• Kalender Hijriyah

    KALENDER HIJRIAH
  • Barokallahu fiikum


  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

    "Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Al Fatawa 4/149)

  • Mana yang Lebih Utama, Shalat Malam ataukah Menuntut Ilmu?

    Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimîn

    Syaikh -semoga Allah mengampuniya- ditanya: Mana yang lebih utama, shalat malam ataukah menuntut ilmu?

    Jawab

    Menuntut ilmu lebih utama dibandingkan shalat malam. Sebab menuntut ilmu sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ahmad,

    لا يعدله شيء لمن صحت نيته ينوي به رفع الجهل عن نفسه وعن غيره

    "Tidak ada yang menandinginya bagi orang yang lurus niatnya, yang dengan menuntut ilmu tersebut ia berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain."

    Apabila seseorang tidak tidur pada permulaan waktu malam untuk menuntut ilmu dalam rangka mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla, dengan mempelajari maupun mengajarkannya pada orang lain, maka amalan tersebut lebih baik dibandingkan shalat malam. Jika mungkin baginya ia mengerjakan kedua amalan tersebut secara beriringan. Ini tentu lebih baik. Tapi jika kedua amalan tersebut sulit dilakukan secara beriringan maka menuntut ilmu syari’at nilainya lebih utama dan lebih baik.

    Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepada Abu Hurairah radhiallahu’anhu untuk mengerjakan shalat witir sebelum ia tidur1. Para ulama mengatakan, sebab hal itu adalah bahwa dahulu Abu Hurairah radhiallahu’anhu menghafal hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di awal malam dan ia tidur di akhir waktunya. Lalu Nabi memberi bimbingan kepadanya agar dia mengerjakan shalat Witir sebelum tidur.

    [Dinukil dari kitab Kitabul ‘Ilmi, Penulis Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu Syar’i, Penerjemah Abu Abdillah Salim bin Subaid, Penerbit Pustaka Sumayyah, hal. 233-234]

    ____________
    Footnote:

    1 HR. Al-Bukhari dalam Kitabut Tathawwu Bab: Shalatid Dhuha, dan Muslim dalam Kitabush Shalat Musafirin Bab: Istihbabu Shalatid Dhuha.

  • Pilih Kategori

  • Jumlah Klik

    • 654,070 hits .. sejak 3 Sya'ban 1428 H | 16 Agust 2007
  • Indeks Sunniy

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 294 pengikut lainnya.