Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali
Bagian 7
Di antara ayat-ayat yang menunjukkan tentang keagungan Allah Tabaraka wa ta’ala, bahwa segala sesuatu mengagungkan Allah. Dia ‘azza wa jalla berfirman:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ
“Tidaklah dari sesuatupun melainkan bertasbih dan memuji-Nya.” (Al Isra: 44)
Dan berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
“Tidakkah engkau melihat apa yang ada dilangit-langit dan bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, ginung-gunung, pepohonan, binatang-binatang melata dan banyak dari manusia sujud kepada Allah? Dan banyak dari manusia telah ditentukan adzab atasnya. Dan barangsiapa yang Allah hinakan, maka tiada seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al Hajj: 18)
Segala sesuatu tunduk kepada Allah, segala sesuatu bertasbih kepada-Nya dengan rela ataupun tidak. Seorang kafir rendahpun tunduk kepada Allah Tabaroka wa ta’ala. Allah ciptakan dia sesuai dengan kehendak-Nya. Allah jadikan dia seorang fakir, kaya, sakit, sehat dan celaka. Allah perbuat padanya sesuai kehendak-Nya. Maka ia dari sisi ini tunduk kepada-Nya. Maka ia dari sisi ini tunduk kepada Allah, membenarkan Allah, baik dalam keadaan mau ataupun enggan. Benda-benda mati, pepohonan, binatang-binatang melata tunduk kepada-Nya. Ini menunjukkan atas keagungan Allah Tabaraka wa ta’ala. Segala sesuatu mengagungkan Allah.
Wahai akhi, agungkanlah Allah dengan mentauhidkan dan mengikhlaskan agama hanya untuk Allah. Dengan inilah seluruh para Nabi ‘alaihimusshalatu wassalam di utus.
Dari perkara yang bisa mengokohkan aqidah tauhid adalah kita mengetahui asma’ (nama-nama) dan sifat Allah. Allah ‘azza wa jalla berfirman:
وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Dan Allah memiliki nama-nama yang indah maka berdoalah dengannya.” (Al A’raf: 180)
Dan berfirman:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dialah Allah yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali dia, Dialah Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Al Hasyr: 23)
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan Dialah Allah Yang membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Segala yang ada di langit-langit dan bumi bertasbih pada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Hasyr: 24)
Mayoritas manusia terbolak balik dalam memahami tauhid, termasuk asma’ dan sifat Allah, akibat tipudaya para filosof, tipudaya orang-orang Jahmiyyah yang terpengaruh para filosof, Mu’tazilah dan selain mereka. Mereka tertelungkup dalam masalah ini. Sehingga mereka mengingkari istiwa (ketinggian Allah) di atas ‘Arsy dan nama-nama Allah. Jahmiyyah mengingkari nama-nama Allah, sedangkan Mu’tazilah mengingkari sifat-sifat-Nya, ketinggian Allah dan keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya. Hal ini menjerumuskan mereka kepada aqidah hulul dan wihdatul wujud (keyakinan yang menganggap Allah menyatu dengan mahluk-Nya), karena (menurut mereka) mereka mensucikan Allah dari keadaan-Nya di atas alam semesta dan para mahluk-Nya.mereka mengatakan: “Sesungguhnya Allah di setiap tempat.” Dan berkata: “Tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan dan tidak di kiri, tidak di dalam dan tidak pula di luarnya serta tidak, tidak…”
Bisa jadi mereka menyatakan bahwa Allah merupakan sesuatu yang tidak ada, atau menyatu pada segala sesuatu. Ini merupakan puncak pelecehan terhadap Allah Rabb semesta alam. Mereka mengesankan kepada manusia dan pengikut mereka yang jahat, bahwa mereka merupakan orang-orang yang mensucikan Allah. Kenapa? Mereka mengatakan: “Karena kalau kita menetapkan Allah berada di atas ‘arsy, berarti kita menetapkan Dia punya jasad, dan istiwa’ (di atas ‘arsy) berkonsekuensi Allah memiliki jasad, dan -menurut mereka- bisa jadi Allah lebih besar dari pada arsy atau lebih kecil atau juga lebih sangat besar lagi… dan seterusnya. (Semuanya itu adalah) omong kosong. Mereka menafikan dari Allah tajsim (berbentuk jasad) tetapi terjerumus ke dalam ta’thil (menafikan sifat-sifat Allah).
Ahlussunnah mengatakan: “Istiwa (tingginya Allah di atas ‘arsy) sesuai dengan kemuliaan-Nya tidak seperti istiwanya para mahluk (di kursi dan seterusnya).”
Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya (Allah). Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syura: 11)
Ahlussunnah merupakan orang-orang yang Allah beri petunjuk untuk mengambil ayat ini tatkala menusia berselisih paham. Mereka mengambil ayat ini dan ayat lain yang semisalnya sebagai kaidah di dalam iman terhadap asma’ dan sifat serta perbuatan-perbuatan Allah ‘azza wa jala. “Tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya” baik di dalam Dzat-Nya, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya. Maka mereka mensucikan Allah dari penyerupaan terhadap para mahluk, dan menetapkan bagi Allah apa yang Dia tetapkan bagi diri-Nya Jalla wa ‘Ala dari nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya sembari mensucikan Allah dari penyerupaan dari para mahluk. Maka ayat tersebut menyatakan: “Tetapkanlah nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla seperti firman-Nya:“Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dan mereka menafikan tasybih (penyerupaan dengan mahluk) berpatokan kepada firman-Nya:“Tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya.”
Sesatlah orang-orang musaybbhihah (orang-orang yang menyerupakan Allah dengan mahluk-Nya, ahmad) tatkala mengatakan: “Sesungguhnya Allah mempunyai nama-nama seperti nama-nama kita, punya penglihatan seperti penglihatan kita, dan beristiwa seperti istiwanya kita… dan seterusnya.”
Orang-orang mu’athilah dating seraya menafikan dari Allah Tabaraka wa ta’ala permisalan dengan para mahluk dan tenggelam di dalamnya sampai menjerumuskan mereka untuk menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Sebagian mereka menafikan sifat-sifat Allah dan tidak menafikan nama-nama-Nya. Sebagian mereka menetapkan nama-nama dan menetapkan sebagian sifat-sifat, serta menafikan lainnya, seperti Asy’ariyah.
Bersambung…
[Disalin dari kitab At Tauhid Awwalan, edisi Indonesia Memulai Dakwah Dengan Tauhid: Solusi Tepat Memperbaiki Ummat, oleh Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali, penerbit Darul Ilmi, penerjemah Zuhair Syarif, judul oleh Admin Blog Sunniy Salafy]
Sumber: Ebook CHM kompilasi oleh akhuna fillah Abu Bakrah Ahmad Al Makassari :: http://ashthy.wordpress.com/2007/11/18/memulai-dakwah-dengan-tauhid-solusi-tepat-memperbaiki-ummat/
Filed under: Tauhid Prioritas Utama, Urgensi Dakwah















