• Kalender Hijriyah

    KALENDER HIJRIAH
  • Barokallahu fiikum


  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

    "Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Al Fatawa 4/149)

  • Kisah: Pertemuanku dengan Teman Lama

    Abu Harun As Salafy

    Di hari Ahad sepulang dari taklim rutin, aku mampir di sebuah masjid untuk menunaikan sholat Maghrib. Sambil menunggu adzan Maghrib aku melihat mading di masjid tersebut dan tersebutlah sebuah pamflet pembukaan kajian rutin. Mataku tertuju dengan nama ustadz yang membawakan materi. Nama itu.. aku begitu mengenalnya dan tidak asing bagiku. Ingatanku melayang di masa-masa SMP-SMU. Apakah mungkin ustadz yang tertera itu adalah sahabat sekolahku dulu ?? Setelah selesai membaca pamflet aku niatkan untuk hadir dan melihat siapakah ustadz itu apakah benar sahabatku, teman sekolahku dulu.

    Aku ingat dengan sahabatku itu, kami melewati masa SMP dan SMU di sekolah yang sama. Di masa itu memang ia sudah terlihat alim, ia begitu cerdas dan pintar, orangnya pendiam. Aku salut dengan sahabatku itu. Cara ibadah yang beda menarik perhatianku. Pernah di masa itu aku menanyakan kepadanya, "koq kalo sholat jarinya digerak-gerakkan, kenapa?" Dia menjawab bahwa Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam melakukannya. Kemudian aku tanyakaan, "koq sehabis sholat tangannya gak mengusap muka, kenapa?" Dia menjawab bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak melakukannya. Mendengat jawaban itu aku hanya mengangguk-angguk kepala dan itu kuanggap hanya sebagai wawasan saja, karena aku tetap saja sholat seperti kaum muslimin yang awam lain melakukannya.

    Di masa kuliah barulah aku mengenal dakwah salaf. Ketika aku belajar sholat sesuai dengan sifat sholat nabi aku langsung teringat dengan sahabatku itu dan aku berpikir barangkali dari dulu sahabatku itu adalah seorang Salafy. Aku pun begegas main ke rumahnya ingin membawa kabar gembira bahwa aku sudah menjadi Salafy seperti dirinya. Sesampai di rumahnya aku disambut oleh ibunya dan mengatakan bahwa sahabatku tidak ada di rumah karena ia mondok di sebuah pondok pesantren. Aku sedih dan tidak menanyakannya lebih lanjut karena aku langsung pulang.

    Aku merenung, karena terkadang hidayah itu sudah datang di depan mata kita, namun kita terlalaikan darinya dan tidak meresponnya. Maka orang yang beruntung adalah jika bergegas menyambut hidayah itu.

    Akhirnya hari itupun tiba, aku datang ke masjid 5 menit sebelum adzan Isya dikumandangkan. Setelah sholat Isya berjamaah dan dilanjutkan dengan sholat sunnah, aku maju ke depan untuk membantu panitia mempersiapkan meja dan kursi untuk ustadz yang akan mengisi, setelah itu aku duduk paling depan.

    Ustadz mulai duduk dan aku perhatikan wajahnya…. tubuhnya…kulitnya….. dan suaranya, subhanallahu Allahu akbar, benar bahwa ia adalah sahabatku, teman sekolahku. Gigiku bergetar dan aku hampr menangis terharu, namun aku tahan. Dalam sela-sela kajian beberapa kali ustadz memandang ke arahku dan aku tahu bahwa iapun pasti mengenal diriku.

    Setelah kajian usai, aku menuju ke arahnya dan ia menyambutku. Kami berpelukan karena sudah lama tidak berjumpa dan menanyakan kabar masing-masing. Ia bercerita bahwa setelah lulus SMU ia melanjutkan ke sebuah pondok pesantren Ahlus sunnah di Jawa selama 4 tahun, lalu mengajar di sana 2 tahun, setelah itu pergi ke Saudi 4 tahun untuk menimba ilmu dari masyaikh di sana. Dan baru pulang ke tanah air di bulan April 2010 yang silam.

    Aku bersyukur sekali bisa dipertemukan dengannya dalam satu iman, satu manhaj, dan di atas satu aqidah, bertemu di rumah Allah Ta’ala yang diberkahi.

    Alhamdulillah, di waktu yang berbeda dan di tempat yang berbeda aku banyak bertemu dengan teman-teman sekolahku dulu dan kami sudah menjadi Salafy, kami bertemu di tempat kajian. Alhamdulillah kami berada di atas manhaj salaf.

    Allahumma faqqihna fiddin wa ‘allimna ta’wil, rabbi zidni ‘ilma. Zadanallahu ilman wataufiqa. Aamiin.

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

    وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا. ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا

    "Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui." (An Nisa: 69)

    4 Tanggapan

    1. Ustadz Syahrul Fatwa kan, pengasuh majalah Al Furqon..

      semoga Allah memberkahmu bang abu harun

    2. nama ustadznya siapa?
      baralkallahufiik

    3. mengharukan sekali,akhi

    Tinggalkan Balasan

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

    Connecting to %s

  • Pilih Kategori

  • Jumlah Klik

    • 654,070 hits .. sejak 3 Sya'ban 1428 H | 16 Agust 2007
  • Indeks Sunniy

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 294 pengikut lainnya.