Nama-Nama Syar’i Bagi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Syaikh Abdussalam bin Salim As Suhaimi

“Ahli sesuatu” adalah orang yang paling spesial terhadap sesuatu tersebut. Secara bahasa dikatakan, “ahli seseorang” adalah orang yang paling khusus terhadapnya, “ahlul bait” adalah penghuninya, “ahlul Islam” adalah pemeluknya, ahlul madzhab” adalah penganutnya.

Maka makna Ahlus Sunnah adalah: orang yang paling khusus terhadap Sunnah, dan paling banyak berpegang teguh dengannya, serta mengikutinya, baik dalam ucapan, perbuatan maupun keyakinan. Lafazh ini menjadi satu istilah yang diungkapkan dengan maksud salah satu dari dua makna berikut:

Makna yang pertama, makna umum: termasuk didalamnya seluruh orang yang menisbatkan diri kepada Islam selain kaum Syi’ah Rafidhah.

Makna yang kedua, makna yang lebih khusus dan lebih sempit dari makna umum, yaitu: Ahlus Sunnah yang murni yang terbebas dari kebid’ahan. Terkecuali darinya setiap pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah seperti khawarij, jahmiyah, murji’ah, syi’ah, dan selain mereka dari kalangan ahli bid’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Istilah Ahlus Sunnah digunakan untuk siapa saja yang menetapkan khilafah yang tiga (Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu’anhum), maka masuk kedalamnya seluruh kelompok kecuali Syi’ah Rafidhah. Dan terkadang maksudnya ialah ahli hadits dan sunnah yang murni, tidak masuk ke dalamnya kecuali orang yang menetapkan sifat bagi Allah Ta’ala, mengatakan bahwa al-Qur’an itu bukan makhluk, dan menetapkan bahwasanya Allah akan dilihat di akhirat, serta menetapkan takdir dan yang lainnya dari perkara yang dikenal oleh ahli hadits dan sunnah.” [Minhajus Sunnah 163/2]

Dengan demikian, maka Ahlus Sunnah adalah: para sahabat Rasuullah Shalallahu’alaihi wassalam, karena mereka mengambil langsung pokok-pokok I’tiqad dari beliau, sebagaimana mereka mengambil perkara ibadah, maka mereka orang yang paling tahu tentang sunnah Nabi dan yang paling mengikutinya dibandingkan orang sesudah mereka. Ahlus Sunnah juga adalah orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, menempuh atsar mereka, di setiap zaman dan tempat, dan yang paling terdepan dari mereka adalah ahli hadits dan atsar.

Ketika sebutan ahlus Sunnah ini ditujukan untuk para sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam dan orang-orang yang mengikuti jalan yang mereka tempuh berupa petunjuk, maka setiap kelompok saling berebut gelar tersebut, tetapi penilaian itu dilihat dari hakikat sebenarnya dan bukan dari sekedar pengakuan. Ketika kebid’ahan berkembang dalam tubuh Islam, dan semakin banyak bermunculan kelompok yang sesat, mulailah setiap kelompok tersebut menyeru kepada kebid’ahan dan hawa nafsu mereka, padahal zhahirnya mereka mengaku Islam, maka ahlul haq mesti dikenal dengan nama-nama yang membedakan mereka dari ahli bid’ah dan para penyelisih aqidah. Maka saat itu muncullah nama-nama mereka yang syar’i, yang diambil dari makna Islam itu sendiri. Diantara nama-nama mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Al Firqah an Najiyah, Ath Thaifah al Manshurah, Ahlul Hadits wal Atsar serta Salafiyun.

Siapa saja yang memperhatikan nama-nama tersebut, akan nampak baginya bahwa seluruh nama itu menunjukkan kepada Islam, sebagiannya ditetapkan dengan nash, dan sebagian yang lain melalui penelitian mereka terhadap Islam dengan penelitian yang benar, dan nama-nama tersebut menyelisihi nama-nama ahli bid’ah dan gelar-gelar mereka.

Nama-nama dan gelar-gelar ahli bid’ah terkadang dinisbatkan kepada individu-individu, seperti Jahmiyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan, Zaidiyah dinisbatkan kepada Zaid bin Ali bin Husain, Kullabiyah dinisbatkan kepada Abdullah bin Kullab, Karramiyah dinisbatkan kepada Muhammad bin Karram dan Asy’ariyah dinisbatkan kepada Abul Hasan al Asy’ari.

Dan terkadang dinisbatkan kepada gelar-gelar yang diambil dari pokok bid’ah mereka, seperti Rafidhah, karena penolakan (rafdh) mereka kepada Zaid bin Ali, atau karena penolakan mereka kepada kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, dan kelompok nawashib karena mereka memancangkan (nashab) permusuhan terhadap ahlil bait. Adapun Qadariyah karena pembahasan mereka dalam masalah takdir. Kelompok Shufiyah karena pakaian mereka yang terbuat dari kain wol (shuf). Kelompok Bathiniyah karena anggapan mereka bahwa nash-nash itu memiliki makna lahir dan batin. Kelompok Murjiah karena mereka mengakhirkan atau mengeluarkan (irja’) amalan dari rangkaian iman.

Terkadang gelar-gelar tersebut disebabkan keluarnya mereka dari aqidah kaum Muslimin dan jamaah mereka, seperti Khawarij karena keluarnya mereka (khuruj) dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, kemudian Mu’tazilah karena i’tizal (memisahkan diri) pemimpin mereka, Washil bin ‘Atha dari majelis Hasan al Bashri. [Lihat kitab Mawaqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah min Ahlul Ahwa’ wal Bida’ oleh Syaikh DR. Ibrahim Ar Ruhaili 45-46/1 yang merupakan kitab yang tepat untuk bab ini]

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata dalam kitab Hukmul Intina ilal Firaq wal Ahzab wal Jama’at al Islamiyah (hal:21), “Ketika muncul kelompok-kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam, padahal bertentangan dengan pokok pemikiran kaum Muslimin, maka muncullah nama-nama khusus yang syar’i bagi jamaah Muslimin sebagai penolakan terhadap kelompok-kelompok tersebut dan hawa nafsu mereka, baik nama-nama tersebut ditetapkan dengan syariat, seperti Al Jama’ah, Al Firqatun Najiyah dan Ath Thaifah al Manshurah, atau karena berpegangnya mereka dengan sunnah-sunnah di hadapan ahli bid’ah, oleh karena itu muncullah keterikatan mereka dengan generasi pertama. Sehingga mereka disebut As Salaf, Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Nama-nama yang mulia ini menyelisihi setiap nama dari firqah manapun, ditinjau dari beberapa sisi:

Pertama: Bahwa nama-nama tersebut merupakan penisbatan yang tidak pernah terpisah -walaupun sesaat- dengan umat Islam, sejak awal terbentuknya di atas manhaj Nubuwah, dan ia mencakup seluruh kaum muslimin di atas jalan generasi pertama serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam mengambil ilmu dan metode memahaminya, serta karakteristik dakwah kepadanya. Juga pentingnya membatasi kelompok yang selamat itu hanya Ahlus Sunnah wal Jamaah, dimana mereka adalah pemilik manhaj ini, yang akan senantiasa ada sampai hari kiamat sebagaimana sabda Nabi Shalallahu’alaihi wassalam:

لاَ تَزَالُ طاَئِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظاَهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku dalam keadaan dzahir (menang) di atas al haq, tidak memudharatkan mereka orang yang menyelisihi mereka. Demikian keadaan mereka sampai datang perkara Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 7311 dan Muslim no. 1920)

Kedua: Bahwa nama-nama tersebut mencakup Islam secara keseluruhan, al Kitab dan as Sunnah, maka ia tidak memiliki tendensi khusus yang bertentangan dengan al Kitab dan as Sunnah, baik menambah ataupun mengurangi.

Ketiga: Bahwa nama-nama tersebut sebagiannya ditetapkan dengan sunnah yang shahih, dan sebagian yang lainnya tidaklah muncul kecuali untuk menentang para pengikut hawa nafsu dan kelompok-kelompok sesat demi membantah bid’ah mereka, dan membedakan diri dari mereka serta menghindari keserupaan dan membungkam mereka. Maka ketika muncul bid’ah, mereka membedakan diri dengan sunnah, ketika pemikiran dijadikan sandaran hukum mereka membedakan diri dengan hadits dan atsar, ketika tersebar bid’ah dan hawa nafsu pada generasi terakhir, mereka membedakan diri dengan petunjuk salaf. Dan demikianlah…

Keempat: Bahwa ikatan wala’ dan bara’, loyalitas dan permusuhan pada mereka didasarkan pada Islam, tidak berdasarkan nama tertentu, atau propaganda yang kosong, melainkan hanya berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah.

Kelima: Bahwa nama-nama ini tidak menjadi pendorong bagi mereka untuk fanatik terhadap individu tertentu selain kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam.

Keenam: Bahwa nama-nama ini tidak menghantarkan kepada bid’ah, tidak pula kepada maksiat dan fanatik terhadap individu tertentu atau golongan tertentu.

[Dinukil dari kitab Kun Salafiyyan Alal Jaadah, Penulis Abdussalam bin Salim As Suhaimi, Edisi Indonesia Jadilah Salafy Sejati]

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Manhaj As Salafus Shalih, DAKWAH SALAFIYAH, Jadilah Salafy Sejati
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image