Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
… kecuali manusia.
Yakni bahwasanya manusia tidak mendengar teriakan tersebut (teriakan orang yang disiksa di dalam kubur) karena beberapa hikmah:
Pertama: seperti yang diisyaratkan nabi Shallallahu’alaihi wasallam dengan perkataan beliau,
"Kalaulah seandainya kalian tidak saling menguburkan, niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar Allah memperdengarkan adzab kubur kepada kalian." (Riwayat Muslim no. 2867 dari Zaid bin Tsabit Radhiallahu’anhu)
Kedua: dirahasiakannya hal tersebut untuk menutup rahasia atau aib-aib mayit.
Ketiga: agar keluarganya tidak selalu bersedih, karena jika keluarganya mendengar sang mayit diadzab dan berteriak, maka mereka tidak akan tenang hidupnya.
Keempat: agar keluarganya tidak menanggung malu, karena manusa akan berkata, "Inilah anakmu, inilah bapakmu, inilah saudaramu…." dan sebagainya.
Kelima: sesungguhnya kita akan binasa karena suara teriakan tersebut sangatlah tidak menyenangkan, bahkan suara tersebut dapat merontokkan jantung dari uratnya, maka manusia akan mati atau pingsan karenanya.
Keenam: kalau manusia dapat mendengar teriakan orang-orang yang diadzab, maka beriman dengan adzab kubur merupakan keimanan terhadap sesuatu yang nampak, bukan iman dengan hal ghaib lagi, sehingga ketika itu tidak ada manfaatnya lagi ujian. Karena manusia itu akan beriman dengan segala sesuatu yang dia saksikan dengan pasti, manakala hal tersebut tidak nampak darinya. Dan mereka tidak akan mengetahuinya kecuali dengan jalan pengkabaran sehingga menjadi termasuk bab beriman dengan hal ghaib.
Peringatan
Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Maka dia akan berteriak yang segala sesuatu bisa mendengarnya kecuali manusia, kalau manusia mendengarnya niscaya akan pingsan.
Sesungguhnya ada riwayat perkataan beliau (yang segala sesuatu bisa mendengarnya kecuali manusia, kalau manusia mendengarnya niscaya akan pingsan) tentang kisah perkataan jenazah ketika telah diangkat oleh manusia di pundak-pundak mereka, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam,
Abu Sa’id al-Khudri Radiallahu’anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Apabila jenazah diletakkan dan orang-orang mengangkatnya di atas pundak mereka, jika jenazah itu baik, maka ia berkata, ‘Cepatkanlah aku, cepatkanlah aku.’ Dan, jika jenazah itu tidak baik, maka ia berkata kepada keluarganya, ‘Wahai celakanya, hendak ke manakah kalian pergi membawaku?’ Segala sesuatu mendengarnya kecuali manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya ia pingsan." (Riwayat Bukhari)
Adapun tentang teriakan dalam kubur, berkata nabi Shallallahu’alaihi wasallam,
Anas Radhiallahu’anhu mengatakan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya manusia apabila diletakkan di dalam kuburnya, setelah teman-temannya berpaling dan pergi darinya sehingga ia mendengar ketukan bunyi sandal mereka, lalu datanglah dua orang malaikat. Kemudian mereka mendudukkannya dan bertanya kepadanya, ‘Apakah yang kamu katakan dahulu ketika di dunia tentang orang ini, Muhammad?’ Adapun orang yang beriman menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantikannya untukmu dengan tempat duduk di surga.’ Lalu ia melihat keduanya (surga dan neraka). (Qatadah berkata, ‘Dan diterangkan kepada kami bahwa orang itu dilapangkan di dalam kuburnya.’) Adapun orang kafir atau munafik maka ditanyakan kepadanya, ‘Apa yang engkau katakan mengenai Muhammad ini?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak tahu. Aku dulu mengatakan apa yang dikatakan oleh orang-orang.’ Maka, dikatakan kepadanya, ‘Kamu tidak tahu dan tidak mau membaca.’ Kemudian ia dipukul dengan mirzabah (palu dari besi) di antara kedua telinganya. Lalu, ia berteriak sekeras-kerasnya yang didengar oleh apa yang didekatnya selain jin dan manusia." (Riwayat Bukhari)
[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh 'Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 38-41]
DIarsipkan di bawah: Aqidah Ahlus Sunnah, Syarah Aqidah Al Wasithiyah















