• Kalender Hijriyah

    KALENDER HIJRIAH
  • Barokallahu fiikum


  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

    "Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Al Fatawa 4/149)

  • Yusuf Al Qaradhawi Berusaha Men-Salaf-kan Sufiyah dan Men-Sufi-kan Salafiyah

    asy Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini Al Yamani

    Harian Al Wathan edisi 51 yang terbit pada 23 Oktober 1995 memuat wawancara dengan Qaradhawi. Diantara pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sebagai berikut :
    “Tema apakah yang tengah menjadi keprihatinan Dr. Qaradhawi dan tengah digarap penulisannya saat ini?” Qaradhawi menjawab :
    Aku sekarang mempunyai empat buah kitab yang hampir selesai, tiga di antaranya tentang tasawuf, akhlak, dan fiqh suluk yang merupakan awal dari rangkaian permasalahan yang ingin aku tulis. Aku menimbangnya sesuai dengan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah dan pendapat para ulama Salafus Shalih. Jauh dari penyimpangan orang-orang yang bathil dan pentakwilan orang-orang yang jahil dan ini adalah manhajku seiring dengan manhaj Al Wasath (pertengahan) yang tidak menolak tasawuf secara mutlak dan tidak menerimanya dengan segala aib dan boroknya. Aku berusaha untuk mensalafkan sufiyah dan mentasawufkan salafiyah. Dalam arti berusaha membaurkan keduanya.
    Ada sebagian Salafiyin yang keras menentang tasawuf secara keseluruhan. Sementara itu ada pula orang-orang sufi yang tidak konsekwen dalam berpikir dan berperilaku dalam melawan arus (dakwah) Salafiyah. Aku ingin untuk memberi masukan pada kedua pemikiran tersebut antara satu dengan yang lainnya. Atas dasar inilah aku menulis ketiga buku ini, yang pertama tentang Ar Rabbaniyah dan ilmu, yang kedua ilmu dan Al Ikhlas, dan yang ketiga tentang tawakal kepada Allah.

    Wahai pembaca, lihatlah orang ini dan pemikiran yang dibawanya, bagaimana dia berusaha untuk menyatukan dua hal yang berlawanan, Sufiyah dan Salafiyah. Salafiyah berdiri di atas tauhid dengan ketiga macamnya (Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ was Shifat) sedangkan Sufiyah adalah suatu keyakinan yang berdiri di atas syirik kepada Allah dalam ke-Uluhiyah-an-Nya. Mereka berkeyakinan bahwa kubur dan orang-orang mati dapat memberikan madharat dan manfaat.

    Manhaj Salafiyah tegak berdasarkan pengagungan terhadap ilmu yang bermanfaat sedangkan Sufiyah mengingkari ilmu dan mengatakan pada orang-orang yang sibuk dengan ilmu :
    “Bagi kalian ilmu dalam kertas dan bagi kami ilmu mukjizat (ghaib). Kalian berkata Abdurrazzaq menceritakan kepada kami sedangkan kami mengambil ilmu dari Sang Pencipta.”

    As Sufiyah mengingkari ilmu dan menjauhinya sedangkan As Salafiyah menuntut ilmu dan mengagungkannya, maka terjadilah perbedaan yang jelas antara kedua kelompok ini, di antaranya :
    1. Bahwa Salafiyah manhajnya ditegakkan berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dan mengambil agama dari keduanya sesuai pemahaman Salafus Shalih. Sementara Sufiyah manhajnya berdasarkan mimpi, angan-angan, dan ilham (wangsit) yang mereka dakwakan.

    2. Bahwa manhaj Salaf ditegakkan berdasar pengagungan terhadap perkataan dan perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedangkan semua perkataan dan perbuatan dari selain Nabi bukanlah hujjah selama tidak ada sunnah yang menguatkannya. Firman Allah :

    اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

    “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikit kamu mengambil pelajaran.” (Al A’raaf : 3)

    Sedangkan Sufiyah manhajnya didasarkan pengagungan terhadap pribadi-pribadi dan para syaikh thariqah serta tunduk dan patuh kepada mereka, yakni hendaknya seorang murid di hadapan syaikhnya bagaikan mayat di tangan orang yang memandikannya.

    3. Manhaj Salafiyah dalam bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersikap zuhud senantiasa berlandaskan Al Kitab dan As Sunnah berdasarkan pemahaman Salafus Shalih. Sedangkan manhaj Sufiyah dalam masalah ini bertentangan dengan Al Kitab dan As Sunnah dan pemahaman Salaf sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Talbiisul Ibliis.

    Maka bagaimanakah bisa disatukan antara Al Haq dengan Al Bathil atau bisakah disatukan antara kegelapan dan cahaya? Lalu apakah perbuatan Qaradhawi yang semacam ini telah dilakukan oleh ahli ilmu yang mengikuti manhaj Salaf terlebih dahulu? As Sufiyah bukanlah pemikiran baru yang belum diketahui oleh para ulama Salaf. Pemikiran bid’ah ini telah muncul sejak zaman dahulu (masa-masa awal perkembangan Islam). Kendati demikian, tidak pernah diketahui bahwa para ulama Salaf tersebut berusaha menyatukan antara jalan Salaf dan jalan Sufi padahal mereka sangatlah bersemangat dalam kebaikan. Bahkan sebaliknya, justeru mereka memperingatkan umat terhadap bahaya Sufiyah dan orang-orangnya.

    Hal ini tidaklah mengherankan wahai saudara pembaca, karena Qaradhawi telah menyatakan berloyal kepada firqah Ikhwanul Muslimin yang imamnya adalah Hasan Al Banna, seorang penganut thariqah As Sufiyah Al Hashafiyah yang telah menyatakan bahwa dakwah Ikhwan adalah dakwah Sufiyah! Bahkan ia biasa pergi ke kuburan para syaikh thariqah Sufiyah Hashafiyah, menghabiskan waktu yang lama untuk mengambil berkah sebagaimana telah dia ceritakan sendiri.

    Jika demikian perilaku imam dari firqah ini maka dapat Anda bayangkan bagaimana perilaku para pengikutnya. Adapun Qaradhawi secara khusus telah menyatakan terang-terangan bahwa dia merasa cukup dari thariqah Sufiyah dengan mengikuti thariqah Ikhwaniyah. Ia pun merasa cukup dengan syaikh firqah Al Ikhwan daripada mengikuti masyayikh thariqah-thariqah yang ada. Inilah perkataannya :
    Dan sesungguhnya dahulu tasawuf bagiku adalah pemikiran, ruh dan akhlak, dan bukan membaiat syaikh atau mengikuti satu thariqah dari berbagai thariqah sufiyah yang terkenal karena sesungguhnya telah cukup bagiku dakwah Ikhwan dari thariqah-thariqah ini. Serta cukuplah bagiku imamnya (yakni imam Ikhwanul Muslimin) dan para sahabatnya daripada mencari syaikh yang resmi dari para masyayikh thariqah. (Harian Asy Syarqul Ausath, 15 Ramadhan 1416 H/4 Februari 1996 M)

    Dan adapun buku-buku yang ia umumkan akan ia tulis di atas pemahaman ini maka apabila telah beredar semakin memperjelas kepada kita tentang tasawufnya Qaradhawi dan penyimpangannya.

    [Dinukil dari Kitab Raf'ul Litsaam 'An Mukhaalaafatil Qaradhawi Li Syari'atil Islaam, edisi Indonesia Membongkar Kedok Al Qaradhawi Bukti-bukti Penyimpangan Yusuf Al Qardhawi dari Syari'at Islam. Diterbitkan Masyarakat Belajar Depok]

  • Pilih Kategori

  • Jumlah Klik

    • 653,737 hits .. sejak 3 Sya'ban 1428 H | 16 Agust 2007
  • Indeks Sunniy

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 294 pengikut lainnya.