Ternyata Umar Patek Pernah Jadi Siswa Kebanggaan di SMA Muhammadiyah 1 Pemalang, Ajiib Gan!!

Pemalang – Pada akhirnya semua takluk pada waktu. Tidak ada yang abadi, apalagi dalam kurun waktu 25 tahun. Banyak yang telah berubah. Nama, rumah, dan juga pandangan hidup. Ada yang menjadi lebih baik. Ada yang malah lebih buruk.

Pemalang, Jawa Tengah, menjadi saksi perubahan itu. Di kota yang berbatasan dengan Laut Jawa ini, seorang remaja yang pernah menjadi kebanggaan kini menjelma menjadi tokoh teroris yang sangat menakutkan.

Ia dulu dipanggil dengan nama kesayangan Hisyam. Kini namanya lebih dikenal sebagai Umar Patek. Ia gembong teroris yang sangat diburu. Tidak hanya menebar teror bom di tanah airnya, tapi juga di manca negara. Amerika Serikat membandrol harga US$ 1 juta atau sekitar Rp 8 miliar kepada siapa saja yang bisa menangkapnya atau memberikan informasi untuk menangkapnya.

Hisyam remaja adalah siswa yang cerdas terutama untuk pelajaran eksakta. Saat bersekolah di SMA Muhammadiyah 1 Pemalang, nilai rapor blasteran Arab-Jawa itu selalu 8 untuk mata pelajaran IPA dan Bahasa Arab.

“Ia salah satu siswa kebanggaan karena pandai,” kata Wakil Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Pemalang Sucipto saat di temui detik+.

Sang guru sungguh tidak menyangka murid kebanggaan itu kini dikenal sebagai teroris kelas wahid. Hisyam yang memiliki nama Umar Patek alias Abu Syeih alias Umar Arab diduga terlibat dalam rangkaian aksi teror di Indonesia, yaitu bom Natal tahun 2000, bom Bali I yang menewaskan 220 orang, pelatihan militer di Aceh dan juga aksi teror di Filipina.

Para guru dan tetangganya mengenal laki-laki kelahiran Pemalang, 20 Juli 1966 ini sebagai orang yang pendiam dan tertutup. “Ia lulus tahun 1986. Anaknya tertutup dan jarang bergaul sehingga tidak semua guru kenal dengannya,” ungkap Sucipto.

Pemalang bagi Umar Patek barangkali tinggal menjadi masa lalu. Ia telah meninggalkan kota itu sejak lulus SMA. Sekarang kota ini bukan lagi menjadi kota yang penting untuk dikunjunginya bila pulang. Tidak ada lagi rumah keluarga sang teroris itu di kota penghasil sarung tenun ini.

Waktu kecil, Patek dan keluarga tinggal di Jalan Semeru No 20 Kelurahan Mulyoharjo Pemalang, Jawa Tengah. Sama seperti di sekolahan, putra pasangan Ali Zain dan Fatimah itu juga dianggap sebagai orang yang tertutup karena jarang bergaul dengan masyarakat.

Patek terakhir kali terlihat di kampung halamannya pada pertengahan tahun 2000 silam sebelum terjadi bom Natal 24 Desember tahun 2000. Dua tahun setelah kasus bom itu, keluarga Patek pun menghilang. Mereka pindah secara diam-diam.

Sejak 2002 itu, rumah yang ditinggal penghuninya itu lantas dialihfungsikan menjadi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta Tempat Penitipan Anak (TPA) Al-Irsyad Al-Islamiyah.

“Sejak tahun 2002 lalu orang tuanya sudah pindah ke Jawa Timur,” kata salah satu tetangga dekat Umar Patek, Rifki Toufa.

Di mata tetangga, tidak hanya Patek yang merupakan putra sulung pasangan Ali Zain dan Fatimah yang tertutup, semua keluarganya pun demikian.

Bahkan saat pindah ke Jawa Timur semua tetangga tidak ada yang diberitahu sehingga sampai saat ini tidak ada yang tahu persis dimana mereka pindah.“Saat pindah rumah para tetangga tidak ada yang tahu, tiba-tiba rumahnya sudah kosong,” terang Rifki.

Warga terkaget-kaget saat mendengar kabar Hisyam adalah Umar Patek. Tetangga tidak menyangka Hisyam yang pendiam menjadi buronan kasus teroris.

“Pertama para tetangga tidak percaya, namun setelah melihat foto di TV ternyata benar jika Umar Patek adalah Hisyam,” jelas Rifki.

Umar Patek ditangkap di Kota Abbotabad, Pakistan pada akhir Januari lalu. Ia kini menghuni Rutan Brimob Kelapa Dua dan menjalani pemeriksaan untuk mengurai jaringan terorisme di Indonesia.

(iy/iy) | detikNews

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Qaeda, Bom, Bom Bunuh Diri, Jihad Fii Sabilillah, Kafir, Khawarij, Peledakan, Pengeboman, Syahid, Teroris, Terorisme
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image