Keikhlasan Seorang Muslim Untuk Tunduk dan Patuh Menjalankan Agama

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah

Adapun keikhlasan, ia adalah hakikat (ajaran) Islam. Karena (makna) ikhlas adalah berserah diri kepada Allah Tabaroka wata’ala, tidak kepada selain-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا رَجُلا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ

"Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Az Zumar: 29)

Oleh karena itu, orang yang tidak berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala, dia adalah orang yang sombong. Barangsiapa berserah diri kepada Allah Ta’ala dan juga kepada selain-Nya berarti dia telah berbuat syirik. Kesombongan dan kesyirikan adalah dua hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Islam adalah lawan dari kesyirikan dan kesombongan. Hal ini banyak disebutkan dalam Al Quran. Dengan demikian Islam adalah persaksian kalimat

لا إله إلا الله

"Tiada Illah yang wajib diibadahi dengan benar melainkan Allah Tabaroka wata’ala"

Di mana kalimat syahadat ini mengandung penghambaan diri hanya kepada Allah Tabaroka wata’ala semata dan meninggalkan penghambaan diri kepada selain-Nya. Itulah Islam yang universal yang Allah Ta’ala tidak menerima agama selainnya dari seorangpun baik dari orang-orang yang terdahulu ataupun dari orang-orang yang datang kemudian. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran: 85)

Dan firman-Nya,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." (Ali Imran: 18-19)

Hal-hal yang telah kami sebutkan di atas merupakan keterangan yang menjelaskan bahwa pokok agama ini pada hakikatnya adalah perkara-perkara yang berkaitan dengan bathin (hati) baik berupa keyakinan ataupun amalan-amalan hati lainnya. Amalan-amalan yang sifatnya lahiriyah tidaklah bermanfaat tanpa dibarengi amalan-aalan bathin. Sebagaimana sabda nabi Shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits riwayat Ahmad di dalam musnadnya:

الإسلام علانية والإيمان في القلب

"Islam adalah ibadah yang nampak, sedangkan iman tempatnya di dalam hati" (Dhaif. Al Allamah Al Albani mendhaifkannya dalam Dhaiful Jami’ no. 2280).

Oleh karena itu, nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ  لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ   مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati.“ (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Dan dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu,

القلب ملك والأعضاء جنوده فإذا طاب الملك طابت جنوده وإذا خبث خبثت جنوده

“Hati adalah raja. Sedangkan anggota tubuh adalah balatentaranya. Jika raja itu baik, baik pula seluruh tentaranya. Jika ia jelek, jelek pula seluruh tentaranya.” (Dhaif. Al Allamah Al Albani mendhaifkannya dalam Dhaiful Jami’ no. 4138 dengan yang semisalnya)

[Disalin dari kitab Tuhfatul Iraqiyah fii A’malil Qalbiyyah, Karya Syaikhul Islam ibnu Taimiyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 26-28]

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Akhlak Salaf, Renungan Salaf, Tuhfatul Iraqiyah
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image