Pada Diri Seorang hamba Bisa Jadi Terkumpul Perkara Kebaikan dan Dosa

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Bisa jadi pada diri seorang hamba terkumpul kebaikan-kebaikan di mana itu akan mendatangkan ganjaran pahala, dan dosa-dosa yang mendatangkan siksa. Oleh karenanya, bisa jadi ia akan menuai pahala dan mendapatkan siksa.

Ini adalah pendapat para shahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, para imam kaum Muslimin, dan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menyatakan, "(sesatnya, -pent.) kelompok Mu’tazilah yang berpemahaman bahwa orang-orang Islam yang masuk neraka tidak akan keluar darinya. Dan tidak ada syafa’at (pembelaan) bagi para pelaku dosa besar dari rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam atau orang lain, baik sebelum masuk neraka ataupun setelahnya. Dalam pandangan mereka, pada diri seorang hamba tidak akan terkumpul pahala dan siksa, kebaikan dan kesalahan. Bahkan orang yang mendapat balasan kebaikan tidak akan mendapat siksa, dan orang yang mendapat siksa tidak akan mendapat balasan kebaikan."

Dalil-dalil yang menujukkan prinsip ini baik dari Al Quran, As Sunnah, dan ijma’ ummat sebenarnya begitu banyak, namun bukan di sini tempat menguraikannya. Kami akan membahas masalah ini pada tempat tersendiri.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya dari Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang dijuluki khimar (keledai) di mana sering kali membuat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tertawa. Suatu ketika ia meminum khamr (minuman keras). Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pun menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya. (setelah itu) ia dihadapkan lagi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam (dengan kasus yang sama). Lalu ada orang yang mengatakan "semoga Alah melaknatnya" karena dia dihadapakan kepada nabi Shallallahu’alaihi wasallam dengan kasus yang sama. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "jangan kamu melaknatnya karena orang ini cinta kepada Allah dan rasulnya" (Shahih Bukhari No. 6780).

Hadits di atas menjelaskan, orang yang berdosa karena menenggak minuman keras atau dengan sebab lain, bisa jadi ia adalah orang yang mencintai Allah Ta’ala dan rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam. Sementara kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam sendiri merupakan ikatan iman yang terkuat. Sebaliknya bisa jadi seorang yang getol beribadah lagi zuhud, adalah orang yang dibenci Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam, karena dalam hatinya mengendap racun-racun kebid’ahan dan kemunafikan.

[Disalin dari kitab Tuhfatul Iraqiyah fii A’malil Qalbiyah, Karya Syaikhul Islam ibnu Taimiyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 13-14]

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Renungan Salaf, TAZKIYATUN NUFUS, Tuhfatul Iraqiyah
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image