Sahur dan Buka Puasa Bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam (Bagian 9)

Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin As-Sidawy

(Bagian 9)

Berikut ini saya bawakan penjelasan para ‘Ulama dahulu maupun sekarang ttg anjuran menyegerakan berbuka puasa dan cara mengetahui masuknya waktu berbuka :

:: Al-Imam As-Syafi’iy ::

“Saya menganjurkan menyegerakan buka puasa dan tidak mengakhirkannya, saya tidak suka mengakhirkannya bila seseorang sengaja melakukannya setelah dia melihat ada keutamaan di dalamnya.” Kemudian beliau membawakan hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu’anhu di atas. (Al-Umm 2/106)

:: Al Imam Ibnu Abdil Barr Al-Andalusy Al-Maliky :: Wafat tahun 463 H. Seorang ‘Ulama besar yang paling faham tentang Madzhab Maliky dalam kitabnya At-Tamhid, 7/181 cet. II Al-Faruq Al-Haditsah-Cairo tahun 1422 H/2001 M. Beliau menjelaskan :

“Termasuk Sunnah adalah menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur. Menyegerakan berbuka puasa dapat terealisasikan setelah diyakini tenggelamnya matahari, tidak boleh bagi siapapun untuk berbuka puasa dalam keadaan dia ragu matahari telah tenggelam atau tidak ? Sebab kewajiban itu bila ditentukan dengan keyakinan, maka tidak boleh keluar daripadanya melainkan dengan keyakinan.

Allah Subhanhu wata’ala berfirman :

 ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

sementara awal malam adalah tenggelamnya matahari seluruhnya dari pandangan orang-orang yang melihatnya.”

:: Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusy :: tokoh utama Madzhab Zhohiri.

“Termasuk Sunnah adalah menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur, dan itu diketahui hanya dengan hilangnya matahari dari ufuqnya orang yang puasa tidak lebih daripada itu.” ( Al-Muhalla 6/240).

:: Al-Imam Al-Muhallab As-Syafi’iy ::

“Para ‘Ulama sepakat bahwa waktu buka puasa adalah bila telah diyakini tenggelamnya matahari dengan pandangan kasat mata atau khobar dua orang yang adil, demikian pula khobar satu orang adil menurut pendapat yang kuat.” ( lihat Fathul Bari 4/713)

:: Al-Imam An-Nawawy ::

dalam kitab besarnya Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab 6/262. Menukilkan kesepakatan ‘Ulama Madzhab Syafi’iy dan ‘Ulama lainya tentang anjuran menyegerakan buka puasa dengan dalil hadits-hadits shohih yang tersebut diatas, dan beliau menyebutkan dua hikmah :

1. Membantu meringankan orang yang berpuasa.
2. Menyelisihi Ahlul Kitab.

:: Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah, wafat tahun 728 H ::

Beliau pernah ditanya tentang ‘Tenggelamnya Matahari’ : “Apakah boleh bagi orang yang berpuasa berbuka dengan semata-mata tenggelamnya matahari? “

Jawab beliau : “Bila telah hilang seluruh bundaran matahari maka orang berpuasa boleh berbuka dan tidak dianggap adanya warna merah yang tersisa di ufuq. Bila telah hilang bundaran matahari, maka akan tampak hitamnya malam dari arah timur…” (Majmu’ Al-Fatawa, 25/215-216)

:: Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Amir As-Shon’any, wafat 1182 H ::

“Hadits ini (hadits Sahl) adalah dalil yang menunjukkan anjuran menyegerakan buka puasa bila telah diyakini tenggelamnya matahari dengan pandangan kasat mata atau dengan kabar seseorang yang boleh diamalkan ucapannya…” (Subulus Salam, 2/313 cet. Daarul Fikr tahun 1411 H/1991 M)

:: Al-Imam Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin ::

“Ucapan beliau : “dan menyegerakan buka puasa” yakni menyegerakannya bila matahari telah tenggelam. Yang dianggap adalah tenggelamnya matahari bukan adzan apa lagi sekarang ini orang banyak bersandar dengan jadwal lalu mereka cocokkan jadwal tadi dengan jam-jam mereka. Padahal jam-jam mereka itu mengalami perubahan, kadang maju kadang mundur.

Bila matahari telah tenggelam dan engkau menyaksikannya sementara orang–orang belum adzan, maka engkau boleh berbuka puasa karena Rosulullah shallallahu’aaihi wasallam bersabda :

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا-وَإِشَارَ إِلَىالمَشْرِقِ- وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا-وَإِشَارَ إِلَىالمَغْرِبِ- وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Bila Malam telah datang dari arah sini (timur) dan siang telah pergi dari arah sini (barat) dan telah tenggelam matahari, maka sungguh orang yang puasa telah berbuka .”

Tidak dianggap adanya sinar yang kuat, sebagian orang menyatakan : “Kita tidak berbuka puasa hingga hilang bundaran matahari dan hari mulai gelap.” Ini semua tidak dianggap, tapi lihatlah mataharinya! Bila telah hilang bagian atas maka matahari telah tenggelam dan dianjurkan berbuka puasa…” (As-Syarhul Mumti’ 3/81)

Beliau juga menjelaskan hal ini dalam kitab yang lain Majalis Syahri Romadlon hal. 125 : “Termasuk adab puasa yang dianjurkan adalah menyegerakan buka puasa bila telah dipastikan tenggelamnya matahari dengan menyaksikannya atau kemungkinan besar telah tenggelam dengan khobar yang tepercaya baik itu adzan ataupun yang lainnya…”

:: Al-‘Allamah Sholih bin Fauzan Al-Fauzan ::

“Dianjurkan menyegerakan buka puasa bila matahari dipastikan telah tenggelam dengan cara menyaksikannya atau kemungkinan besar telah tenggelam dengan khobar terpercaya baik adzan ataupun yang lainnya…” (Al-Mulakhosul Fiqh hal. 230).

:: Al-‘Allamah Abdullah Aalu Bassam ::

“Anjuran menyegerakan buka puasa. Para ‘Ulama telah sepakat dianjurkannya menyegerakan buka puasa bila matahari telah tenggelam dengan pandangan kasat mata atau kemungkinan besar telah tenggelam.” (Taudlihul Ahkam 3/153)

Di halaman yang sama beliau menjelaskan:

“Para ‘Ulama sepakat bahwa menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur adalah Sunnah yang harus diikuti, demikian dihikayatkan oleh Al-Wazir Ibnu Hubairoh dan ditegaskan oleh Syekh Taqiyuddin.”

Beliau Melanjutkan:

“ Allah Azza wajalla befirman :

 ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Ini menunjukkan bahwa buka puasa dilakukan ketika matahari tenggelam. Mereka telah sepakat bahwa puasa telah berakhir dengan tenggelamnya matahari secara sempurna, dan yang Sunnah adalah berbuka puasa ketika matahari dipastikan tenggelam serta diperbolehkannya buka puasa dengan perasangka yang kuat dengan kesepakatan (‘Ulama), karena prasangka yang kuat menduduki tempat keyakinan.”

Demikianlah sedikit penjelasan dari para ‘Ulama terkemuka saya nukilkan untuk semakin memperjelas masalah ini. Cukuplah bagi kita ayat dan hadits serta ijma’ para ‘Ulama untuk mengamalkan Sunnah yang terlupakan ini.

(Bersambung… insyaallah)

 

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Buka Puasa, Fiqih, Puasa, Ramadhan, RISALAH SUNNIY, Sahur, Shaum
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image