Sahur dan Buka Puasa Bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam (Bagian 10 – Tammat)

Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin As-Sidawy

(Bagian 10 – Tammat)

Yang perlu diingat adalah dengan tenggelamnya matahari berarti telah habis waktu puasa dan masuklah waktu maghrib disaat itulah dikumandangkan adzan sebagai pertanda waktu buka puasa dan sholat maghrib. Lebih lnjut tentang masalah waktu sholat maghrib, baca tulisan Kakanda tercinta (PEDOMAN WAKTU SHOLAT ABADI SESUAI PETUNJUK NABI shallallahu’aaihi wasallam).

Sebelum saya akhiri pembahasan ini, perlu saya bawakan beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan oleh segenap kaum muslimin, diantaranya adalah :

1. Dianjurkan berbuka puasa terlebih dahulu walaupun dengan seteguk air sebelum melaksanakan sholat maghrib, dan ini adalah pendapat Jumhur ‘Ulama sebagaimana zhohir hadits diatas.

Dan diriwayatkan dari Umar bin Khoththob dan Utsman bin Affan radhiallahu’anhuma dengan sanad shohih bahwa beliau berdua bebuka puasa setelah sholat maghrib (lihat Al-Umm 2/106)

2. Al-‘Allamah Sholih bin Fauzan Al-fauzan memperingatkan :

“Di sini ada perkara yang harus diperhatikan yaitu sebagian orang terkadang duduk di meja buka puasanya, makan dan meninggalkan sholat maghrib secara berjama’ah di masjid, diapun terjatuh pada kesalahan fatal yaitu tidak berjama’ah di masjid, diapun luput dari pahala besar dan menyerahkan dirinya kepada adzab.

Yang dianjurkan bagi orang yang puasa adalah dia berbuka puasa terlebih dahulu lalu pergi sholat kemudian makan malam setelah itu.” (Al-Mulakhoshul Fiqh hal.230).

Hal ini juga diingatkan oleh ahli hadits terkemuka zaman ini Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah dalam karya besar beliau Silsilah Dho’ifah No: 631, lihat : Nudhumul Faroid (1/513-514).

3. Al-Hafizh Ibnu Hajar memberi peringatan tegas : “Peringatan !!! Termasuk kebid’ahan yang di ingkari adalah apa yang terjadi di zaman sekarang ini yaitu mengumandangkan adzan subuh yang ke-dua sekitar 1/3 jam sebelum fajar di bulan Romadhon dan memadamkan lampu yang dijadikan sebagai tanda haramnya makan dan minum bagi yang hendak puasa, dengan anggapan dari orang yang mengadakannya bahwa hal tersebut untuk kehati-hatian dalam ibadah, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali beberapa gelintir orang.

Perbuatan ini pun membuat mereka tidak mengumandangkan adzan (maghrib) kecuali setelah matahari sudah lama tenggelam, “untuk memantapkan waktu” kata mereka. Merekapun mengakhirkan buka puasa, menyegerakan sahur dan menyelisihi Sunnah.

Oleh sebab itulah sedikit sekali kebaikan ada pada mereka dan menyebarlah kejelekan di kalangan mereka, wa allahu musta’an.”(Fathul Bari 4/713 –714)

Saya katakan : “Alangkah miripnya apa yang terjadi di zaman beliau dengan apa yang terjadi di zaman sekarang, hanya saja dulu menggunakan cara ”memadamkan lampu” dan sekarang menggunakan ”IMSAK”atau “SIRENE”!!!

Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini bisa menjadi penjelasan bagi kaum muslimin yang menginginkan kebenaran dalam agamanya dan dapat merubah kebiasaan umum di kalangan masyarakat namun menyempal dari ajaran islam ini.

وما أريد إلاّ الإصلاح ما استطعتُ وماتوفيقى إلا بالله عليه توكلت وإليه آنيب
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
وصلىالله علىنبينا محمد و على آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا

(TAMMAT)

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Buka Puasa, Fiqih, Puasa, Ramadhan, RISALAH SUNNIY, Sahur, Shaum
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image