Tiga Tingkatan Manusia dalam Berbuat Kebaikan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Amalan-amalan hati yang dinamai al maqamatu wal ahwal merupakan sebagian prinsip dasar keimanan dan pokok-pokok ajaran agama, seperti masalah kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan rasul-Nya Shallallahu’alalihi wasallam, tawakal, memurnikan ketaatan kepada-Nya, bersyukur, bersabar atas ketentuan-Nya, takut, dan berharap, serta berbagai konsekuensinya. Dan hal ini menuntut kita untuk melakukannya dengan segera.

Saya katakan: Seluruh amalan ini diwajibkan atas seluruh makhluk yang pada dasarnya telah dikenai perintah berdasarkan kesepakatan para imam. Manusia dalam hal ini terbagi dalam tiga tingkatan:

1. Zhalimun linafsihi (Orang yang menzhalimi dirinya), yaitu pendosa  (orang yang berbuat maksiat), yang meninggalkan apa-apa yang diperintahkan dan melakukan apa-apa yang dilarang.

2. Muqtashid (Tengah-tengah atau sedang), yaitu orang yang menunaikan perkara-perkara yang diwajibkan dan meninggalkan perkara-perkara yang dilarang.

3. Sabiqun bil khairaat (Orang yang bersegera melakukan kebaikan-kebaikan), yaitu orang yang selalu mendekatkan diri (kepada allah Subhanahu wata’ala) dengan mengerjakan perkara-perkara yang diwajibkan, meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan dan yang dimakruhkan.

Bisa jadi masing-masing dari kelompok pertengahan dan orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan memiliki dosa-dosa, namun dosa-dosa itu terhapus dengan taubat. Dan Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Atau dosa-dosa itu terhapus dengan kebaikan-kebaikan yang memupuskannya, terurai dengan aneka musibah yang meleburkannya, atau faktor-faktor lainnya.

Kelompok pertengahan dan kelompok orang yang melakukan kebaikan, mereka semua adalah wali-wali Allah Subhanahu wata’ala  yang disebutkan dalam kitabnya:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (yunus: 62-63)

Jadi, para wali Allah Ta’ala adalah orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Namun predikat ini terbagi menjadi dua: yaitu kelompok umum yaitu kelompok orang-orang pertangahan dan kelompok khusus yaitu kelompok orang-orang yang bersegera dalam melakukan kebaikan yang berada pada tingkatan tertinggi seperti para nabi dan kaum shiddiqun. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menyebutkan dua kelompok ini dalam hadits riwayat Bukhari dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : "Siapa saja yang memusuhi kekasih-Ku maka Aku nyatakan perang kepadanya. Sesuatu yang paling Aku sukai yang dikerjakan oleh hamba-Ku untuk mendekatkan diri adalah ia mengerjakan apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidak henti-hentinya mendekatkan diri dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku merupakan pendengaran yang ia gunakan, Aku merupakan penglihatan yang ia gunakan, Aku merupakan tangan yang ia gunakan untuk menyerang dan Aku merupakan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku niscaya aku melindunginya." (Shahih Bukhari No. 6502)

Adapun orang yang menzhalimi dirinya -dari kalangan orang-orang yang beriman- pada dirinya terdapat sifat kewalian, sesuai dengan kadar keimanan dan ketaqwaannya, sebagaimana pada dirinya melekat pula sifat lawannya, sesuai dengan kadar keburukan yang ia lakukan.

[Disalin dari kitab Tuhfatul ‘Iraqiyah fi A’malil Qalbiyyah, Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 10-12]

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Renungan Salaf, TAZKIYATUN NUFUS, Tuhfatul Iraqiyah
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image