Mengikuti Hawa Nafsu dalam Perkara Agama Lebih Besar Bahayanya daripada Mengikuti Hawa Nafsu Svahwat

Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan:
" …Di antara manusia ada yang kecintaan, kebencian, rasa suka, dan ketidaksukaannya diukur dengan kecintaan dan kebencian dirinya sendiri, tidak atas dasar kecintaan dan kebencian Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Hal ini termasuk bagian dari hawa nafsu, jika seseorang mengikutinya berarti dia telah mengikuti hawa nafsunya,

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun." (Al Qashash: 50) [1]

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

"Tiga perkara yang menyelamatkan: Rasa takut kepada Allah a’ala dalam keadaan sembunyi dan terang-terangan (seorang diri atau di hadapan manusia), bersikap sederhana saat miskin maupun kaya, serta ucapan yang benar baik dalam keadaan marah maupun ridha. Adapun tiga perkara yang membinasakan: Kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan bangga diri." (HR. Baihaqi dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu)

Mengikuti hawa nafsu dalam perkara agama lebih besar bahayanya daripada mengikuti hawa nafsu syahwat, karena yang pertama merupakan keadaan orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab dan kaum musyrikin sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun." (Al Qashash: 50)

Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati Al-Hafizh lbnu Ash-Shalah, ketika mempelajari dan menelusuri bahaya bid’ah dengan sebuah pemikiran yang cerdas lagi menasihati. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan:

Syaikh Abu Amr Ibnu Ash-Shalah memerintahkan untuk memecat pimpinan madrasah yang telah terkenal dari tangan Abul Hasan Al-Amadi, beliau mengatakan: "Mengambil madrasah dari dia lebih utama daripada menarik pangkal lidah . . ..", yang demikian itu karena Al-Amadi dimasanya lebih luas pengetahuan ilmu kalam dan filsafat darinya, walaupun dia seorang yang paling baik keislaman dan keyakinannya di antara mereka." [2]

[Dinukil dari kitab Al Mahajjatul Baidho fii Himayatis Sunnatil Gharrai min Zallati Ahlil Akhtho wa Zaighi Ahlil Ahwa Edisi Indonesia Obyektivitas dalam Mengritik Studi Ilmiah terhadap Metode Muwazanah dalam Jarh dan Ta’dil, Penerbit Cahaya Tauhid Press hal. 186-188]

____________
Footnote:

[1] Istiqomah (2/221-223)
[2] Majmu al-Fatawa (53-54)

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Aliran Sesat, Firqah Hizbiyah, Matikan Bid'ah
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image