Sahur dan Buka Puasa Bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam (Bagian 3)

Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin As-Sidawy

(Bagian 3)

IV. HUKUM MAKAN SAHUR

Telah lewat hadits Anas radhiallahu’anhu di atas yang menunjukkan perintah Makan Sahur, sementara hukum asal perintah adalah wajib namun telah dinukil kesepakatan para ‘Ulama tentang Sunnahnya Makan Sahur. Dinukil oleh Ibnu Mundzir sebagaimana dalam Fathul Bari (4/639) dan Al-Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim (7/179).

Yang merubah hukum wajib menjadi Sunnah adalah riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu’aaihi wasallam penah berpuasa Wishol, lihat Shohih Bukhory (1922).

Makan Sahur dikatakan sah dengan memakan sesuatu apapun walau hanya meminum seteguk air.

V. WAKTU SAHUR

Ayat Surah Al-Baqoroh yang telah lewat di atas menunjukkan bahwa sahur bisa dilakukan kapan saja pada waktu malam, yang penting tidak melebihi fajar shodiq, namun telah datang banyak riwayat yang menganjurkan makan sahur hingga mendekati fajar shodiq diantaranya adalah:

1. Dari Sahl bin Sa’ad dia berkata : “saya makan sahur dengan keluargaku, lalu saya bersegera untuk mendapat sujud (sholat fajar) bersama Rasulullah shallallahu’aaihi wasallam “. (HR Bukhory no. 1920)

“Yang dimaksud oleh Sahl bin Sa’ad adalah karena sahurnya sangat dekat dangan tebitnya fajar (shodiq), maka dia bersegera dalam sahur dan hampir tidak mendapatkan sholat subuh bersama Rasulullah shallallahu’aaihi wasallam karena Beliau shallallahu’aaihi wasallam memulai sholat subuh pada waktu gholas (diawal waktu).”

Demikian diterangkan Al Qodhi ‘Iyad Al Maliky sebagaimana yang dinukil oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 4/67

2. Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu’anhu beliau berkata : “kami pernah sahur bersama Nabi shallallahu’aaihi wasallam kemudian Beliau bangkit untuk sholat” saya (Anas bin Malik ) bertanya : berapa jarak antara adzan dan waktu sahur? Dia jawab : “seukuran lima puluh ayat” (HR Bukhory no. 1921)

Hadits-hadits di atas dijadikan dalil oleh para ‘Ulama untuk menunjukkan Sunnahnya mengakhirkan sahur hingga mendekati terbit fajar.

Berikut ini akan kami bawakan perkataan ‘Ulama dahulu maupun sekarang tentang hal ini sebagai gambaran jelas bagi kaum muslimin bahwa masalah ini telah diterangkan dan dipraktekkan oleh mereka :

Ø Al Imam As-Syafi’iy

“saya menganjurkan sahur diakhirkan selama tidak mendekati waktu yang ditakutkan telah terbit fajar, sebab (bila terbit fajar) saya menyukai sahur di stop pada saat itu…” (Al-Umm, 2/106 cet.1 Daarul Fikr tahun 1422 H/2002 M)

Ø Al Imam Ahmad bin Hambal

“menakjubkan diriku mengakhirkan sahur karena hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit …” , lalu beliau membawakan hadits Zaid di atas. (lihat Asy-Syarhul Kabir 4/220 cet. 1 Daarul Hadits Cairo tahun 1416 H/1996 M dan Al Mughni karya Ibnu Qudamah 4/251 cet. sama )

Ø Al Imam Ibnu Hazm Al Andalusy wafat Th 456 H

“Termasuk Sunnah menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur…” (lihat : Al Muhalla 6/240. cet. Daarul Afaq – Al Jadidah, Beirut tanpa tahun)

Ø Al Imam Nawawy

“di dalam hadits ini (hadits Zaid) ada anjuran mengakhirkan waktu sahur sampai waktu fajar. ” (Syarah Shohih Muslim, 7/180)

Bahkan beliau menukilkan kesepakatan Madzhab Syafi’iy dan para ‘Ulama lain tentang hal ini : “madzhab kami dan yang lainnya dari kalangan para ‘Ulama telah sepakat bahwa sahur adalah Sunnah dan mengakhirkannya adalah lebih utama. ” (lihat : Al Majmu’ Syarhul Muhadzab 6/621 cet : 1 Daarul ihya’ ut turots al ‘araby Beirut th 1422 H/2001 M)

Ø Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisy wafat th 630 H.

“Yang terpilih adalah mengakhirkan sahur dan menyegerakan buka puasa” (Al-Mughni, 4/251)

Ø Al Imam Ibnu Qudamah wafat th 682 H

“dianjurkan menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur” (As-Syarhul Kabir, 4/219)

Ø Imam Ibnu Katsir wafat 774 H

“Dianjurkan mengakhirkan sahur hingga waktu terbitnya fajar” (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/228 cet.10, Daarul Ma’rifah-Bairut tahun 1418 H/1997 M)

Ø Al-Hafizh Ibnu Hajar wafat tahun 852 H.

“Hadits ini (hadits Zaid) ada penjelasan tentang mengakhirkan sahur, sebab hal ini tersebut lebih mencapai maksud (puasa)” (Fathul Bari, 4/638)

Ø Al Imam Syaukani wafat th 1255 H

“Di sini ada dalil yang menunjukkan di syari’atkan mengakhirkan sahur dan telah lewat penjelasan Ibnu Abdil Barr, bahwa hadits yang mengakhirkan sahur adalah shohih lagi mutawatir. ” (lihat Nailul Author 4/303 cet. 4 Daarul Fikr, tanpa tahun).

Dan beliau berpendapat bahwa hal ini adalah Sunnah, sebagaimana dalam kitab beliau (Ad-Darory Al-Mudliyah 1/379 Cet. 4, Maktabah Al-Irsyad-Shon’a-Yaman tahun 1421 H/2001M).

Ø Al Imam Al ‘Allamah Muhammad bin Sholih Al Utsaimin wafat 1421 H/2001 M

“Yang Sunnah adalah mengakhirkan sahur selama tidak khawatir terbit fajar, karena hal ini adalah perbuatan Nabi shallallahu’alaihi wasallam”

(Lihat Majalis Syahri Romadlon hal 124 cet.1, Maktabah Al-Irsyad-Shon’a-Yaman tahun 1421 H/1996 M”).

Periksa juga penjelasan beliau lebih panjang dalam karya besar beliau (As-Syarhul Mumti’ 3/80-81 cet. Daarul Atsar, Mesir, tanpa tahun)

Ø Al Imam Al Alamah Muqbil bin Hadi wafat 1421 H/2001 M

“Sahur lebih afdhol di akhirkan sampai menjelang fajar kira-kira 60 ayat …” (Ijabatus Sail hal 165 cet. 1 Daarul Hadits-Dammaj tahun 1416 H/1995 M)

Ø Al Imam Syaikh Abdullah Aalu Bassam (murid Imam As Sa’dy, sezaman dengan Syaikh Al Utsaimin)

“Hadits-hadits yang memerintahkan dan menganjurkan sahur, mengakhirkan waktunya, menyegerakan berbuka adalah mutawatir, sebagaimana yang dihikayatkan oleh At-Thohawy dan yang lainnya” (Taudlihul Ahkam 3/156 cet. Daarul Qiblah tanpa tahun).

Dalam karya beliau yang lain Taisirul Allam ( 2/38 cet. 7 Daarul Fikr tahun 1407 H/1987 M). Tatkala menyebutkan hadits Zaid bin Tsabit di atas beliau menyebutkan faedahnya di antaranya : “Keutamaan mengakhirkan sahur hingga menjelang fajar”.

Ø Al Imam ibnu Daqiq Al-Ied wafat 702 H

“Dalam hadits ini (hadits Zaid) ada dalil yang menunjukkan anjuran mengakhirkan sahur dan mendekatkannya pada fajar”. (Ihkamul Ahkam 2/163 cet. 1 Daarul Kutub Al-Ilmiyah-Bairut tahun 1420 M/2000 M).

Ø Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al Hilaly wafaqohumullah (murid ahli hadits zaman ini Al Imam Nasiruddin Al Albany)

“Dianjurkan mengakhirkan sahur hingga menjelang fajar …” (Sifat Shoum An-Nabi hal : 46 cet. 5 Maktabah Islamiyah, tahun 1412 H).

Demikian sedikit nukilan dari para ‘Ulama dahulu maupun sekarang, cukuplah bagi kaum muslimin mengambil hadits Zaid bin Tsabit sebagai pedoman dalam masalah dengan nukilan Ijma’ dari imam terkenal madzab Syafi’iy, yaitu Imam An-Nawawy rahimahullah.

(Bersambung… insyaallah)

 

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Buka Puasa, Fiqih, Puasa, Ramadhan, RISALAH SUNNIY, Sahur, Shaum
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image