Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali
Bagian 2
Da’i yang ikhlas, yang ingin menelusuri jejak para Nabi dan ingin memperbaiki keadaan umat dengan perbaikan yang benar, yang pertama harus dia obati adalah penyelewengan dalam perkara tauhid. Apabila engkau melihat seorang da’i berjalan di atas petunjuk dan bimbingan. Dan apabila engkau melihat ada seorang da’i berbelok ke kanan, ke politik, atau ke yang lainnya, maka tidak ragu bahwa orang ini berada dalam kebimbangan. Tidak ragu lagi, dia melenceng dari dakwah yang disyariatkan dan diwajibkan oleh Allah terhadap seluruh Nabi, mulai Nabi yang pertama hingga Nabi yang terakhir. Allah ‘azza wa jalla berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul (agar menyerukan:) beribadahlah kepada Allah dan Jauhilah Thagut.” (An Nahl: 36)
Apakah yang dimaksud dengan thagut di ayat ini? Karena saat ini ada yang memaknakan thogut pada ayat ini berbeda dengan makna thogut yang dimaukan oleh Al Qur’an.
“Jauhilah thagut” adalah: (Jauhilah) peribadahan kepada berhala-berhala dan jauhilah perbuatan syirik kepada Allah ‘azza wa jalla.
Maka perbaikilah (ummat ini) dengan menghancurkan thaghut-thaghut dalam jiwa manusia. Setelah baik aqidah ummat manusia, maka akan baik sisi kehidupan mereka. Jika seseorang ridho Allah sebagai Rabb dan sesembahannya yang benar, dan tidak ada sesembahan yang bernar kecuali Dia, niscaya dia tidak akan tunduk kepada undang-undang timur dan barat selama-lamanya, karena ia ridho Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya. Sehinga ia akan membuang undang-undang dan peraturan-peraturan buatan manusia.
Adapun kalau engkau mengawali (perbaikan Ummat) dengan hanya memperbaiki masalah politik dan menyibukkan pemuda dengan masalah seperti ini, berarti engkau menutupkan tabir terhadap dakwah para Nabi. Ini merupakan kesalahan yang fatal yang menimpa para da’i. Yang segera mereka dapatkan –disebabkan dakwah yang seperti ini- adalah dampak negatif. Bukanlah aku orang yang- demi Allah- lebih tahu, lebih sayang, dan lebih cemburu dibandingkan Allah dan Rasul-Nya ‘alaihishshalatu wassalam dari apa yang aku kira.
Jalan untuk perbaikan ummat merupakan perkara yang sangat jelas. Ummat disetiap zaman dan ummat Islam dari abad ke abad membutuhkan perbaikan aqidah, karena kerusakan pada masalah aqidah merayap kedalam tubuh kaum muslimin di setiap abad, baik dalam tauhid asma’ wa sifat –yang aku kira ummat-ummat sebelumnya tidak menyeleweng- maupun dalam hal tauhid ibadah. Apabila engkau berjalan mengelilingi negara-negara di dunia, negara manapun yang engkau jumpai, niscaya engkau akan melihat penyelewengan aqidah mereka dan melihat amalan-amalan mereka di sekeliling kuburan. Yang mana mereka seharusnya malu terhadap Yahudi, Nashara dan para penyembah patung.
Kenapa kita berpura-pura bodoh terhadap perkara ini semua, dan pergi mendidik para pemuda dengan pendidikan politik saja. Sedangkan kesyirikan di hadapan mereka. Kesyirikan yang diperangi para nabi, yang telah menghabiskan masa hidup mereka demi memerangi kesyirikan. Dan Allah membinasakan banyak ummat adalah karena (ummat tersebut) menyelisihi para nabi dalam masalah ini, bukan karena masalah politik atau yang lainnya. Allah membinasakan mereka karena menyelisihi para nabi dalam masalah ini.
Wahai para pemuda Islam, janganlah sampai kalian tertipu dengan roti politik, ambisi dan penggodanya. Hendaklah kalian memegang teguh manhaj/metode para nabi.
Sehingga engkau akan melihat, siapa saja yang memperbaiki (ummat) dengan jujur dan ikhlas, serta mengetahui Islam dengan sebenarnya, maka dia akan mengawali pengobatannya pada perkara (tauhid) ini.
Contohnya Ibnu Taimiyah, ia datang dalam keadaan lumpur khurafat dan kebid’ahan-kebid’ahan sudah mengendap di tengah-tengah ummat Islam, baik masyarakatnya maupun pemerintahnya. Maka beliau mengobati berbagai penyelewengan yang barupa kesyirikan (dalam ibadah) dan penyelewengan dalam masalah Asma’ dan sifat. Datang pula Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah tokoh dan mujaddid sejati kedua setelah Ibnu Taimiyah. Beliau memulai berdakwah seperti yang dilakukan para Nabi dan orang-orang yang melakukan perbaikan.
Sedangkan orang-orang yang membawa berbagai macam bendera dakwah ini (politik dan sebagainya), dan tidak komitmen serta tidak mengetahui perkara tauhid, tidak mengetahui bahaya syirik serta tidak mengetahui dengan jelas seluruh perkara ini, mereka mendidik dalam lingkungan yang tidak disirami aqidah. Mereka mendapati pergolakan politik yang terjadi antar partai, sehingga mereka membentuk partai-partai (baru) yang membawa misi-misi Islam (namun) tidak mengenal dakwah para nabi. Maka mereka datang seraya menerapkan politik mereka kepada para pemuda negeri tauhid (Saudi Arabia) dalam keadaan para pemudanya tidak mengetahui tauhid dan bahaya syirik. Sangat disayangkan dakwah mereka yang menyelisihi manhaj para nabi ‘alaihimushshalatu wassalam tersebar di negeri tauhid.
Demi Allah ini adalah perang pemikiran terhadap markas anak-anak tauhid. Sudah sekian tahun kita berusaha memberantasnya, agar keadaan kembali seperti semula. Akan tetapi para pemuda tertipu –sangat disayangkan- mereka terikat dengan orang-orang yang membawa lari mereka ke tempat yang jauh dari kedudukan para Rasul ‘alaihimushshalatu wassalam, serta kedudukan orang-orang yang melakukan perbaikan. Wajib atas para pemuda untuk sadar dan mengatahui pentingnya tauhid.
Demi Allah kami tidak melihat adanya wala’ (loyalitas) dan bara’ (berlepas diri) pada mayoritas para pemuda di atas tauhid. Engkau akan dapati mayoritas pemuda berloyalitas kepada para pemuja kuburan dan musuh tauhid serta yang memerangi para pembawa bendera tauhid dan putra-putra tauhid. Orang-orang bodoh itu tidak mengerti tentang tauhidullah dan dakwah para nabi, serta tidak mengetahui kedudukan dakwah ini. Tatkala ingris mendirikan partai-partai di negeri barat dan negeri-negeri kaum muslimin, barupa partai ba’ts, komunis, sosialis dan sebagainya. Maka berkatalah mereka para “Politikus Islam”: “Kita harus membentuk partai-partai politik.” Dan mereka masuk ke pergolakan antar parpol dan pemerintah. Seluruhnya berkisar pergolakan politik, sedangkan Islam, Islam dan Islam hanya sebagai simbol saja. Mereka mendapati sekulerisme, komunisme, ba’tsi terpampang di negeri-negeri Islam, sehingga mereka mengatakan: “Kita mengangkat syiar-syiar Islam,” maka merekapun mengangkat syiar-syiar Islam namun kosong isinya. Demi Allah kosong dan mati, karena kosong dari perhatian terhadap tauhid serta permusuhan terhadap syirik.
Maka engkau akan melihat sumber-sumber dakwah seperti ini, yang memerangi negeri ini, terlumuri oleh syirik dan tidak menghasilkan perubahan sedikitpun di negeri-negeri arab. Sampai hari-hari ini telah mati pentolan-pentolan pencetus dakwah semacam ini, di atas khurafat dan kebid’ahan. Bahkan mereka pergi ke kuburan-kuburan dengan mempersembahkan nadzar-nadzar, bunga-bunga dan ruku’ kepada kuburan-kuburan ini. Syirik menurut mereka tidak berbahaya selama-lamanya, tauhid tidak ada nilainya, bahkan memandang bahwa tauhid memecah belah ummat. Kenapa putra-putri tauhid tidak memikirkan tipu daya dan petaka ini, yang membuat mereka bercerai-berai, bertikai, dan tercabik-cabik karena dakwah yang kosong (palsu) ini.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Kami untus seorang Rasulpun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Aku. Maka ibadahilah Aku.” (Al Anbiya: 25)
Bersambung…
[Disalin dari kitab At Tauhid Awwalan, edisi Indonesia Memulai Dakwah Dengan Tauhid: Solusi Tepat Memperbaiki Ummat, oleh Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali, penerbit Darul Ilmi, penerjemah Zuhair Syarif, judul oleh Admin Blog Sunniy Salafy]
Sumber: Ebook CHM kompilasi oleh akhuna fillah Abu Bakrah Ahmad Al Makassari :: http://ashthy.wordpress.com/2007/11/18/memulai-dakwah-dengan-tauhid-solusi-tepat-memperbaiki-ummat/
Filed under: Tauhid Prioritas Utama, Urgensi Dakwah















