Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Kemudian setelah fitnah ini, ada yang mendapatkan nikmat kubur atau adzab kubur
Kata "Kemudian" di sini mengandung arti berurutan, tidak ada selangnya. karena manusia itu diadzab atau dieri nikmat secara langsung (setelah diuji -pent).
Sebagaimana yang telah berlalu, bila seorang mayit berkata, "Saya tidak tahu", maka dia akan dipukul dengan mirzabah dan di sana juga ada mayit yang menjawab dengan benar maka dibukakan pintu ke surga untuknya dan dilapangkan kuburnya. Maka ini adalah nikmat atau adzab kubur, apakah hal ini ditimpakan kepada badan atau ruh saja? atau ruh bersama dengan badan?
Kita katakan: Yang ma’ruf menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa pada asalnya adzab itu ditimpakan atas ruh, sedangkan badan itu sekedar mengikuti ruhnya saja. Sebagaimana adzab di dunia itu menimpa badan dan ruhnya hanya mengikuti saja, sebagaimana hukum-hukum syar’iyyah di dunia itu atas zhahirnya dan di akhirat itu sebaliknya.
Maka di alam kubur, adzab atau nikmat kubur itu terjadi pada ruh akan tetapi jasad itu terpengaruh dengannya dan mengikutinya, jadi tidak secara langsung.
Dan terkadang adzab itu terjadi pada badan dan ruh itu mengikutinya, akan tetapi hal ini tidak terjadi kecuali jarang sekali. Sesungguhnya pada asalnya adzab itu terjadi pada ruhnya, dan badan sekedar ikut. Demikian pula kenikmatan itu terjadi pada ruh dan badan cuma ikut saja.
[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh 'Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 42-43]
Filed under: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah















