Ritual Bid’ah Keraton Yogyakarta Menjelang Peringatan Maulid Nabi

Yogyakarta – Mengawali acara Sekaten menjelang Maulid Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, Kraton Yogyakarta mulai hari ini membunyikan dua buah gamelan pusaka yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo. Dua buah gamelan itu selama satu minggu, setiap hari mulai pagi hingga malam hari ditabuh oleh para abdi dalem. Gamelan tersebut saat ini ditempatkan di Bangsal Pagongan di depan halaman Masjid Besar Kauman.

Tradisi dibunyikan dua buah gamelan tersebut merupakan cara para Walisongo terutama Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Pada saat gamelan keluar dikenal dengan sebuatan Miyos Gangsa, yakni pertanda keluarnya kedua buah gamelan dari Kraton Yogyakarta menuju Masjid Besar Kauman. Sebelum Miyos Gangsa, dilakukan prosesi Nyebar Udhik-udhik atau uang logam recehan, beras kuning dan bunga setaman oleh utusan Sri Sultan Hamengku Buwono X di Bangsal Ponconiti Kraton dan di Bangsal Pagongan. Tradisi nyebar udhik-udhik sebagai simbolisasi pemberian sedekah seorang raja kepada rakyatnya.

Mulai hari ini, Senin (7 Rabiul Awwal / 30 Jan’12) hingga Sabtu (12 Rabiul Awwal / 4 Peb’12) gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo dibunyikan secara bergantian. Saat gamelan dibunyikan banyak warga masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya untuk mendengarkannya.

Kedua gamelan akan berhenti atau beristirahat saat salat dhuhur, asar, maghrib dan isya. Di sela-sela acara tersebut di Masjid Besar Kauman pada malam hari juga digelar pengajian sebagai sarana syiar Islam.

Di sekitar halaman masjid Besar Kauman saat ini juga banyak warga sekitar yang menjual nasi gurih lengkap ingkung ayam dan lauk pauk serta daun sirih dan kinang. Nasi gurih dan daun sirih serta kinang ini hanya ada atau dijual saat kedua gamelan dibunyikan di kompleks masjid.

Dulu saat gamelan dibunyikan warga yang mendengarkan langsung mengunyah sirih dan kinang sebagai pertanda ajaran atau syiar Islam itu sudah masuk ke sanubari orang yang mendengarkan serta dipercaya akan awet muda.

“Kalau gamelan sudah ditabuh, kami selalu datang ke masjid gede untuk mendengarkan. Kami datang setiap siang hari sampai kondur gangsa atau gamelan masuk kembali ke kraton,” kata Hadi Sukirno, warga Sedayu Bantul.

(detiknews)

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam INFO SUNNIY, Matikan Bid'ah, Maulid Nabi, Nasional, Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image