• Kalender Hijriyah

    KALENDER HIJRIAH
  • Barokallahu fiikum


  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

    "Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Al Fatawa 4/149)

  • Astaghfirullah..!! Banser NU / GP Ansor Kembali Tegaskan Siap Bantu Amankan Perayaan Ibadah Orang-Orang Kafir

    Jakarta – Seperti tahun-tahun sebelumnya, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) juga turut membantu pengamanan perayaan Natal pada tahun ini. Bantuan pengamanan dilakukan di gereja di sejumlah daerah yang dianggap sensitif.

    Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid, menjelaskan, bantuan keamanan yang dilakukan atas permintaan gereja-gereja ini akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan otoritas gereja di masing-masing wilayah.

    “Permintaan dari seluruh Indonesia belum masuk semua, namun dari DKI saja yang masuk ada 49 titik. Semaksimal mungkin akan kami layani,” kata Nusron.

    Hal itu dikatakan Nusron dalam jumpa pers di kantor GP Ansor, Jl Kramat Raya, Jakarta, Kamis (22/12/2011) seperti rilis yang diterima redaksi. Hadir juga Sekjen KWI, Romo Benny Susetyo, Sekjen PGI, Jerry Sumampouw dan putri Gus Dur, Alissa Wahid.

    Nusron mengatakan, jumlah personel Banser akan disesuaikan dengan tingkat kesensitifan daerah masing-masing. Daerah yang dianggap sensitif seperti Jabotabek, Yogyakarta, Solo, Malang, Jember dan Surabaya.

    “Kalau daerah yang sensitif personel Banser akan lebih banyak. Jika tidak ada permintaan dari gereja, kita juga tetap memantau dari jauh. Prinsipnya, kita lakukan early warning system,” kata Nusron.

    Dia menambahkan, khusus di Kota Bogor, Banser akan memusatkan bantuan keamanan di GKI Yasmin. Organ kepanduan organisasi sayap Nahdlatul Ulama itu juga akan membuka posko yang berlokasi tak jauh dari gereja.

    “Seandainya jemaat ibadah di trotoar, di situ juga posko akan kita dirikan,” ujarnya.

    Alissa menjelaskan, bantuan keamanan Banser mencerminkan sifat NU yang berlandaskan ahlussunnah wal jamaah. Dia juga mengingatkan, pengamanan utama yang dilakukan aparat dalam perayaan Natal adalah kewajiban negara.

    “Negara wajib menjamin pelaksanaan ibadah warga negara,” ujar Alissa.

    Romo Benny mengatakan, bantuan keamanan Banser ini merupakan wujud persaudaraan sejati yang digelorakan Gus Dur sejak 1996. Dia juga mengingat jasa Yanto, personel Banser, yang mengeluarkan bom pada malam Natal tahun 2000 dari sebuah gereja di Mojokerto, yang akhirnya menewaskan dirinya sendiri.

    “Yanto adalah pahlawan kemanusiaan,” kata Benny.

    Menurut Benny, bantuan Banser pada perayaan Natal merupakan tradisi mulia yang menerobos kebekuan umat beragama selama ini. Hal yang sama juga dilakukan umat Kristiani di Indonesia Timur pada salat Idul Fitri.

    “Ini tradisi mulia di mana kerja sama menjadi nyata,” ujarnya.

    Jerry mengatakan, bantuan keamanan Banser pada perayaan Natal lebih dari sekedar tradisi. Namun, juga kebutuhan nyata di tengah rasa keamanan yang mahal bagi warga negara negara dalam menjalankan ibadah.

    (mok/lia) | detikNews

    30 Tanggapan

    1. Padahal di Ambon, orang-orang kristen membunuhi umat islam, membakar kampung islam, dan menterror umat islam.

      Koq di sini orang islamnya baik banget yah…
      asyiddau ‘alal muslimi wa ruhamau baina kaafir…. (keras terhadap umat islam -bahkan mencibir awas wahabi- dan lemah lembut terhadap orang kafir)

      Wallahul musta’an.

      • wahabbi lebih berbahaya,,,karna samar2
        klo orang kafir sudah jelas kafir

        Maksudnya samar2?

    2. Sungguh ironi ..sikap ormas yang satu ini..dimana dia letakkan Al Wara wal Baro nya????…kok malah mendukung hari raya orang kafir..saudaranya di ambon dibantai mana pembelaan mereka…mana?????

    3. dunia semakin suram saja

    4. Biasa…., itu kan warisan Gusdur suka nyeleneh?

    5. beragama klo cuma krn keturunan dan ikut2an ya spt itu, ditambah saat sekolah dari SD hingga kuliah yg dipejalari hanya fikih ibadah, soal aqidah dan tauhid sangat2 krg , jdnya pemahamannya ya hanya sebatas itu. manusia baik menurut mereka adalah yg santun, ramah, suka memberi, sopan, dermawan, lemah lembut tdk peduli syirik dan musyrik. atau aqidahnya rusak. inilah mayoritas yg hanya spt buih… membuncah putih menutupi arus akan tetapi dipermainkan arus… krg berperan, dan diremehkan…mayoritas yg menyedihkan..

    6. mohon maaf akhi ….jangan meng ghibah seseorang siapa tau diri kita lebih buruk dari pada mereka…..

    7. tolong akhi jika diri kita merasa benar…..ada yang lebih maha benar dari kita yaitu Allah swt,mari kita kembalikan segalanya kepada allah dan rasulnya,masalah ini agar tiada yang merasa dirugikan satu dengan yang lainya..semua sama di hadapan allah hanya kadar ketaqwaanya saja yang berbeda…barokallah

    8. sebagai muslim harus senantiasa saling hormat menghormati antar agama (kafir dlimmi) apalagi sesama muslim hrs lebih. Asal jgn saling membid’ahkan apalagi mengkafirkan.. Wallohu a’lam

      • Bolehkan kita berpartisipasi dalam peringatan Hari Raya orang-orang kafir dengan tujuan agar mereka tertarik juga berpartisipasi dalam Hari Raya Kita?

        Kalau yang dimaksud dengan peringatan di situ adalah peringatan Hari Raya orang-orang kafir dan musyrikin tersebut, jelas tidak boleh kita berpartisipasi dalam Hari Raya yang batil tersebut. Karena itu mengandung kerja sama dan menolong mereka dalam berbuat dosa dan permusuhan. Berpartisipasi dalam Hari Raya mereka juga berarti Menyerupai orang-orang kafir. Islam telah melarang menyerupai orang-orang kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

        “Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk dalam golongan mereka.”

        (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ahmad)

        Umar bin Al-Khattab pernah menyatakan:

        “Jauhilah musuh-musuh Allah pada Hari Raya mereka.” Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi)

        Namun kalau berpartisipasi dalam acara pesta pernikahan mereka misalnya, dan dalam acara tersebut tidak terdapat pelanggaran-pelanggaran syariat, seperti bercampurbaurnya lelaki dan perempuan, atau mengkonsumsi yang diharamkan Allah seperti minuman keras, babi, atau melakukan tari-tarian, musik dan sejenisnya; di samping itu juga tidak menimbulkan rasa saling suka dan cinta kepada mereka, maka boleh-boleh saja menghadiri undangan mereka. Di samping itu ia juga berkesempatan menyampaikan dakwah Islam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah memenuhi undangan sebagian orang-orang Yahudi. Wallahu A’lam.

        Islam Tanya & Jawab
        Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid

    9. Salafy yg paling benar lainya salah..
      berarti FPi juga membantu perayaan kafir ya??

    10. justru yg dilakukan banser NU itu bagus karena itu jg perintah rasullullah bahwa setiap tempat ibadah apapun agamanya jangan dikotori dan harus saling menhormati. di ambon ud selesai ya rusuhnya, jangan di provokasi2 lagi, jagalah NKRI

      • Coba antum baca lagi sejarah kenapa Banser ini didirikan. Trus renungkan kembali dengan apa yang telah dilakukan oleh banser selama ini.Bukalah hati dan mata antum akhi.Kebenaran itu bukan berdasarkan kelompok, akan tetapi berdasarkan kepada Alqur’an dan sunnah

    11. APA JADINYA NKRI INI TANPA BANSER NU?

      Pasti akan terjadi: Sesama Ummat Islam akan Saling Mengkafirkan, Merasa Kelompoknya Paling Benar, Suka Menuduh Bidah Ummat Islam Lain, sehingga tidak akan tercipta kedamaian dan ketenangan dalam menjalankan ibadah dan yang akan terjadi justru mudah tersulut Kekacauan dan Permusuhan Sesama Ummat dan antar komponen bangsa.

      INIkAH YANG ANDA KEHENDAKI?

      • Coba antum baca Fatwa Ulama NU Berikut

        Sikap Bahtsul Masail NU terhadap Ucapan Natal dan Menjaga Gereja

        Oleh: Muhammad Idrus Ramli

        Umat Islam tentu meyakini misi rahmatan lil-‘alamin, sebab istilah rahmatan lil-‘alamin telah dinyatakan oleh al-Qur’an. Istilah rahmatan lil-‘alamin dipetik dari salah satu ayat al-Qur’an;

        وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

        “Ma maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).” (QS al-Anbiya’ : 107).

        Dalam ayat itu, “rahmatan lil-‘alamin” secara tegas dikaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad saw. Artinya, Allah tidaklah menjadikan Nabi saw sebagai rasul, kecuali karena kerasulan beliau menjadi rahmat bagi semesta alam. Karena rahmat yang diberikan Allah kepada semesta alam ini dikaitkan dengan kerasulan Nabi saw, maka umat manusia dalam menerima bagian dari rahmat tersebut berbeda-beda. Ada yang menerima rahmat tersebut dengan sempurna, dan ada pula yang menerima rahmat tersebut tidak sempurna.

        Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sahabat Nabi Salallahu ‘Alaihi Wa Sallam, pakar dalam Ilmu Tafsir menyatakan: “Orang yang beriman kepada Nabi saw, maka akan memperoleh rahmat Allah dengan sempurna di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang tidak beriman kepada Nabi saw, maka akan diselamatkan dari azab yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu ketika masih di dunia seperti dirubah menjadi hewan atau dilemparkan batu dari langit.”

        Demikian penafsiran yang dinilai paling kuat oleh al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi dalam tafsirnya, al-Durr al-Mantsur.

        Penafsiran di atas diperkuat dengan hadits shahih yang menegaskan bahwa rahmatan lil-‘alamin telah menjadi karakteristik Nabi saw dalam dakwahnya. Ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada beliau, agar mendoakan keburukan bagi orang-orang Musyrik, Nabi saw menjawab: “Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat.” (HR. Muslim).

        Penafsiran di atas memberikan gambaran, bahwa karakter rahmatan lil-‘alamin memiliki keterkaitan sangat erat dengan kerasulan Nabi saw. Dalam kitab-kitab Tafsir, tidak ditemukan keterkaitan makna rahmatan lil-‘alamin dengan sikap toleransi yang berlebih-lebihan dengan komunitas non-Muslim. Ini berangkat dari kenyataan bahwa rahmatan lil-‘alamin sangat erat kaitannya dengan kerasulan Nabi saw, yakni penyampaian ajaran Islam kepada umatnya.

        Maka seorang Muslim, dalam menghayati dan menerapkan pesan Islam rahmatan lil-‘alamin tidak boleh menghilangkan misi dakwah yang dibawa oleh Islam itu sendiri. Misalnya, memberikan khotbah dalam acara kebaktian agama lain, menjaga keamanan tempat ibadah agama lain dan acara ritual agama lain, atau doa bersama lintas agama dengan alasan itu adalah “Islam rahmatan lil-‘alamin”. Kegiatan-kegiatan semacam itu justru mengaburkan makna rahmatan lil-‘alamin yang berkaitan erat dengan misi dakwah Islam.

        Sebagaimana dimaklumi, selain sebagai rahmatan lil-‘alamin, Nabi saw diutus juga bertugas sebagai basyiiran wa nadziiran lil-‘aalamiin (pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada seluruh alam).

        “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. al-Furqan : 1).

        “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan (basyiiran wa nadziiran), tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ : 28).

        Sebagai pengejawantahan dari ayat-ayat ini, seorang Muslim dalam interaksinya dengan orang lain, selain harus menerapkan watak rahmatan lil-‘alamin, juga bertanggungjawab menyebarkan misi basyiran wa nadziran lil-‘alamin.

        Islam tidak melarang umatnya berinteraksi dengan komunitas agama lain. Rahmat Allah yang diberikan melalui Islam, tidak mungkin dapat disampaikan kepada umat lain, jika komunikasi dengan mereka tidak berjalan baik.

        Karena itu, para ulama fuqaha dari berbagai madzhab membolehkan seorang Muslim memberikan sedekah sunnah kepada non Muslim yang bukan kafir harbi. Demikian pula sebaliknya, seorang Muslim diperbolehkan menerima bantuan dan hadiah yang diberikan oleh non Muslim.

        Para ulama fuqaha juga mewajibkan seorang Muslim memberi nafkah kepada istri, orang tua dan anak-anak yang non Muslim.

        Di sisi lain, karena seorang Muslim bertanggungjawab menerapkan basyiran wa nadziran lil-‘alamin, Islam melarang umatnya berinteraksi dengan non Muslim dalam hal-hal yang dapat menghapus misi dakwah Islam terhadap mereka.

        Mayoritas ulama fuqaha tidak memperbolehkan seorang Muslim menjadi pekerja tempat ibadah agama lain, seperti menjadi tukang kayu, pekerja bangunan dan lain sebagainya, karena hal itu termasuk menolong orang lain dalam hal kemaksiatan, ciri khas dan syiar agama mereka yang salah dalam pandangan Islam.

        وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

        “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Ma’idah : 2).

        Doa Lintas Agama

        Doa bersama lintas agama, dewasa ini juga agak marak dilakukan. Sebagian beralasan Islam rahmatan lil-‘alamin. Padahal, karakter rahmatan lil-‘alamin, sebenarnya tidak ada kaitannya dengan doa bersama lintas agama. Sebagaimana dimaklumi, doa merupakan inti dari pada ibadah (mukhkhul ‘ibadah), yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuhan.

        Tidak jarang, seorang Muslim berdoa kepada Allah, dengan harapan memperoleh pertolongan agar segera keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Tentu saja, ketika seseorang berharap agar Allah segera mengabulkan doanya, ia harus lebih berhati-hati, memperbanyak ibadah, bersedekah, bertaubat dan melakukan kebajikan-kebajikan lainnya. Dalam hal ini, semakin baik jika ia memohon doa kepada orang-orang saleh yang dekat kepada Allah. Hal ini sebagaimana telah dikupas secara mendalam oleh para ulama fuqaha dalam bab shalat istisqa’ (mohon diturunkannya hujan) dalam kitab-kitab fiqih.

        Ada dua pendapat di kalangan ulama fuqaha, tentang hukum menghadirkan kaum non Muslim untuk doa bersama dalam shalat istisqa’.

        Pertama, menurut mayoritas ulama (madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali), tidak dianjurkan dan makruh menghadirkan non Muslim dalam doa bersama dalam shalat istisqa’. Hanya saja, seandainya mereka menghadiri acara tersebut dengan inisiatif sendiri dan tempat mereka tidak berkumpul dengan umat Islam, maka itu tidak berhak dilarang.

        Kedua, menurut madzhab Hanafi dan sebagian pengikut Maliki, bahwa non Muslim tidak boleh dihadirkan atau hadir sendiri dalam acara doa bersama shalat istisqa’, karena mereka tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa. Doa istisqa’ ditujukan untuk memohon turunnya rahmat dari Allah, sedangkan rahmat Allah tidak akan turun kepada mereka. Demikian kesimpulan pendapat ulama fuqaha dalam kitab-kitab fiqih. Maka, jika doa diharapkan mendatangkan rahmat dari Allah, sebaiknya didatangkan orang-orang saleh yang dekat kepada Allah, bukan mendatangkan orang-orang yang yang jauh dari kebenaran.

        Forum Bahtsul Masail al-Diniyah al-Waqi’iyyah Muktamar NU di PP Lirboyo Kediri, 21-27 November 1999, menyatakan, bahwa “Doa Bersama Antar Umat Beragama” hukumnya haram. Diantara dalil yang mendasarinya: Kitab Mughnil Muhtaj, Juz I hal. 232: “Wa laa yajuuzu an-yuammina ‘alaa du’aa-ihim kamaa qaalahu ar-Rauyani li-anna du’aal kaafiri ghairul maqbuuli.” (Lebih jauh, lihat: Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam: Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), penerbit: Lajtah Ta’lif wan-Nasyr, NU Jatim, cet.ke-3, 2007, hal. 532-534). Wallahu a’lam.*

        Penulis adalah Pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr PWNU Jawa Timur. Tulisan ini sudah dimuat di Jurnal Islamia-Republika, Kamis 15 Desember 2011 dengan judul “Rahmatan Lil-‘Alamin dan Toleransi”

    12. Banser konsisten menjaga keutuhan negeri ini.Dulu era 65 mampu menghadapi orang2 kiri.Dan sekarang giliran orang2 kelompok kanan yang ingin berupaya berkhiyanat . insya Allah laa haula walaa quwwata illa billah.Banser selalu siap.

      • Coba antum baca lagi sejarah kenapa Banser ini didirikan. Trus renungkan kembali dengan apa yang telah dilakukan oleh banser selama ini.Bukalah hati dan mata antum akhi.Kebenaran itu bukan berdasarkan kelompok, akan tetapi berdasarkan kepada Alqur’an dan sunnah

    13. Banser itu bukan menjaga menjaga orang kafir, tapi berusaha menjaga keutuhan NKRI. justru orang yang mengklaim orang lain kaifr, itulah orang kafir. Mengapa demikian?

      Karena yang berhak menentukan bahwa orang itu kafir atau tidak adalah Allah SWT. Justru saya merasa kasihan kalau ada orang yang mengkafirkan saudaranya sendiri karena egoisme agama yang dipegangnya.

      Orang nasrani kafir, nda mas?

    14. Saya sebagai warga NU, kecewa dgn kepengurusan NU sekarang, terkesan sangat liberal,super toleran sehingga mengorbankan akidah sendiri, dan jawa timur sentris,sudah tidak ada lagi benang merah antara paham umat dan para kyai NU di kampung dengan para pengurus NU dan organisasi underbownya seperti Banser,sudah saat NU dibubarkan karena tidak lagi mewakili warganya,apalagi Banser sangat ngotot dan emosional dalam membela kemungkaran dan orang-orang kafir,Atheis,perusak moral dan penghina agama,seperti Irsad Manji,Ahmadiyah,Lady Gaga dll. dan saya rasa Banser sudah tidak punya ruh jihad dalam membela agama, mana ada banser siap dikirim membela islam di palestina,Moro,dll. yang ada semangat membela para yahudi penyandang dana mereka seperti Asia Foundation,Ford Foundation,yg mengusung tema2 semu seperti kebebasan,toleransi antar umat beragama,HAM,kesetaraan gender, liberalisme dll, padahal mereka menipu kita,kedengkian terhadap Islam tetap ada,terbukti dengan terbongkarnya wacana pengeboman kota suci Makkah dan Madinah oleh tentara Amerika, pakah Nusron Wahid,KH. Agil Siraz tidak tahu itu, atau pura2 tidak tahu

      • Sama, Mas. Ayah saya orang NU dan Ibu saya orang Muhammadiyyah dan saya dibesarkan di kalangan NU. Sekalipun demikian, saya melihat NU koq kurang gigih pembelaannya terhadap ummat. Bukan bermaksud membenci dhimmi tapi NU, khususnya BANSER koq terlalu sayang sama non-Muslim sampai kerabat sendiri gak diperhatikan.

    15. inilah musibah bagi kita warga NU, bila pimpinan dipegang oleh orang2 macam Agil Siroj,Nusron Hamid, ulil dan pemuka2 yg mempertuhankan hanya harta,tahta dan popularitas.
      Mereka bermanis muka dg orang2 kafir(yahudi,nasrani,hindu dll) akan tetapi melotot terhadap saudara sendiri.
      Berani dan ada gak posko banser di ambon???
      Berani gak banser ngirim anggotanya ke Palestina, afghanistan???
      Jawabnya pasti GAK BERANI!!!! DAN GAK PERNAH!!
      KENAPA GAK PERNAH DAN GAK BERANI????
      Jawabnya mudah.
      1. Banser gak punya jiwa JIHAD.
      Alasannya adalah untuk jihad di Palestina,afghan dan ambon harus siap menggadaikan nyawa(mati), padahal bagaimana mungkin berani mati kalau untuk urusan bgituan(perang) aja masih suka ilmu anti kebal, anti tembak anti bom dll.
      Terlepas ilmu2 tersebut benar atau tidak,syirik atau tidak saya gak akan akan mbahas itu. Cuma,. orang yg melengkapi diri dg ilmu setan spt itu hanyalah orang-orang yg PENGECUT.,
      2. Kenapa Banser gak mau terjun ke ladang jihad yg lain selain hal diatas??? KARENA GAK ADA YG MEMBAYAR. Beda halnya kalau njaga gereja, ngawal Irsyad Manji, mereka dapat bayaran coy. Saya tahu persis itu karena ada anggota banser yg nyanyi.

      Dari alasan yg hanya saya tampilkan td (lainnya banyak) maka, tidak pantaskah bila saya katakan Banse itu hanya rombongan BANci SERem,penakut.
      Saya tahu FPI ataupun MMI menghindar bila diadu dg Banser, bukan berarti FPI penakut, akan ttp FPi dan MMI hanya masih menghormati para kyai-kyai dan sesepuh NU. Selebihnya tidak.
      Andaikan Banser bukan bagian dari NU,. Pasti dilumat habis oleh mereka (FPI,MMI dll) jadi Banse jangan besar kepala.

      Skian nasehat saya.

    16. Yang bilang Ambon dah selesai siapa kang??? Tuh nasrani di sonono sering bikin provokasi,. Mana yang nyerang kampung muslim,
      Mana ngibarin bendera RMS,. Siapa kang yang mau ngancurin NKRI di ambon??? Nasrani (RMS) ato Muslim??? Melekin dikit mata dan kuping Lo knape sih,. Jangan goblok-goblok amat dong,.
      TERUS KALO NASRANI DI AMBON dan PAPUA PADA PINGIN LEPAS DARI NKRI, PASUKAN BANSERNYA MANA??? PADE NGUMPET YAK??? KATANYA ANTI PELURU, ANTI BOM???
      SINGKAT KATA ; SEMUA ORANG JUGA TAU BANSER TUH DARI DULU HOBINYA CUMA CARI MUKA,.
      Tau gak??? Sekarang orang liat banser pade senyum, sambil menggumam ” NI TENTARA APA PRAMUKA??? ATAO JANGAN-JANGAN ANAK TK???”
      Padahal kalo mreka tau Banser tuh ” BANCI SEREM”

    17. Berikut Sejarah Banser yang hanya tinggal Sejarah

      http://gp-ansor.org/banser/sejarah-banser

      Sedikit ana kutip

      Dengan latar belakang pengarahan KH. Abdul Wahab (guru besar kaum muda waktu itu) beliau menyebut beberapa ayat suci Al-Qur’an yang mengisahkan kesetiaan para sahabat Al-Khawariyyin yang tidak kepalang tanggung menolong perjuangan para Nabi menyiarkan ajaran Islam dengan pengorbanan lahir maupun batin, mereka tampil sebagai pejuang yang tangguh dalam membela dan membentengi perjuangan Islam, kemudian Nabi memberi nama penghormatan kepda mereka dengan sebutan Ansor yang berarti mereka yang menolong. Kemudian pada tanggal 24 April 1934 berdirilah organisasi ANO yang berarti Ansoru Nahdlatul Oelama yang dimaksudkan dapat mengambil berkah (Tabarrukan) atas semangat perjuangan para sahabat Nabi dalam memperjuangkan dan membela serta menegakkan agama Allah. Diharapkan kelak senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat ansor yang selalu bertindak dan bersikap sebagai pelopor dalam memberikan pertolongan untuk menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen yang seharusnya senantiasa dipegang teguh oleh para anggota Gerakan Pemuda Ansor.

      • Sikap Bahtsul Masail NU terhadap Ucapan Natal dan Menjaga Gereja

        Oleh: Muhammad Idrus Ramli

        Umat Islam tentu meyakini misi rahmatan lil-‘alamin, sebab istilah rahmatan lil-‘alamin telah dinyatakan oleh al-Qur’an. Istilah rahmatan lil-‘alamin dipetik dari salah satu ayat al-Qur’an;

        وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

        “Ma maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).” (QS al-Anbiya’ : 107).

        Dalam ayat itu, “rahmatan lil-‘alamin” secara tegas dikaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad saw. Artinya, Allah tidaklah menjadikan Nabi saw sebagai rasul, kecuali karena kerasulan beliau menjadi rahmat bagi semesta alam. Karena rahmat yang diberikan Allah kepada semesta alam ini dikaitkan dengan kerasulan Nabi saw, maka umat manusia dalam menerima bagian dari rahmat tersebut berbeda-beda. Ada yang menerima rahmat tersebut dengan sempurna, dan ada pula yang menerima rahmat tersebut tidak sempurna.

        Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sahabat Nabi Salallahu ‘Alaihi Wa Sallam, pakar dalam Ilmu Tafsir menyatakan: “Orang yang beriman kepada Nabi saw, maka akan memperoleh rahmat Allah dengan sempurna di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang tidak beriman kepada Nabi saw, maka akan diselamatkan dari azab yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu ketika masih di dunia seperti dirubah menjadi hewan atau dilemparkan batu dari langit.”

        Demikian penafsiran yang dinilai paling kuat oleh al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi dalam tafsirnya, al-Durr al-Mantsur.

        Penafsiran di atas diperkuat dengan hadits shahih yang menegaskan bahwa rahmatan lil-‘alamin telah menjadi karakteristik Nabi saw dalam dakwahnya. Ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada beliau, agar mendoakan keburukan bagi orang-orang Musyrik, Nabi saw menjawab: “Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat.” (HR. Muslim).

        Penafsiran di atas memberikan gambaran, bahwa karakter rahmatan lil-‘alamin memiliki keterkaitan sangat erat dengan kerasulan Nabi saw. Dalam kitab-kitab Tafsir, tidak ditemukan keterkaitan makna rahmatan lil-‘alamin dengan sikap toleransi yang berlebih-lebihan dengan komunitas non-Muslim. Ini berangkat dari kenyataan bahwa rahmatan lil-‘alamin sangat erat kaitannya dengan kerasulan Nabi saw, yakni penyampaian ajaran Islam kepada umatnya.

        Maka seorang Muslim, dalam menghayati dan menerapkan pesan Islam rahmatan lil-‘alamin tidak boleh menghilangkan misi dakwah yang dibawa oleh Islam itu sendiri. Misalnya, memberikan khotbah dalam acara kebaktian agama lain, menjaga keamanan tempat ibadah agama lain dan acara ritual agama lain, atau doa bersama lintas agama dengan alasan itu adalah “Islam rahmatan lil-‘alamin”. Kegiatan-kegiatan semacam itu justru mengaburkan makna rahmatan lil-‘alamin yang berkaitan erat dengan misi dakwah Islam.

        Sebagaimana dimaklumi, selain sebagai rahmatan lil-‘alamin, Nabi saw diutus juga bertugas sebagai basyiiran wa nadziiran lil-‘aalamiin (pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada seluruh alam).

        “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. al-Furqan : 1).

        “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan (basyiiran wa nadziiran), tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ : 28).

        Sebagai pengejawantahan dari ayat-ayat ini, seorang Muslim dalam interaksinya dengan orang lain, selain harus menerapkan watak rahmatan lil-‘alamin, juga bertanggungjawab menyebarkan misi basyiran wa nadziran lil-‘alamin.

        Islam tidak melarang umatnya berinteraksi dengan komunitas agama lain. Rahmat Allah yang diberikan melalui Islam, tidak mungkin dapat disampaikan kepada umat lain, jika komunikasi dengan mereka tidak berjalan baik.

        Karena itu, para ulama fuqaha dari berbagai madzhab membolehkan seorang Muslim memberikan sedekah sunnah kepada non Muslim yang bukan kafir harbi. Demikian pula sebaliknya, seorang Muslim diperbolehkan menerima bantuan dan hadiah yang diberikan oleh non Muslim.

        Para ulama fuqaha juga mewajibkan seorang Muslim memberi nafkah kepada istri, orang tua dan anak-anak yang non Muslim.

        Di sisi lain, karena seorang Muslim bertanggungjawab menerapkan basyiran wa nadziran lil-‘alamin, Islam melarang umatnya berinteraksi dengan non Muslim dalam hal-hal yang dapat menghapus misi dakwah Islam terhadap mereka.

        Mayoritas ulama fuqaha tidak memperbolehkan seorang Muslim menjadi pekerja tempat ibadah agama lain, seperti menjadi tukang kayu, pekerja bangunan dan lain sebagainya, karena hal itu termasuk menolong orang lain dalam hal kemaksiatan, ciri khas dan syiar agama mereka yang salah dalam pandangan Islam.

        وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

        “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Ma’idah : 2).

        Doa Lintas Agama

        Doa bersama lintas agama, dewasa ini juga agak marak dilakukan. Sebagian beralasan Islam rahmatan lil-‘alamin. Padahal, karakter rahmatan lil-‘alamin, sebenarnya tidak ada kaitannya dengan doa bersama lintas agama. Sebagaimana dimaklumi, doa merupakan inti dari pada ibadah (mukhkhul ‘ibadah), yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuhan.

        Tidak jarang, seorang Muslim berdoa kepada Allah, dengan harapan memperoleh pertolongan agar segera keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Tentu saja, ketika seseorang berharap agar Allah segera mengabulkan doanya, ia harus lebih berhati-hati, memperbanyak ibadah, bersedekah, bertaubat dan melakukan kebajikan-kebajikan lainnya. Dalam hal ini, semakin baik jika ia memohon doa kepada orang-orang saleh yang dekat kepada Allah. Hal ini sebagaimana telah dikupas secara mendalam oleh para ulama fuqaha dalam bab shalat istisqa’ (mohon diturunkannya hujan) dalam kitab-kitab fiqih.

        Ada dua pendapat di kalangan ulama fuqaha, tentang hukum menghadirkan kaum non Muslim untuk doa bersama dalam shalat istisqa’.

        Pertama, menurut mayoritas ulama (madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali), tidak dianjurkan dan makruh menghadirkan non Muslim dalam doa bersama dalam shalat istisqa’. Hanya saja, seandainya mereka menghadiri acara tersebut dengan inisiatif sendiri dan tempat mereka tidak berkumpul dengan umat Islam, maka itu tidak berhak dilarang.

        Kedua, menurut madzhab Hanafi dan sebagian pengikut Maliki, bahwa non Muslim tidak boleh dihadirkan atau hadir sendiri dalam acara doa bersama shalat istisqa’, karena mereka tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa. Doa istisqa’ ditujukan untuk memohon turunnya rahmat dari Allah, sedangkan rahmat Allah tidak akan turun kepada mereka. Demikian kesimpulan pendapat ulama fuqaha dalam kitab-kitab fiqih. Maka, jika doa diharapkan mendatangkan rahmat dari Allah, sebaiknya didatangkan orang-orang saleh yang dekat kepada Allah, bukan mendatangkan orang-orang yang yang jauh dari kebenaran.

        Forum Bahtsul Masail al-Diniyah al-Waqi’iyyah Muktamar NU di PP Lirboyo Kediri, 21-27 November 1999, menyatakan, bahwa “Doa Bersama Antar Umat Beragama” hukumnya haram. Diantara dalil yang mendasarinya: Kitab Mughnil Muhtaj, Juz I hal. 232: “Wa laa yajuuzu an-yuammina ‘alaa du’aa-ihim kamaa qaalahu ar-Rauyani li-anna du’aal kaafiri ghairul maqbuuli.” (Lebih jauh, lihat: Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam: Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), penerbit: Lajtah Ta’lif wan-Nasyr, NU Jatim, cet.ke-3, 2007, hal. 532-534). Wallahu a’lam.*

        Penulis adalah Pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr PWNU Jawa Timur. Tulisan ini sudah dimuat di Jurnal Islamia-Republika, Kamis 15 Desember 2011 dengan judul “Rahmatan Lil-‘Alamin dan Toleransi”

      • Setuju, & rasanya tidak prnah ada contohnya dari Nabi yg mulia SAW. serta para sahabatnya & salafussholih, mereka membantu memperlancar jalannya peribadatan orang2 kafir/musyrik.

    18. Sudah ana kutip Tulisan dari Syaikh Muhammad Sholih Al-Munajid dan Tulisan Muhammad Idrus Ramli (Pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr PWNU Jawa Timur) biar lebih berimbang. Jadi, sebenarnya ulama2 NU pun tidak mendukung perbuatan tersebut, kecuali orang2 didalam tubuh NU yang sudah terkena pengaruh JIL. Mudah2an dari kalangan NU sendiri mampu membendung pemikiran2 yang nyleneh dari orang2 Liberal yang sekarang ini sudah masuk kedalam berbagai Ormas di Indonesia.

      Sebaik2 perkataan adalah Kitabullah dan sebaik2 petunjuk adalah Rasulullah

    Tinggalkan Balasan

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

    Connecting to %s

  • Pilih Kategori

  • Jumlah Klik

    • 654,516 hits .. sejak 3 Sya'ban 1428 H | 16 Agust 2007
  • Indeks Sunniy

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 294 pengikut lainnya.