Melakukan Amal Shalih dengan Ikhlas Hanya Untuk Allah Ta’ala Bukan Mengharapkan Selainnya

Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah hai Muhammad: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya”. (Al Kahfi: 110)

Penjelasan per-kata

Katakanlah hai Muhammad: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu: Yakni sama sepertimu dalam kemanusiaan (makan, minum, tidur, menikah, bekerja, dan wafat).

Yang diwahyukan kepadaku: Yakni Allah Subhanahu wata’ala membedakan aku (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) dari kamu dengan wahyu dan risalah (aku diberi wahyu dan risalah, sedangkan kamu tidak).

Amal yang shalih: Amal shalih adalah apa-apa yang terkumpul padanya dua perkara, yaitu ikhlas ditujukan hanya untuk Allah Ta’ala dan mencontoh nabi Shallallahu’alaihi wasallam (sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah).

Janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya: Yakni janganlah ia memaksudkan peribadatan kepada seorangpun selain Allah Azza wajalla, sama saja apakah yang dia ibadahi itu orang shalih atau selain orang shalih, ataukah yang dia ibadahi itu masih hidup ataukah sudah wafat.

Penjelasan global

Allah Azza wajalla memerintahkan nabi-Nya Muhammad shallallahu’alaihi wasallam dalam ayat ini untuk mengabarkan kepada manusia tentang hakikat dirinya, bahwasanya beliau shallallahu’alaihi wasallam adalah manusia seperti mereka. Tidak ada padanya kekhususan ilahiah dan pengatur alam semesta. Akan tetapi hanya saja Allah Azza wajalla membedakannya dengan wahyu dan risalah kenabian, dan bahwasanya di antara yang diwahyukan kepadanya adalah mengesakan Allah Azza wajalla dalam beribadah. Dan bahwasanya sesiapa yang takut bertemu Allah Azza wajalla di hari kiamat dan mengharapkan ganjaran pahala hendaknya dia mengikhlaskan amal annya hanya untuk Allah Ta’ala saja dan mencontoh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Faidah ayat ini

1. Penetapan bahwa Muhammad shallalahu’alaihi wasallam adalah manusia dan tiada padanya kekhususan ilahiah dan pengatur alam semesta.
2. Ayat ini adalah dalil dua kalimat syahadat.
3. Bahwasanya tauhid yang datang dari nabi kita Muhammad shallalahu’alaihi wasallam adalah adalah tauhid uluhiyah. Adapun tauhid rububiyah maka sesungguhnya orang-orang kafir tidak mengingkarinya.
4. Bahwasanya syarat diterimanya suatu amalan adalah ikhlas ditujukan hanya untuk Allah Ta’ala dan mencontoh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam (sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah).
5. Dalam ayat ini sebagai bantahan bagi orang yang meminta syafa’at dari orang shalih yang sudah mati karena ayat ini menafikannya dan tidak ditujukan untuk siapapun.

Keterkaitan ayat dengan bab “Apa-Apa yang Datang Tentang Riya” dan Tauhid

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa suatu amalan tidak diterima kecuali apabila padanya tidak ada unsur syirik. Dan termasuk dari syirik adalah riya.

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi]

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image