|
Disampaikan dalam episode sebelumnya: …… Di antara ciri Ahlus Sunnah adalah mencintai seluruh sahabat dan bersikap adil terhadap mereka, membaca biografi mereka dan biografi ulama setelah mereka untuk diambil nilai-nilai zuhud, akhlak, ibadah, tawadhu, dan keluhuran lainnya. Ibnu Abbas mulai menceritakan kepada kita bagaimana kisah hidup Salman Al Farisi dalam mencari al haq, yang beliau dengar langsung dari bibir Salman Al Farisi Radhiallahu’anhuma. |
Al Ustadz Abu Nashim Mukhtar
Episode 2
…… Kata Salman Al Farisi, “Aku adalah orang Persia, dan aku tinggal di suatu tempat yang bernama Asfahan di desa Jayyu. Ayahku seorang tokoh di desaku dan aku adalah makhluk Allah Subhanahu wata’ala yang paling dicintainya. Ia amat mencintaiku sehingga aku dipingit di dalam rumah sebagaimana anak gadis dipingit dalam rumah. Aku ketika itu beragama penyembah api (majusi) dan aku memiliki tugas khusus menjaga api yang harus senatiasa menyala terus dan tidak boleh padam sesaatpun.
Akal manusia yang jauh dari ilmu syar’i adalah akal yang buruk dan rusak. Walaupun demikian cerdas seseorang ketika ia tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala maka dia dikatakan sebagai orang yang paling bodoh. Orang yang membenci tauhid, memusuhi dakwah tauhid, selalu berbuat kesyirikan dan kebid’ahan walaupun dia memilki berbagai macam gelar tetap ia adalah orang yang paling bodoh. Kebodohan dan kepintaran diukur dengan seberapa kuatnya kita mentaati perintah Allah Azza wajalla walaupun kita tidak punya gelar, bukan seorang sarjana. tetapi tatkala kita siap tunduk, taat, patuh kepada syariat Allah Subhanahu wata’ala maka kita termasuk orang-orang yang pintar dan cerdas.
Ayahku mempunyai ladang yang sangat luas, pada suatu saat ayahku tersibukkan dengan bangunan, sehinga berkata kepadaku: "Anakku. pada hari ini aku sibuk dengan bangunan ini hingga tidak mempunyai waktu untuk mengurusi ladangku. Oleh karena itu pergilah kamu ke ladang!" Ayahku memerintahkan beberapa hal yang perlu aku kerjakan, kemudian berkata kepadaku: "Jangan terlambat pulang kepadaku, engkau lebih berarti bagiku daripada ladangku dan engkau membuatku lupa segala urusan yang ada." Kemudian aku pergi menuju ladang ayahku seperti diperintahkan ayahku. Dalam perjalanan menuju ladang ayahku, aku melewati salah satu gereja milik orang-orang Nasrani, dan aku dengar suara-suara mereka ketika mereka beribadah di dalamnya. Aku tidak tahu banyak persoalan manusia, karena aku dipingit ayahku di rumah, ketika itu aku mendengar suara-suara mereka, aku masuk kepada mereka untuk melihat dari dekat apa yag mereka kerjakan di dalamnya. Ketika aku melihat mereka, aku kagum terhadap ibadah-ibadah mereka dan tertarik kepada kegiatan mereka.
Orang-orang nashrani yang disebutkan di sini adalah orang-orang Nashrani yang masih mengikuti millah nabi ‘Isa ‘Alaihissalam, masih teguh memegang ajaran nabi ‘Isa ‘Alaihissalam. Bertauhid kepada Allah Ta’ala, berpegang kepada injil yang masih murni dan suci, bukan injil yang telah dirubah dan dipalsukan seperti zaman ini.
… dan kataku dalam hati: “Demi Allah, agama mereka ini lebih baik dari pada agama yang aku peluk." Demi Allah! aku tidak tinggalkan mereka sampai matahari terbenam.
Kepuasan hati dan ketenangan hati akan dirasakan seorang hamba tatkala dia melihat ibadah dan ketaatan kepada Allah Azza wajalla. Ketika hati seorang Muslim cenderung merasa dekat dengan syariat Allah, maka dia akan merasakan ketenangan.
Aku membatalkan pergi ke ladang ayahku, aku berkata kepada mereka (orang-orang Nasrani tersebut): "Agama ini berasal dari mana?” Mereka menjawab. "Dari Syam."
Salman Al Farisi berusaha mencari di mana akan didapatkan al haq (kebenaran) untuk mendapatan ketenangan hati.
Setelah itu, aku pulang ke rumah dan ternyata ayahku mencariku, dan aku membuatnya tidak mengerjakan pekerjaannya.
Subhanallah, seorang ayah jika cinta kepada anaknya memanglah demikian, hatinya tidak akan tenang melihat putra-putrinya tidak jelas keberadaannya. Orang tua tidak akan merasa tenang ketika melihat anak-anaknya tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Seorang ayah dan ibu tidak akan merasa tenang sebelum anak-anaknya telah dpastikan mengenal syariat Islamiyah, seharusnya. Seorang kafir semacam ayahnya Salman Al Farisi benar-benar mengkhawatirkan keadaan anak kandungnya, mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Maka tentunya seorang Muslim terkhusus Sunniy Salafy seharusnya lebih mengkhawatirkan keselamatan dunia dan akhirat.
Kita siap mengorbankan apapun hanya untuk dapat memberikan pendidikan agama kepada anak-anak kita, kita rela bekerja membanting tulang mempergunakan waktu dan kesempatan kita asalkan anak-anak kita, anak-anak As Salafiyyin Ahlus Sunnah wal Jamaah menjadi generasi terbaik setelah zaman kita. Menjadi anak generasi yang benar-benar telah menghapalkan Al Quran, generasi yang mengenal dan memahami sunnah nabinya Shallallahu’alaihi wasallam. Sehingga kita seharusnya benar-benar memperjuangkan pendidikan anak-anak kita sendiri, pendidikan As Salafiyyin. Tetapi yang kita maksudkan pendidikan, adalah pendidikan yang Syar’i. Kita tidak mengajarkan pendidikan yang mengejar dunia, tetapi pendidkan yang anak-anak kita cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah, anak-anak yang siap berjihad, siap berkorban di jalan Allah. Sehingga tidak ada alasan syar’i ketika kita memiliki seorang anak kemudian anak tersebut tetap tinggal di rumah tidak berusaha untuk memasukkan anak tersebut ke dalam pondok dan ma’had. Ma’had-ma’had Salafiyyin banyak sekali, pondok-pondok salafiyyin dimanapun berada pasti kita dapatkan. Apakah kita membiarkan anak kita tidak mendapatkan pendidikan ilmu agama yang layak? Berbeda jika orang tua mampu mendidik anaknya sendiri justru ini lebih baik. Namun jika ia tidak mendapatkan pendidikan dan tidak berusaha mendidiknya di ma’had Salafiyyin dengan alasan yang tidak syar’i…..
… kita rela bekerja membanting tulang mempergunakan waktu dan kesempatan kita asalkan anak-anak kita, anak-anak As Salafiyyin Ahlus Sunnah wal Jamaah menjadi generasi terbaik setelah zaman kita.
Ada ikhwan antum demi menyekolahkan anaknya untuk mengenal Allah Subhanahu wata’ala dan rasul-Nya, untuk mempelajari Al Quran dan Sunnah Nabi. Jarak 18 km ditempuh dengan sepeda ontel, pagi diantar sebelum sholat Shubuh sambil membawa barang dagangan menjual di pasar bonceng anaknya dua orang. Di sore hari sepulang dari pasar ia pulang dengah menjemput dua orang anaknya dari ma’had. Ketika dibantu keringanan SPP dia tolak dan mengatakan, "saya masih mampu menyekolahkan anak saya di pondok ini!" Ia adalah seorang ayah yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Dia usahakan mencari uang dengan cara yang halal untuk memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya.
Kita tidak akan rela anak-anak kita kekurangan di dalam ilmu syari’ah Islamiyah.
Bersambung… insya Allah
[Dinukil dari catatan taklim kami ketika mendengar rekaman mp3 dari daurah bertema Kisah Salman Al Farisi Radhiallahu'anhu Mencari Hidayah. Dibawakan oleh Al Ustadz Abu Nashim Mukhtar. Sumber audio: http://atstsurayya.wordpress.com/2009/03/13/kisah-salman-al-farisy/]
Filed under: Biografi Ulama, Ilmu dan Ulama, Jihad Fii Sabilillah, Kisah Sahabat, Tokoh Teladan, Urgensi Dakwah















