Sahur dan Buka Puasa Bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam (Bagian 1)

Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin As-Sidawy

(Bagian 1)

MUQADDIMAH

Termasuk prinsip Islam yang wajib diyakini dan diamalkan oleh setiap pemeluknya adalah keharusan kembali kepada ajaran Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam yang berlandaskan Kitabullah dan Sunnah-sunnah Beliau shallallahu’alaihi wasallam yang shohih dalam pengamalan agama ini, baik yang berkaitan dengan masalah Aqidah, Ibadah, Akhlak, Mu’amalah, Dakwah, ataupun yang lainnya dari segala aspek kehidupan.

Allah Azza wajalla menegaskan hal ini dalam banyak firman-Nya. Antara lain :

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali selain-Nya. Sedikit sekali yang kalian ambil pelajaran.” (Al A’roof : 3)

Juga dalam firman-Nya :

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” ( Al Hasyr : 7)

Dalam banyak hadits Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam juga menekankan hal ini di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhory dan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu :

مَا نَهَيْتُكُم عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ

“Apa yang telah aku larang untuk kalian, maka jauhilah dan apa yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian.”

Demikian pula dalam perkara agama yang masih ada perbedaan pendapat dikalangan para ‘Ulama, kaum muslimin diperintahkan untuk kembali kepada prinsip diatas. Allah Azza wajalla menjelaskan :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’ : 56)

Prinsip ini adalah jaminan keselamatan dari berbagai bentuk kesesatan selama seorang muslim masih memeganginya, hal ini diberitakan oleh Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam sabdanya :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي

“Aku telah meninggalkan bagi kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat sepeningggalku selama-lamanya selama kalian tetap berpegang teguh dengan keduanya Kitabullah dan Sunnahku “ (Hadits Hasan. Lihat: “ Ilmu Ushul Bida’ ” hal. 3/3)

Juga dalam haditsnya dari Abu Najih Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu’anhu :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسَنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Karena sesungguhnya siapa diantara kalian yang masih hidup. Maka dia akan melihat peselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian memegang teguh Sunnahku dan Sunnah khulafaurrosyidin yang diberi petunjuk. Gigit! Sunnahku dengan gigi geraham kalian… “ (HR. Abu Daud dan Tirmidzy)

Bahkan seorang itu dinyatakan tidak beriman hingga dia memiliki prinsip ini dan tunduk patuh terhadap ketentuan hukumnya (Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam). Allah Azza wajalla menerangkan :

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisaa’ : 65)

Dalam ayat lain Allah Azza wajalla mengancam setiap orang yang menentang prinsip ini setelah dia mendapatkan penjelasan :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami palingkan dia kemana dia berpaling dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’ : 115 )

Maka tidak sepatutnya bagi setiap muslim memiliki pilihan lain setelah ada ketetapan dari Allah Azza wajalla dan Rosul-Nya shallallahu’alaihi wasallam. Allah Azza wajalla berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Al Ahzaab : 36)

Sikap yang tepat adalah tunduk dan patuh seraya mengucapkan ( سَمِعْنَا وَ أَطَعْنَا ) “ Kami mendengar dan ta’at”, inilah sikap kaum mukminin sebagaimana dalam firman Allah Azza wajalla :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

”Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rosul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan."Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nuur : 51)

Bila ini telah difahami bersama, maka kewajiban berikutnya adalah menggali ilmu agama ini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, hingga kaum muslim lebih banyak mengenal agamanya dengan pinsip di atas dan tidak larut dalam kejahilan yang berakibat tejadinya pengingkaran terhadap ajaran Islam.

Diantara ajaran Islam yang belum banyak difahami oleh kaum muslim adalah waktu sahur dan berbuka puasa, hingga tatkala ada sebagian kaum muslimin yang mengamalkan tuntunan Islam dalam pekara tersebut, muncul pengingkaran dahsyat yang seharusnya tidak terjadi -bila kaum muslim kembali kepada prinsip diatas- hanya dengan alasan : “ TIDAK SEPERTI KEUMUMAN MASYARAKAT ”.

Oleh sebab itulah, saya tuliskan risalah ini, semoga kaum muslimin memahami permasalahan ini dengan pikiran jernih dan hati yang lapang sehingga menganggapnya sebagai Masalah Ilmiyah yang harus dikembaikan kepada prinsip di atas dan tanpa disikapi dengan arogan.

وما أريد إلاّ الإصلاح ما استطعتُ وما توفيقى إلا بالله عليه توكلت وإليه آنيب
وصلىالله على محمد و على آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Sidayu, 22 Desember 2004 M
Abu Abdillah Muhammad Afifuddin As-Sidawy

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i
MUQADDIMAH ii
I. WAKTU PUASA 1
II. FAJAR KADZIB DAN FAJAR SHODIQ 1
III. KEUTAMAAN MAKAN SAHUR 2
IV. HUKUM MAKAN SAHUR 3
V. WAKTU SAHUR 3
VI. BATAS AKHIR SAHUR 5
VII. BILA MERAGUKAN TERBITNYA FAJAR 6
VIII.BID’AHNYA IMSAK MASA KINI 6
IX. FAEDAH-FAEDAH MENGAKHIRKAN SAHUR 9
X. WAKTU BERBUKA PUASA 10
XI. ANJURAN MENYEGERAKAN BERBUKA PUASA 12

(Bersambung… insyaallah)

 

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Buka Puasa, Fiqih, Puasa, Ramadhan, RISALAH SUNNIY, Sahur, Shaum
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image