Sahur dan Buka Puasa Bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam (Bagian 2)

Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin As-Sidawy

(Bagian 2)

I. WAKTU PUASA

Kapan dimulai puasa ? Dan kapan berakhir? Hal ini telah diterangkan secara global oleh Allah Azza wajalla dalam firman-Nya :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Al Baqoroh : 187)

Dalam Shohih Al-Bukhory (1917) dan Muslim (1091/35) dari jalan Abu Hazim Salamah bin Dinar dari Sahl bin Sa’d radhiallahu’anhu beliau menjelaskan : “ Tatkala ayat ini turun, bila ada seseorang yang hendak puasa, dia mengikat di kedua kakinya tali hitam dan tali putih, lalu dia terus saja makan dan minum hingga jelas nampak baginya pemandangan (dua tali tadi).

Maka Allah Azza wajalla turunkan setelah itu (مِنَ الْفَجْرِ ) merekapun tahu bahwa yang dimaksud adalah malam dan siang.”

Juga disebutkan dalam Shohih Al-Bukhory (1916) dan Muslim (1090) dari jalan ‘Amir bin Syurohbil As-Sya’by dari Ady bin Hatim radhiallahu’anhu, beliau menguraikan : “ Tatkala turun ayat ini, saya mengambil ikatan hitam dan ikatan putih lalu saya letakkan di bawah bantalku, saya lihat di malam hari namun tidak nampak bagiku, saya pun pergi di pagi hari menuju Rosulullah shallallahu’aaihi wasallam, lalu saya ceritakan hal tersebut kepada Beliau shallallahu’aaihi wasallam, maka Beliau shallallahu’aaihi wasallam bersabda

"إِنَّمَا ذَالِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَ بَيَاضُ النَّهَارِ "

“yang dimaksud adalah kegelapan malam dan putihnya (terangnya) siang”

Al-Imam Al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqolany rahimahullah, salah seorang Imam besar dari Madzhab Syafi’iy, wafat tahun 852 H. Dalam Kitabnya Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhory 4/633 cet. Daarul Fikr, Bairut-Libanon tahun 1416H/1996 M. Menjelaskan : “ Makna ayat ini adalah : Hingga nampak jelas putihnya siang dari hitamnya malam, kejelasan ini dicapai dengan terbitnya fajar shodiq.”

Silahkan periksa keterangan senada dari Al-Imam Asy-Syaukany Muhammad bin Ali bin Muhammad. Wafat tahun 1250 H. Seorang Imam besar dari Yaman, dalam tafsir beliau Fathul Qodir (1/339 cet. Daarul Wafa’-AL-manshurih-Mesir th 1418 H/1997 M).

II. FAJAR KADZIB DAN FAJAR SHODIQ

Ayat dan hadits di atas menjelaskan kepada kita secara gamblang batas akhir waktu sahur dan dimulainya waktu puasa. Yaitu dengan terbitnya fajar shodiq sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Imam Asy-Syaukany.

Dengan terbitnya fajar shodiq, masuknya waktu sholat shubuh, dimulainya waktu puasa dan berakhirnya waktu sahur.

Lalu bagaimana dan apa fajar kadzib dan fajar shodiq itu? Masalah ini telah dibahas oleh kakanda tercinta Al-Akh Agus Su’aidi dalam tulisannya “PEDOMAN WAKTU SHOLAT ABADI SESUAI PETUNJUK NABI shallallahu’aaihi wasallam ”. Silakan merujuk ke sana.

Sementara itu, penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar di atas ditopang oleh banyak hadits dari Rosulullah shallallahu’aaihi wasallam. Diantaranya :

1. Dari ‘Aisyah dia berkata : Bahwasanya Bilal biasa adzan pada waktu malam, maka Rosulullah shallallahu’aaihi wasallam bersabda :

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَى يُؤَذِّنُ إِبْنُ أُمِّ مَكْتُمٍ فَإِنَّهُ لاَيُؤْذَنُ حَتَى يَطْلَعَ الفَجْرُ

“ Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum adzan, sebab dia tidak adzan hingga terbit fajar.” (HR. Al-Bukhory [1918-1919] dan Muslim [1092/387])

Hadits ini juga datang dari shohabat Ibnu Umar radhiallahu’anhuma pada refrensi yang sama.

Yang dimaksud dengan tebit fajar di sini adalah fajar shodiq bukan fajar kadzib, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Ibnu Mas’ud . Lihat Shohih Muslim no: 1093.

Al Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawy rahimahullah, wafat tahun 677 H, seorang alim besar Madzhab Syafi’iy, dalam kitabnya Syarh Shohih Muslim (7/176 cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyah-Libanon tahun 1415 H/1995 M). Menjelaskan : “Hadits ini menunjukkan kebolehan makan, minum, jima’ (hubungan suami-istri) dan segala sesuatu, hingga terbit fajar.”

2. Dari Samuroh bin Jundub : Bahwa Rosulullah shallallahu’aaihi wasallam bersabda :

لاَ يَغُرَّنَّ أَحَدَكُمْ نِدَاءُ بِلَالٍ مِنَ السَّحُورِ وَلاَ هَذَا الْبَيَاضُ حَتَّى يَسْتَطِيرَ

“Janganlah menipu kalian untuk sahur adzan Bilal ataupun cahaya putih ini (fajar kadzib) hingga dia menyebar (fajar shodiq) “ (HR. Muslim no. 1094).

Bila keterangan di atas dapat difahami bersama, maka berikut ini saya bawakan beberapa permasalahan seputar sahur :

III. KEUTAMAAN MAKAN SAHUR

Makan Sahur memiliki banyak keutamaan diantaranya :

1.Makan Sahur adalah barokah.

Dalam Shohih Al-Bukhory (1923) dan Muslim (1095) dari jalan Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rosulullah shallallahu’aaihi wasallam bersabda :

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً

“ Makan sahurlah kalian, karena Makan Sahur di dalamnya ada barokah”

Para ‘Ulama memperbincangkan makna barokah pada Makan Sahur.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan : “Pendapat yang tepat adalah bahwa barokah pada Makan Sahur dapat dicapai dari banyak sisi yaitu Mengikuti Sunnah, Menyelisihi Ahli Kitab, Memperkuat Diri dengan sahur untuk ibadah, Menambah Semangat, Mencegah Akhlak Jelek yang ditimbulkan oleh kelaparan, Menyebabkan adanya Amalan Shodaqoh kepada orang yang meminta pada waktu itu atau makan bersamanya, Menyebabkan adanya Amalan Dzikir dan Do’a di waktu maqbulnya do’a, Mengoreksi Niat Puasa bagi yang lupa sebelum tidur.” (Fathul Bari, 4/693)

2. Menyelisihi Ahli Kitab

Dalam Shohih Muslim (1096) dari hadits ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallahu’anhu bahwa Rosulullah shallallahu’aaihi wasallam bersabda :

فَصَلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَ صِيَامِ أَهْلِ الكِتَابِ أَكْلَةُ السَحْرِ

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah Makan Sahur“

(Bersambung… insyaallah)

 

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Buka Puasa, Fiqih, Puasa, Ramadhan, RISALAH SUNNIY, Sahur, Shaum
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image