Keutamaan Bersiwak dengan Tangan Kiri

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Beliau rahimahullah ditanya tentang siwak, apakah siwak dengan tangan kiri itu lebih utama daripada siwak dengan menggunakan tangan kanan, ataukah sebaliknya? Dan bolehkah mengingkari orang yang bersiwak dengan tangan kiri? Dan manakah yang lebih utama?

Beliau rahimahullah menjawab:

Alhamdulillah, yang lebih utama adalah bersiwak dengan tangan kiri. Sebagaimana hal itu telah dijelaskan oleh Imam Ahmad dalam riwayat Ibnu Manshur Al Kuusij dalam Masail beliau.

Kami tidak mengetahui seorangpun dari para imam yang menentang dalam permasalahan ini, yang demikian itu karena bersiwak termasuk bab “Menghilangkan Kotoran” seperti halnya istintsar (mengeluarkan air dari hidung setelah menghirupnya) dan imtikhath (membuang ingus), serta yang semisalnya yang di dalamnya terdapat menghilangkan kotoran.

Itu dilakukan dengan tangan kiri, sebagaimana halnya menghilangkan najis-najis seperti istijmar (membersihkan dua jalan sebab kencing dan berak dengan batu) dan yang sejenisnya dengan tangan kiri. Menghilangkan kotoran wajib dan mustahabnya adalah dengan tangan kiri.

Perbuatan-perbuatan itu ada dua macam:
Pertama, adanya persekutuan antara dua anggota badan.
Kedua, khusus dengan salah satu anggota badan.

Sungguh telah tetap kaidah syariah bahwa perbuatan-perbuatan yang bersekutu di dalamnya bagian kanan dan kiri, maka yang lebih didahulukan adalah bagian kanan, jika perbuatan itu termasuk bab karomah (kemuliaan/kehormatan) seperti wudhu, mandi, dan memulai dengan bagian kanan ketika bersiwak, mencabut bulu ketiak, mengenakan baju, memakai sandal, menyisir rambut, memasuki masjid maupun rumah, keluar dari wc dan yang serupa dengannya.

Serta mendahulukan bagian kiri dalam hal yang berlawanan dengan yang tersebut di atas seperti memasuki wc, melepas sandal, dan keluar dari masjid.

Adapun yang khusus menggunakan satu anggota saja, jika perbuatan itu termasuk bab karomah (kemuliaan), maka dengan yang kanan seperti makan, minum, berjabat tangan, mengambil kitab dan memberikannya, serta yang sejenis dengan itu.

Jika sebaliknya, maka dengan yang kiri seperti istijmar (bersuci dengan batu), menyentuh kemaluan, istintsar (mengeluarkan air dari hidung setelah menghirupnya), imtikhath (membuang ingus) dan yang sejenisnya. (Al Fatawa XXI/108)

[Mutiara Fatwa dari Lautan Ilmu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, disusun oleh Abdullah bin Yusuf Al ‘Ajlan, penerjemah Aisyah Muhammad Bashori, penerbit Cahaya Tauhid Press, hal. 99-101]

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Fiqih, Hidupkan Sunnah
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image