Adab Penuntut Ilmu Ketika Belajar di Majelis Gurunya

Abu Harun As Salafy

Berikut kami sampaikan adab-adab seorang penuntut ilmu di dalam majelis ilmu, yang kami ambilkan faidah ini dari ustadzuna al fadhil al karim Abu Ubaidah Abdurrahman Kuningan dalam beberapa pelajaran yang beliau sampaikan (tidak secara khusus, namun sering diucapkan)

! Hendaknya hadir tepat waktu, seyogyanya seorang penuntut ilmu datang terlebih dahulu sebelum gurunya, tidak sebaliknya. Hal ini menunjukkan semangatnya dia dalam menuntut ilmu, kecuali jika memang keadaannya yang memaksanya selalu datang lebih telat daripada gurunya. Semoga Allah Ta’ala memudahkan segala urusan kita.

! Mengucapkan salam kepada gurunya dan temannya ketika memasuki majelis ilmu.1

! Hendaknya bersemangat dalam belajar secara rutin. Menuntut ilmu tidak sekedar mengisi kekosongan waktu atau tidak seperti pepatah, "Daripada bengong di rumah mendingan taklim". Ia menyuruh dirinya untuk taat kepada Allah, ia menyuruh dirinya untuk mau belajar.2

! Jika di satu hari tidak bisa taklim hendaknya memberitahukannya kepada gurunya. Di zaman sekarang ini lebih mudah ia menuliskan pesan singkat melalui SMS, misal: "Bismillah, afwan ustadz malam ini ana ndak bisa taklim karena lembur di kantor. Hayakallah." Atau: "Bismillah, afwan ustadz malam ini ana ndak datang karena shift malam. Barokallahu fiik" dan semisalnya.3

! Memakai pakaian yang bersih dan rapi, tidak sekedar kaos oblong dan celana panjang, hendaklah berpakaian yang syar’i.4

! Memakai wewangian, atau paling tidak pakaiannya tidak ada bau yang menganggu.5

! Memberi kelonggaran dalam tempat duduk. Duduk yang rapi dan tidak berdesak-desakan.6

! Membawa kitab atau buku untuk menulis pelajaran. Lebih baik kitab yang menjadi pelajaran saat itu di bawa dengan versi asli (kitab arabic, bukan terjemahan).7

! Tidak berbicara sendiri atau dengan temannya ketika guru sedang menyampaikan pelajaran. Karena bisa mengganggu suara guru sampai kepada dirinya atau orang lain hingga tidak mendapat faidah darinya.

! Jika ada yang kurang jelas dari apa yang disampaikan hendaknya bertanya, agar tidak terjadi salah paham.8

! Persiapkan diri ketika belajar, hilangkan rasa mengantuk. Jika kantuk datang hendaknya bangkit dan berwudhu.

! Menghilangkan jarak pemisah antara dia dengan gurunya. Mau bersahabat dengan berteman dengan gurunya sehingga bisa mendapatkan lebih banyak faidah darinya karena terjadi keharmonisan dan akrab dalam pergaulan.

Wallahu a’lam

__________
Footnote:

1 Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

"Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), hendaklah kalian memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada diri kalian sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik." (An-Nuur:61)

2 Barang siapa yang rindu himmahnya (semangatnya) menuju kepada perkara-perkara yang mulia maka wajib baginya untuk menyingsingkan lengannya mencintai jalan-jalan agama, yakni kebahagiaan. Walaupun memang pada awalnya seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan tidak pernah terlepas dari berbagai pukulan kesulitan, dan sesungguhnya kapan jiwa ini dipaksa untuk terus menerus melakukan sesuatu dan diarahkan untuk selalu tunduk dan bersabar di atasnya, maka perkara-perkara ini akan mengantarkanya kepada taman-taman yang sangat menakjubkan, dan tempat orang-orang yang shiddiq, kedudukan mulia, mendapatkan berbagai kelezatan lainnya yang melebihi lezatnya para raja. Sedangkan dunia itu tidak lebih seperti seorang anak yang sedang bermain-main burung merpati. (‘Uluwul Himmah)

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullahu berkata, "Wajib bagi para penuntut ilmu untuk mengerahkan seluruh kesungguhannya dalam rangka memperbanyak ilmunya dan bersabar atas setiap perkara yang berusaha mengganggunya, dan niatkan ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala Ta’ala dalam mendapatkan ilmu tersebut baik secara nash maupun istinbath. Kemudian berkeinginan dan cinta untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Allah Subhanahu wata’ala memberikan pertolongan dalam menuntut ilmu."

3 Dalam hadits, Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam disaat perang khaibar bersabda :

"لأعطين الراية غدا رجلا يحب الله ورسوله، ويحبه الله ورسوله، يفتح الله على يديه"، فبات الناس يدوكون ليلتهم أيهم يعطاها، فلما أصبحوا غدوا على رسول الله كلهم يرجون أن يعطاها، فقال : " أين علي بن أبي طالب ؟، فقيل : هو يشتكي عينيه، فأرسلوا إليه فأتي به

“Sungguh akan aku serahkan bendera (komando perang) ini besok pagi kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, Allah akan memberikan kemenangan dengan sebab kedua tangannya.” Maka semalam suntuk para sahabat memperbincangkan siapakah di antara mereka yang akan diserahi bendera itu, di pagi harinya mereka mendatangi Rasulullah, masing-masing berharap agar ia yang diserahi bendera tersebut, maka saat itu Rasul bertanya: “Di mana Ali bin Abi Tholib?" Mereka menjawab: "Dia sedang sakit pada kedua matanya." Kemudian mereka mengutus orang untuk memanggilnya, dan datanglah ia." (Muttafaqun ‘alaih)

Salah satu faidah dari hadits ini adalah, seyogyanya seorang penuntut ilmu mengkabarkan kepada gurunya jika ia tidak hadir, sehingga paling tidak ada kabarnya, ndak menghilang begitu saja. Wallahu a’lam.

4 Dari Umar radhiallahuanhu dia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ

"Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam" (Riwayat Muslim)

Salah satu faidah dari hadits ini adalah, disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan, dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa. Wallahu a’lam

5 Lihat footnote nomor 4

6 Dari Imran radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَا يُقِيمُ اَلرَّجُلُ اَلرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ, ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ, وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا, وَتَوَسَّعُوا

"Janganlah seseorang duduk mengusir orang lain dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di tempat tersebut, namun berilah kelonggaran dan keluasan." (Muttafaq ‘laihi)

7 Disebutkan dalam sebuah syair: Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Al Imam Bukhari telah membawakan dalam kitab shahihnya pada Kitabul Ilmi, باب كتابة العلم (Bab Menuliskan Ilmu).

8 Disebutkan dalam sebuah syair:

و كم من عائب قولا صحيحا و آفته من الفهم السقيم

"Berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar, sebabnya karena pemahaman yang keliru"

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Akhlak Salaf, Ilmu dan Ulama
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image