Ujian (Musibah) Disegerakan Bagi Hamba yang Mukmin Sebaga Tanda Kebaikan Untuknya

Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Allah Ta’ala akan menyegerakan hukumannya di dunia. Dan apabila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki kejelekan pada seorang hamba, maka Allah Ta’ala akan menangguhkan (hukumannya) atas dosanya hingga genap di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Hakim, dishahihkan Syaikh Al Albani rahimahullah)

Penjelasan per-kata

Apabila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki kebaikan pada seorang hamba: Yang dimaukan adalah hamba yang mukmin, dan kebaikan yang dimaukan adalah terhapusnya dia dari dosa.

Maka Allah Ta’ala akan menyegerakan hukumannya di dunia: Yakni akan menimpakan kepadanya ujian dan musibah-musibah di dunia sebagai balasan akibat dosa yang dia lakukan.

Dan apabila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki kejelekan pada seorang hamba: Yang dimaukan adalah adzab akhirat.

Maka Allah Ta’ala akan menangguhkan (hukumannya) atas dosanya: Yakni mengakhirkan hukuman akibat dosa yang dia lakukan.

Hingga genap di hari kiamat: yakni didatangkan semua dosanya secara utuh di hari kiamat.

Penjelasan global

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengabarkan bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala akan menimpakan berbagai ujian (musibah) kepadanya hamba-Nya yang mukmin, yang demikian itu untuk membersikan dia dari dosa-dosa dan kesalahan yang dia perbuat selama hidupnya, supaya nanti di hari kiamat akan ringan bebannya dan dia menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya [1]. Dan bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala akan menahan (tidak memberikan) musibah kepada sebagian manusia bukan karena cinta atau memuliakannya akan tetapi hal itu adalah istidraj [2] untuknya dalam kehidupannya. Supaya dia datang pada hari kiamat dengan dosa yang sangat banyak dan berat bebannya dan ia pasti akan mendapat adzab Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala memberikan keuatamaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan menghukum siapa saja dengan keadilan-Nya. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat akan tetapi merekalah yang akan ditanya.

Faidah hadits ini

1. Penetapan bahwasanya Allah Taala memiliki sifat Al Iradah (Maha Menghendai) sesuai dengan keagungan-Nya.
2. Bahwasanya kebaikan dan keburukan adalah takdir dari Allah ta’ala.
3. Bahwasanya ujian (musibah) yang menimpa seorang mukmin adalah tanda kebaikan selama dia tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang mukmin atau melakukan perkara-perkara yang diharamkan.
4. Hendaknya khawatir jika selalu diberikan kenikmatan atau kesehatan (tidak pernah tertimpa ujian atau musibah).
5. Wajibnya berbaik sangka kepada Allah Ta’ala atas apa-apa yang menimpa dirinya dari perkara yang tidak dia senangi.
6. Tidak musti karunia Allah Ta’ala adalah perkara yang disukai seorang hamba.

Keterkaitan hadits dengan bab “Termasuk Dari Keimanan Adalah Bersabar terhadap Takdir Allah Ta’ala”

Hadits ini menunjukkan dalil bahwasanya di antara sifat-sifat keimanan adalah bersabar terhadap apa-apa telah ditakdirkan atasnya dari berbagai ujian (musibah) karena itu baik untuknya [3].

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi]

___________
Footnote:

[1] Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ. فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا. وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا

Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.

[2] Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala:

فَلا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 55)

Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan tentang ayat di atas: “Janganlah kamu tertipu terhadap harta benda dan anak-anak (yang Allah berikan kepada) orang kafir di kehidupan dunia, hanya saja Allah menghendaki yang demikian, agar Dia mengadzab mereka di akhirat kelak.” Inilah yang dinamakan dengan istidraj. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ. نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Al Mu’minun: 55-56)

[3] Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiallahu‘anhu, Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ

“Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan sikap ini tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Apabila kelapangan hidup dia dapatkan, dia bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesempitan hidup menimpanya, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

About these ads

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Tauhid Prioritas Utama
2 comments on “Ujian (Musibah) Disegerakan Bagi Hamba yang Mukmin Sebaga Tanda Kebaikan Untuknya
  1. abu fadhil mengatakan:

    BISMILLAH ana berpendapat situs ini sangat bagus artikel-artikelnya mudah di fahami dan cocok untuk di jadikan materi dakwah, akan tetapi ana mengalami kesulitan ketika hendak men-share artikel ke jejaring sosial karena link untuk share yang ada terlalu njelimet/ribet masih harus konek dulu dengan link untuk share, saran ana kalau bisa di permudah dengan mencantumkan langsung link share-nya seperti situs-situs lainnya yang tinggal klik icon link share-nya barakallahu fiikum

    Di bagian paling bawah artikel ada tulisan:

    Semoga menjadi amal shalih bagimu dengan menyebarkan artikel ini melalui: …. antum tinggal klik share dan pilih facebook.

    Begitu, bukan?

    • h muhamad taif gultom se mengatakan:

      Alhamdulillah atas tulisan ini membuat hati ini tenang,,, Semoga ALLAH selalu sayang kepada kita semua dan diampuni segala dosa AMIIIN YAAA ROBBAALL ALAAAMIIIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 388 pengikut lainnya.