• Kalender Hijriyah

    KALENDER HIJRIAH
  • Masukkan alamat email anda untuk menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru.

    Bergabunglah dengan 242 pengikut lainnya.

  • Hadir Saat Ini

    Barokallahu fiikum wa jazakumullahu khoiron
  • RSS .:: Kajian Pekan Ini ::.

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

    "Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Al Fatawa 4/149)

  • Sesungguhnya Perkara Terpenting dalam Agama Ini Adalah Mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala (Bagian 2 – Tamat)

    Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali

    Bagian 2
    Kecintaan Kita Kepada Allah dan Rasul-nya Adalah di Atas Tauhid yang Murni

    Kita mencintai beliau Shallallahu’alaihi wasallam lebih daripada anak-anak kita dan diri-diri kita serta harta benda kita. Rasulullah Shallalahu’alaihi wasallam bersabda,

    لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

    “Tidak dikatakan sempurna iman setiap orang dari kalian hingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

    Maka beliaulah Shallallahu’alaihi wasallam yang paling kita cintai daripada perkara-perkara ini semua. Sebagaimana kita (juga) mencintai para shahabatnya yang mulia Radhiallahu’anhum dan ahlulbait beliau yang istiqamah di atas manhajnya. Kita mencintai mereka dan mendahulukan mereka  Radhiallahu’anhum daripada diri-diri kita dan anak-anak kita. Para shahabat yang mulia berhak mendapatkan penghormatan kita dan kecintaan kita yang besar. Karena merekalah yang menyampaikan agama ini kepada kita, merekalah yang menyebarkan agama ini, merekalah yang mengorbankan diri-diri mereka dan harta benda mereka Radhiallahu’anhum dalam menyebarkan agama ini pada masa hidupnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan setelahnya sehingga kebanyakan ummat pada waktu itu menjadi dekat dengan mereka Radhiallahu’anhum. Maka kenalilah kedudukan mereka dan kehormatan mereka Radhiallahu’anhum.

    Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah memperingatkan kita dari mencela mereka:

    لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

    “Janganlah kalian mencaci-maki para sahabatku. Janganlah kalian mencaci-maki para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak mencapai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula separuhnya.”

    Kita mencintai Rasul ini dan mencintai para shahabatnya yang mulia dan ahlulbait beliau yang terhormat Radhiallahu’anhum, (semua ini) karena Allah.

    Kita mencintai Allah dan mencintai para rasul dan di antara mereka penutup para rasul Shallallahu’alaihi wasallam dan shahabat yang mulia, kita mencintai mereka karena hal ini di antara kesempurnaan kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dan Allah tidak menerima kita hanya mencintainya saja. Bahkan wajib atas kita untuk mencintai-Nya dan mencintai rasul-rasul-Nya dan mencintai wali-wali-Nya yang beriman, loyal kepada mereka dan mendahulukan loyalitas kita kepada mereka daripada loyalitas yang lainnya. Bahkan kita tidak berloyal kepada siapa pun di sisi loyalitas kita kepada mereka Radhiallahu’anhum. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah dan kerabatnya serta para shahabatnya semua.

    Kita mentaati Rasul ini. Dan Al Qur’an telah memulai atau banyak ayat Al Qur’an lebih dari tiga puluh nash mengajak kepada ketaatan terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan mengikutinya.

    Allah Ta’ala berfirman,

    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

    “Dan taatilah Allah dan taatilah Rasul.” (Al Ma’idah: 92)

    Allah Ta’ala berfirman,

    وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا

    “Dan barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya sesungguhnya untuknya neraka jahannam mereka kekal di dalamnya.” (An-Nisaa’: 14)

    Maka mentaati Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam merupakan satu-satunya jalan setelah mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala yang mengantarkan kepada surga-Nya yang luas (surga-Nya) seluas langit dan bumi. Maka kita mencintai Allah, kita mencintai tauhid, kita mencintai para malaikat, kita mencintai para rasul dan kita mentaati Allah dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam pada setiap perintahnya dan pada setiap larangannya.

    Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

    مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

    “Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah Radhialllahu’anhu)

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

    فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

    “Maka berhati-hatilah orang-orang yang menyelisihi perintahnya bahwa mereka akan ditimpa fitnah atau akan ditimpa oleh azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

    Maka orang yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bisa saja ditimpa fitnah atau azab yang pedih. Tahukah kalian apa itu fitnah?! Fitnah adalah: kekufuran.

    Menyelisihi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam akan berakibat hatinya menjadi menyimpang dan mengantarkan kepada kekufuran –hanya kepada Allah kita berlindung- kita mohon kepada Allah keselamatan.

    فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

    “Maka berhati-hatilah orang-orang yang menyelisihi perintahnya bahwa mereka akan ditimpa fitnah atau akan ditimpa oleh azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

    Fitnah adalah kekufuran dan kemurtadan dan penyimpangan dari apa yang dibawa Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam. Maka kita harus berhati-hati dari menyelisihinya karena menyelisihi beliau akibatnya bahaya. Kita mentaati beliau Shallallahu’alaihi wasallam membenarkannya pada setiap beritanya dan mentaatinya pada setiap perintahnya dan berhenti dari perkara-perkara yang beliau larang atau peringatkan kita darinya.

    Kita mencintai para shahabatnya dan mencintai sesama mukminin. Dan wajib bagi kita untuk saling mencintai di antara kita dan saling menjalin hubungan di antara kita dan saling kasih sayang di antara kita dan saling mengajak kepada yang ma’ruf dan saling mengingatkan dari yang mungkar dan saling menasihati untuk mentaati Allah Subhanahu wata’ala. Dan pihak yang keliru dari saudara-saudara kita salafiyin kita nasihatkan dengan hikmah dan kita jelaskan kepadanya dan kita tegakkan hujjah kepadanya karena yang demikian lebih bermanfaat dan berguna dan jangan langsung kita memutus hubungan dengannya. Karena penyakit ini merebak pada kebanyakan orang-orang yang menisbatkan diri-diri mereka kepada manhaj salaf sampai-sampai menyeret sebagian mereka kepada perpecahan dan menyeret sebagian mereka kepada penyimpangan dari manhaj ini kepada manhaj lainnya. Hanya kepada Allah kita mohon keselamatan.

    Maka jagalah persaudaraan di antara kalian dan saling mendekat dan saling mengasihi di antara kalian dan saling menjalin hubungan di antara kalian dan saling mengajak kepada yang ma’ruf dan saling mengingatkan dari yang mungkar. Karena amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah di antara cirri khusus yang ada pada ummat ini, dengannya ummat ini berbeda dengan ummat-ummat lainnya. Karena Allah telah memilih mereka, karena mereka saling mengajak kepada yang ma’ruf dan saling melarang dari yang mungkar.

    Allah Subhanahu wata’ala berfrman,

    كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

    “Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan kepada manusia kalian memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.” (Ali Imran; 110)

    Dan saling cinta di sini bukan berarti saling cinta yang menyeret kepada sikap basa-basi, bukan maksud saling cinta kita berbasa-basi dan mendiamkan kesalahan bahkan barangsiapa yang melakukan kesalahan besar maupun kecil kita jelaskan hal ini kepadanya bahwa dia terjatuh pada kesalahan ini, dia telah menyelisihi dalil ini dari Al Kitab dan menyelisihi nash ini dari As-Sunnah dan menyelisihi manhaj salaf. Kita jelaskan hal ini kepadanya. Dan apabila ia terjatuh kepada suatu bid’ah kita nasihatkan dia dan kita jelaskan hal ini padanya. Dan apabila dia menentang dan sombong dan terus mengajak kepada bid’ahnya maka yang seperti ini berdasarkan kesepakatan kaum muslimin (ummat) diperingatkan darinya dan dia (harus) diboikot. Dan apabila dia terjatuh kepada bid’ah terlebih lagi bid’ah yang besar dan dinasihati tapi tidak menerima nasihat dan sombong bahkan dia terus menerus mengajak kepada bid’ahnya dan fitnah. Maka yang seperti ini ketika itu (ummat) diperingatkan darinya.

    Saya mohon kepada Allah Subhanahu wata’ala menyatukan kita di atas kitab-Nya dan sunnah nabi-Nya Shallallahu’alaihi wasallam dan mengokohkan kita di atasnya dan mewafatkan kita di atasnya. sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengar doa.

    وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

    Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan keluarganya serta para shahabatnya.

    Tammat

    [Dinukil dari transkrip ceramah Asy Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali pada pertemuan Salafiyyin di Qatar. Judul asli: Kalimatun Taujihiyyah Dhimnal-Liqa’aat As-Salafiyah Al Qatariyah. Diterjemahkan oleh Al Ustadz Ja'far Shalih dari: http://sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=912]

    Sumber: http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=440

  • Pilih Kategori

  • Jumlah Klik

    • 582,819 hits .. sejak 3 Sya'ban 1428 H | 16 Agust 2007
  • Indeks Sunniy

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 242 pengikut lainnya.