Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin
Dalam kitab Riyadhus Shalihin Kitabul Ilmi Al Imam An Nawawi menyebutkan hadits nabi shallalahu’alaihi wasallam dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
مَنْ دَعَاإِلىٰ هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الاَجْرِمِثْلُ أُجُرِمَنْ تَبِعَهُ لاَيَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun.” (H.R Muslim)
Kandungan Hadits
Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan pengaruh serta dampaknya yang baik.
“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk” yaitu dengan mengajarkan ilmu kepada manusia, karena da’i (penyeru) kepada Al-huda (petunjuk) adalah orang yang mengajarkan kepada manusia dan menjelaskan dan membimbing mereka kepada Al haq, maka dia mendapat pahala seperti orang yang mengikutinya.
Satu contoh: Engkau memberi petunjuk kepada orang agar dia semestinya menjadikan (sholat) witir sebagai akhir sholat malamnya. Sebagaimana perintah Nabi shallallahu‘alaihi wasallam :
اِجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ فِى الَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikan akhir sholat kalian di malam hari adalah witir”
Engkau menganjurkan dan mendorong untuk sholat witir, kemudian ada seseorang yang melakukan witir berdasarkan bimbinganmu maka engkau mendapat pahala seperti dia, yaitu orang yang mengetahui hal itu dari kamu, dan hal itu bisa mengalir hingga hari kiamat.
Dalam hadits tersebut terdapat dalil yang menunjukkan banyaknya pahala Nabi shallallahu‘alaihi wasallam karena beliau telah menunjuki umat ini kepada “Al huda” maka setiap ada orang yang beramal dari ummat ini dengan petunjuk Nabi shallallahu‘alaihi wasallam maka beliau mendapatkan pahalanya juga tanpa mengurangi pahala orang-orang yang mengamalkannya sedikitpun.
Sehingga pahala itu sempurna baik bagi pelaku maupun da’i (orang yang menunjukinya).
Jika telah jelas bahwa Nabi shallallahu‘alaihi wasallam mendapat pahala apa yang diamalkan ummat, maka dengan hal ini menjadi jelas pula kesalahan orang yang menghadiahkan pahala ibadah kepada Rasul shallallahu‘alaihi wasallam. Misalnya sebagian orang ada yang melakukan shalat dua raka’at kemudian berkata “Ya Allah jadikan pahala amalan (sholat) ini untuk Rasul." Ada lagi yang membaca Al Qur’an, ia pun berkata, “Ya Allah jadikan pahalanya untuk Rasul.” Maka ini adalah perbuatan yang keliru. (Maka tidak ada dari kalangan para shahabat, tabi’in, para imam, baik Imam Ahmad bin Hambal, Asy Syafi’i, Malik, dan Abu Hanifah yang menghadiahkan amalan untuk Rasul shallallahu‘alaihi wasallam).
(tanda kurung adalah penukilan secara ringkas, pent.)
Jadi kita ambil faedah dari hadits ini berupa keutamaan ilmu, karena dengan sebab ilmulah yang menunjuki kepada Al Huda, yang mendorong kepada taqwa, maka ilmu lebih utama dibanding banyaknya harta bahkan sekalipun bersedekah dengan harta yang luar biasa banyaknya, berilmu dan menyebarkan ilmu adalah lebih afdhol.
Sekarang sebuah contoh nyata untuk anda semua: Di zaman Abu Hurairah terdapat raja yang memiliki kekuasaan dunia, di zaman imam Ahmad ada orang-orang kaya yang memiliki harta kekayaan melimpah dan mereka bersedekah dan wakaf, di zaman setelah mereka seperti zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim ada juga orang-orang kaya yang bershadaqah, berinfaq, dan wakaf. Mana atsar (pengaruh) harta yang mereka infaqkan? Mana shadaqah mereka yang kita rasakan sampai hari ini? Telah hilang itu semua. Sementara itu, hadits-haditsnya Abu Hurairah tetap dibaca setiap saat malam dan siang, dia pun mendapatan pahalanya, para imam-imam juga demikian, ilmu mereka, fiqih mereka tersebar di tengah-tengah ummat sehingga terus mengalir pahala untuk mereka.
Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan yang lainnya dari para ulama, walau mereka telah meninggal, nama-nama mereka masih senantiasa hidup seakan mereka tetap mengajarkan kepada manusia sementara mereka di kubur-kuburnya. Mereka terus dapat pahala walaupun mereka telah tiada.
Hal ini menunjukkan bahwa ilmu itu lebih afdhal dan lebih bermanfaat bagi manusia dibandingkan banyaknya harta.
[Dinukil dari kitab Syarah Riyadhus Shalihin, Bagian Kitabul Ilmi Hadits ke 1390, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, cetakan Darul Atsar (3/424-426), diterjemahkan oleh Al Ustadz Muhammad Rifa'i]
Sumber: Buletin Da’wah Islam Riyadhus Shalihin Edisi 005/Jumadil Tsani/1427 H.
Filed under: Ilmu dan Ulama, Kitab Riyadhus Shalihin















