Makna Ayat “Tetapi janganlah kamu campuri para istri itu sedang kamu beri’tikaf.”

Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah bin Al Fauzan

Tanya:

Apakah makna ayat,

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

"(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid." (Al-Baqarah: 187)

Jawab:

Allah subhanahu wata’ala melarang mencampuri istri dalam keadaan i’tikaf di masjid setelah membolehkan mencampurinya pada bulan Ramadlan. Orang-orang yang beri’tikaf tidak boleh mencampuri istri-istrinya, baik dengan jimak maupun mubasyarah1, baik pada malam atau siang hari jika orang yang beri’tikaf itu tidak berpuasa. Karena makna i’tikaf secara bahasa ialah meninggalkan perkara-perkara yang banyak dan meluangkan waktu untuk beribadah. Apabila seseorang mencampuri istrinya maka batallah i’tikafnya. Demikian pula bila ia keluar masjid tanpa ada kebutuhan mendesak juga membatalkan i’tikaf. Seperti pergi ke pasar dan lainnya.

Ayat di atas menunjukkan bahwa i’tikaf itu harus diadakan di masjid yang dipakai untuk shalat berjama’ah dan memiliki imam rawatib. Tidak boleh i’tikaf menyendiri di mushalla, rumah atau tanah lapang atau masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah. Orang yang beri’tikaf di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah di dalamnya berada di antara dua keadaan yaitu antara i’tikaf dan meninggalkan shalat jama’ah. Bila ia tetap di dalam masjid berarti ia meninggalkan shalat berjama’ah padahal shalat berjama’ah wajib hukumnya. Atau ia keluar dari masjid untuk shalat berjama’ah di masjid yang didirikan shalat jama’ah tiap shalat 5 waktu yang hal ini menghilangkan makna i’tikaf. Maka i’tikaf harus diadakan di masjid-masjid yang didirikan padanya shalat jama’ah karena lafadh ayat menyebutkan fil masajid (di masjid-masjid).

I’tikaf disebutkan pada akhir-akhir ayat puasa i’tikaf seharusnya dan lebih baik dilakukan ketika seorang dalam keadaan berpuasa dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak i’tikaf selain bulan Ramadlan yakni ketika puasa.

(Nur ‘ala Darbi Fatawa)

[Dikutip dari Majalah Salafy edisi XXIII/Ramadhan/1418 H/1998 M, penerjemah Al Ustadz Ahmad Hamdani, judul asli Fatwa Seputar Masalah Puasa dan Ramadhan]

____________
Footnote:

1 Mubasyarah bermakna dua yaitu mempergauli isteri dengan jimak dan mempergauli isteri tanpa jimak dengan menutupkan kain di atas farjinya yang meskipun suami mengeluarkan mani, tidak membatalkan puasa. Sebagaimana keterangan Aisyah radliyallahu ‘anha ketika seorang bertanya tentang mubasyarah:

مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنْ اِمْرَأَتِهِ صَائِمًا؟ قَالَتْ: كُلَّ شَيْئٍ إِلاَّ الْجِمَاعَ

"Apa yang boleh dilakukan seorang yang berpuasa terhadap istrinya? Beliau menjawab: Semuanya boleh dilakukan selain jimak" (HR. Abdur Razak dalam kitab Al Mushanaf 4/190/8439 dengan sanad shahih).

Jimak atau jima’ adalah hubungan suami istri -red. Akan tetapi hendaknya yang perlu diperhatikan bahwa keluarnya mani (tanpa jimak) tidak membatalkan puasa dan mubasyarah itu perkara lain. Kita tidak menganjurkan orang yang berpuasa Ramadhan ketika syahwat jimak sedang memuncak untuk mubasyarah dengan istrinya. Hal ini dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalam larangan (yakni berjimak –pent). Biasanya orang yang mendekati daerah terlarang akan memasukinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَامَى حَوْلَ الحِمَى أَوْشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ

"Barangsiapa berada di sekitar daerah penjagaan, dikhawatirkan akan terjerumus kepadanya." (Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani hal. 420).

Wallahu a’lam.

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Fiqih, Hidupkan Sunnah
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image