Cara Menerima Catatan Amalan di Hari Kiamat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Penulis kitab Syarah Al Aqidah Al Waasithiyyah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) berkata,

فآخِذُ كِتَابِهِ بِيَمِيْنِهِ

Kemudian di antara mereka ada yang mengambil kitabnya dengan tangan kanannya.

Maka akhidzu adalah mubtada, khabarnya makhdzuf (dihilangkan) takdirnya adalah faminhum akhidzu (di antara mereka ada yang mengambil…) Dan dibolehkan mubtada itu nakiroh karena dalam kedudukan terperinci, yakni :

Sesungguhnya manusia itu terbagi menjadi beberapa macam, di antara mereka ada yang mengambil kitabnya dengan tangan kanannya. Mereka adalah kaum mukminin. Di sini ada isyarat bahwa ada kemuliaan pada tangan kanan sehingga seorang mukmin akan mengambil kitabnya dengan tangan kanannya.

Dan orang kafir akan mengambil kitabnya dengan tangan kirinya atau dari belakang punggungnya sebagaimana perkataan penulis :

وَآخِذُ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ اَوْ مِنْ وَرَاءِ ظُهُرِهِ

Dan di antara mereka ada yang mengambil kitabnya dengan tangan kirinya atau dari belakang punggungnya.

Kata aw (atau) di sini bermakna tanwi` (artinya macam cara mengambilnya) bukan karena penulis ragu. Zhahir perkataan penulis menyatakan bahwasanya manusia itu mengambil kitab mereka dalam tiga keadaan: Dengan tangan kanan, dengan tangan kiri, atau melalui belakang punggungnya. Akan tetapi dzahir perbedaan ini hanya perbedaan sifat mengambilnya saja. Orang yang mengambil kitabnya dari belakang punggungnya, hakikatnya adalah orang yang mengambil kitabnya dengan tangan kirinya. Dia mengambil dengan tangan kirinya dan dijadikan tangan kirinya dari belakangnya. Keadaannya mengambil dengan tangan kiri karena dia termasuk golongan kiri. Dan keadaan dia mengambil kitabnya dari belakang punggung nya karena dia telah berpaling dari Kitabullah dan dia juga memalingkan punggungnya dari Kitabullah di dunia. Maka menjadi adillah ketika catatan amalannya dijadikan dari belakang punggungnya di hari kiamat. Maka atas hal ini dilepaslah tangan kirinya sehingga berada di belakangnya. Wallahu a’lam.

Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا. اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

"Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (Al Isra’: 13-14)

Thaairuhu secara bahasa artinya: burungnya. Maksudnya adalah amalannya, karena terkadang manusia itu beranggapan sial atau anggapan baik dengan burung. Dan sesungguhnya manusia itu kadang ‘terbang’ dengan amalannya kemudian ‘meninggi’ atau ‘terbang’ dengannya kemudian ‘menurun’.

Fii unuqihi maknanya di lehernya. Dan ini merupakan sekuat-kuatnya ikatan bagi manusia, ketika diikat di lehernya. Karena tidak akan bisa terlepas kecuali jika manusia tersebut binasa, maka demikianlah konsekuensi amalannya. Jika hari kiamat itu terjadi maka perkaranya seperti yang dikatakan oleh Allah subhanahu wata’ala:

“Allah subhanahu wata’ala akan mengeluarkan kitab yang dia jumpai dalam keadaan terbuka.” Tidak perlu repot-repot lagi untuk membukanya. Kemudian dikatakan kepadanya: "Bacalah kitabmu," Lihatlah apa yang telah ditulis atas dirimu di dalamnya. "Cukuplah dirimu hari ini sebagai penghisab terhadap dirimu sendiri."

Dan ini adalah termasuk sempurnanya keadilan ketika diserahkan hisab tersebut kepada manusia itu sendiri. Maka manusia yang berakal seharusnya melihat apa yang akan dicatat dalam kitabnya yang akan dia dapati pada hari kiamat dalam keadaan telah tertulis.

Akan tetapi di depan kita ada pintu yang memungkinkan untuk menghapus segala kesalahan kesalahan yaitu pintu taubat. Jika seorang hamba bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala betapapun besar dosanya maka sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala akan menerima taubatnya sampai walaupun dosanya berulang dan dia bertaubat, maka sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala menerima taubatnya. Selama urusan ini ada di tangan kita, maka wajib atas diri kita untuk bersemangat agar tidak tercatat dalam kitab tersebut kecuali amalan shalih.

[Dinukil dari kitab Syarh Al ‘Aqiidah Al Waasithiyyah bab Al Iimaan bil Yaumil Aakhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian di Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh ‘Umar Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Isnaad Tangerang, hal. 74-77]

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Aqidah Ahlus Sunnah, Kiamat, Syarah Aqidah Al Wasithiyah
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image