Mencintai Allah Ta’ala Adalah Dengan Mempelajari Al Quran dan Hadits

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Di negeri Hijaz, Syam, Yaman, Irak, Mesir, dan Khurasan, tidak didapati seorang pun dari ahli kebaikan dan ulama berkumpul untuk mendengarkan acara-acara yang diadakan dalam rangka memperbaiki hati-hati manusia. Oleh karena itu perbuatan itu dibenci oleh para imam, seperti Imam Ahmad Rahimahullah dan imam-imam lainnya. Imam Asy Syafi’i Rahimahullah menganggap perbuatan itu sebagai perkara yang diada-adakan oleh para Zindiq, beliau berkata,

خلقت ببغداد شيئا أحدثه الزنادقة يسمونه التغبير يصدون به الناس عن القرآن

"Saya mendapati perkara yang diada-adakan para Zindiq di Baghdad, mereka menamainya dengan taghbir (berkumpul untuk dzikir berjamaah, menyanyi, dan menari) yang dengannya mereka menghalangi manusia dari al Quran."

Adapun acara-acara yang didatangi oleh manusia, yaitu dalam rangka untuk menyimak, maka yang demikian itu tidak terkandung di dalamnya pelarangan dan celaan berdasarkan kesepakatan para imam. Oleh sebab itu, tolok ukur cobaan dan pujian hanyalah pada penyimakan (mendengar dengan disertai perhatian), tidak dengan mendengar biasa. Karena itu orang yang menyimak bacaan al Quran akan mendapatkan pahala, sedangkan orang yang mendengarkan bacaan al Quran tanpa sengaja tidak mendapatkan pahala. Karena segala amalan itu tergantung niatnya.

Demikain pula alat-alat musik yang dilarang untuk menyimaknya, jika seorang mendengar alunan alat-alat itu tanpa ada unsur kesengajaan, hal itu tidaklah memudharatkannya. Jika seseorang menyimak sebuah bait (sya’ir/lagu) yang mencocoki sebagian keadaannya lalu tegeraklah ketenangannya yang terpuji dan terhenyaklah sikap diamnya yang dicintai itu atau yang semisalnya, hal itu tidaklah termasuk pada hal-hal yang terlarang, sekalipun hal itu terpuji yang baik adalah gerakan hatinya yang dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam atau sesuatu yang mengandung perbuatan yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Dia benci, yatu seperti orang yang melewati sebuah rumah, lalu dia mendengar seseorang yang sedang berucap:

كل يوم تتلون * غير هذا بك اجمل فاخذ منه

"Setiap hari kalian membaca tapi jika kalian tidak melakukannya, hal itu lebih indah bagimu.

Dari perkataan di atas ini dapat diambil suatu isyarat yang sesuai keadaannya, karena isyarat merupakan bagian dari masalah qiyas, pengambilan pelajaran, dan membuat perumpamaan. Perkara sima’ (mendengar) ini merupakan perkara yang besar sekaligus populer, dan kami telah membicarakan perkara ini di tempat lainnya.

Yang dimaksud di sini adalah bahwa maksud yang ingin dicapai oleh para murid pengikut Shufi sebenarnya dapat diperoleh dengan jalan mendengar ayat-ayat suci al Quran dan Hadits nabi Shallallahu’alaihi wasallam, yang hal itu adalah hal-hal yang biasa didengar oleh para nabi ‘Alaihimussalam, ulama, tokoh cerdik pandai, dan kaum Muslimin.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." (Maryam: 58)

Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأذْقَانِ سُجَّدًا. وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولا. وَيَخِرُّونَ لِلأذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

"Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (al Israa’: 107-109)

Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)" (al Maaidah: 83)

Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal," (al Anfaal: 2)

Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya." (az Zumar: 23)

Sebagaimana Allah telah memuji orang-orang yang mau mendengar ayat-ayat-Nya dan mencela orang-orang yang tidak mau mendengarnya, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ. وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

"Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih." (Luqman: 6-7)

Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

"Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta." (al Furqaan: 73)

Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ

"Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?", seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari daripada singa." (al Muddatstsir: 49-51)

Dan ayat-ayat yang semacam ini jumlahnya cukup banyak dalam al Quran. Ini adalah apa-apa yang didengar oleh generasi salaf umat ini, tokoh-tokoh besar mereka dan para imamnya, seperti para shahabat Radhiallahu’anhum, tabi’in, dan orang-orang sepeninggal mereka, seperti Ibrahim bin Adham, al Fudhail bin Iyadh, Abu Sulaiman ad Darani, Ma’ruf al Karkhi, Yusuf bin Asbat, Hdzaifah al Marisyi, dan tokoh-tokoh selevel mereka.

Umar bin Khatab Radhiallahu’anhu pernah berkata kepada Abu Musa al Asy’ary, "Wahai Abu Musa, ingatkan kami pada Rabb kami." Lalu Abu Musa membaca (al Quran), sedang shahabat-shahabat lain mendengarkan dan menangis.

Jika Shahabat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam berkumpul, mereka memerintahkan salah seorang di antara mereka untuk membaca al Quran sementara yang lainnya menyimaknya. Telah tsabit dalam kitab shahih bahwa nabi Shallallahu’alaihi wasallam pernah melewati Abu Musa al Asy’ary yang tengah membaca al Quran, kemudian Rasulullah menyimak bacaannya. lalu beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

لقداوتى هذا مزمارا من مزامير آل داود

"Sungguh dia (Abu Musa) telah diberi seruling dari seruling keluarga nabi Daud ‘Alaihissalam"

Keesokan harinya beliau Shalalllahu’alaihi wasallam bersabda,

مررت بك البارحة وانت تقرأ فجعلت استمع لقراءتك

"Semalam aku melewatimu ketika engkau sedang membaca al Quran, lalu aku menyimak bacaanmu."

Abu Musa berkata, "Sekiranya aku tahu engkau mendengarnya niscaya aku akan membaguskan bacaanku untukmu."  (HR Bukhari 5048 dan Muslim 793)

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

زينوا القرآن من صاحب باصواتكم

"Hiasilah al Quran dengan suara-suara kalian" (Shahih, Syaikh al Albani menshahihkannya dalam Shahihul Jami’ 3580)

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

الله اشد اذنا الى الرجل الحسن الصوت بالقرآن من صاحب القينةالى قينته

"Allah lebih menyimak suara seorang lelaki yang membaguskan suaranya keika membaca al Quran daripada seoran penyanyi dengan nyanyiannya." (Hadits Dhaif. Syaikh al Albani mendhaifkannya dalam Dhaiful Jami’ 4630)

Yang dimaksud dengan adzan yakni menyimak sebagaimana firman-Nya,

وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

"dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh," (al Insyiqaaq: 2)
Yakni menyimak-Nya.

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

ما اذن الله لشئ ما اذن لنبى حسن الصوت يتغنى بالقرآن يجهر به

"Tidaklah Allah berkenan mendengarkan sesuatu seperti Ia mendengar nabi-Nya yang membaguskan suaranya ketika membaca al Quran, kemudian ia mengeraskan bacaannya tersebut (HR Bukhari 7544 dan Muslim 792)

Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

ليس منا من لم يتغن بالقرآن

"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak membaguskan bacaan al Quran." (HR Bukhari 7527)

Oleh karena itu, mendengar (sima’) merupakan bagian dari rasa cinta yang besar dan perasan yag mulia, menambah pengetahuan dan "ahwal" yang besar yang tidak dikandung ucapan biasa, tidak pula dimuat oleh tulisan.

Demikian pula meresapi (kandungan) al Quran dan menghayatinya akan menambah ilmu dan keimanan, lebih besar daripada yang diperoleh dari penjelasan (seseorang).

[Disalin dari kitab Tuhfatul ‘Iraqiyah fii A’malil Qolbiyyah, Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati dan Jenisnya, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 140-146]

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Firqah Hizbiyah, Matikan Bid'ah, Renungan Salaf, Sufisme Tasawuf, Tuhfatul Iraqiyah
One comment on “Mencintai Allah Ta’ala Adalah Dengan Mempelajari Al Quran dan Hadits

Komentar ditutup.

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image