 agustus, bikin lomba karaoke atau lomba masak ibu-ibu???
Antum ada-ada aja…. ana baru tau ada Salafy jadi RT di masyarakat Umum