Mencintai Allah Ta’ala Dengan Cara Menyanyi, Menari, Bersiul, dan Bertepuk Tangan, Adalah Tidak Disyariatkan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Jauh setelah masa mereka (generasi salaf), mulailah kelompok-kelompok ahli kalam dari kalangan Mu’tazilah dan kelompok-kelompok lain mengingkari masalah cinta ini. Sampai pada sebagian shufi muncullah orang-orang yang mencari alternatif lain untuk menggerakkan cinta ini dengan cara mendengar berbagai macam suara siulan dan tepuk tangan. Mereka memperdengarkan lantunan kata dan syair-syair yang berisi hal-hal yang konon dapat menggerakkan (membangkitkan) rasa cinta, menggerakkan setiap hati yang sedang memendam rasa cinta tersebut, yang mana hal itu pantas untuk diperuntukkan bagi orang-orang yang sedang jatuh cnta kepada para pemimpin, salib, saudara, kampung halaman, anak-anak muda, para wanita, sebagaimana dendangan itu pantas pula disenandungkan oleh orang-orang yang mencintai Ar Rahman (Allah Subhanahu wata’ala). Akan tetapi masyayikh yang melaukan acara tersebut mensyaratkan tempat dan kesempatan (waktu) tertentu untuk memadu suara atau melantunkan syair-syair tersebut.

Terkadang mereka mensyaratkan seorang syaikh yang menjaganya dari kalangan syaithan kemudian orang-orang selain mereka berpanjang lebar membicara perkara ini, hingga mereka beralih kepada berbagai bentuk kemaksiatan bahkan kepada jenis kefasikan. Bahkan dalam hal ini beberapa kelompok (sekte) telah terjerumus dalam kekufuran yang nyata yang mana mereka berpura-pura menampakkan kecintaan dengan berbagai lantunan syair yang berisi ungkapan-ungkapan kekufuran dan penyimpangan dari nilai-nilai kebenaran, yang hal-hal itu merupakan bentuk-bentuk kerusakan yang paling besar. Hal itu disebabkan berbagai "ahwal" yang mereka miliki, sebagaimana "ahwal-ahwal" yang dimiliki oleh orang-orang musyrik dan ahli kitab pada peribadatan-peribadatan mereka.

Pandangan yang dipegang oleh para ahli tahqiq dari kalangan masyayikh yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh al junaid Rahimahullah,

من تكلف السماع فتن به ومن صادفه السماع استراح به

"Barangsiapa yang memberat-beratkan dirinya untuk mendengar (lantunan syair, dendangan qasidah, dll), maka dia akan terfitnah dengannya. Dan barangsiapa mendengarkan hal-hal itu secara tidak sengaja maka ia akan beristirahat dengannya."

Maksudnya adalah: mengadakan perkumpulan untuk mendengarkan yang diada-adakan ini, tidaklah disyariatkan dan tidak pula diperintahkan. Tidak pula acara-acara itu dapat dijadikan sebagai ajaran agama dan sarana pendekatan diri (kepada Allah), karena pendekatan diri dan ibadah hanya diambil dari para Rasul ‘Alaihis sholatu wassalam. Demikian pula tidak ada keharaman kecuali apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan tidak ada agama kecuali apa yang disyariatkan Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?" (asy Syura: 21)

Dan oleh karena itu Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31)

Allah Subhanahu wata’ala menjadikan kecintaan mereka kepada-Nya hanya akan diperoleh dengan mengikuti Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam. Dan Dia menjadikan mutaba’ah (mengikuti) Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam sebagai sebab yang akan mendatangkan kecintaan Allah Subhanahu wata’ala kepada mereka.

Ubay bin Ka’ab Radhiallahu’anhu berkata,

عليكم بالسبيل والسنة فانه ما من عبد على السبيل والسنة ذكر الله فاقشعر جلده من مخافة الله الا تحاتت عنه خطاياه كما يتحات الورق اليابس عن الشجرة وما من عبد على السبيل والسنة ذكر الله خاليا ففاضت عيناه من خشية الله إلا لم تمسه النار ابدا وان اقتصادا فى سبيل وسنة خير من اجتهاد فى خلاف سبيل وسنة فاحرصوا ان تكون اعمالكم اقتصادا واجتهادا على منهاج الأنبياء وسنتهم

"Wajib bagi kalian berpegang dengan jalan dan sunnah ini. Tidaklah seorang hamba berada di atas jalan sunnah ini lalu mengingat Allah, kemudian kulitnya menggigil karena takut kepada Allah, kecuali akan berguguran dosa-dosanya sebagaimana rontoknya dedaunan kering dari pepohonan. Tidaklah seorang hamba berada di atas jalan sunnah ini lalu mengingat Allah dalam keadaan menyendiri, kemudian bercucuran air matanya karena takut kepada Allah, niscaya ia tidak akan disentuh api neraka seama-lamanya. Sesungguhnya sederhana dalam jalan dan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam menyelisihi jalan dan sunnah. Antusiaslah agar amalan kalian, baik dengan kesederhanaan maupun dalam kesungguhan untuk berada di atas manhaj (jalan) para nabi dan sunnah mereka."

Pembahasan tentang masalah ini telah dipaparkan secara panjang lebar di dalam buku-buku lainnya. Sekiranya hal di atas merupakan pokok yang diperintahkan dan dianjurkan (disunnahkan), serta merupakan perkara yang dapat memperbaiki hati-hati manusia terhadap dzat yang diibadahi dan dicintai, pastilah akan ditemukan dalil-dalil syari’at yang menunjukkan disyariatkannya hal-hal tersebut.

Namun telah dimaklumkan, bahwa tiga masa yang paling utama, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam sabdanya,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 2457, 2458 dan Al-Imam Muslim no. 4600, 4601, 4602 dari shahabat Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)

[Disalin dari kitab Tuhfatul ‘Iraqiyah fii A’malil Qalbiyyah, Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati dan Jenisnya, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 138-140]

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Aqidah Ahlus Sunnah, Firqah Hizbiyah, Matikan Bid'ah, Sufisme Tasawuf, Tuhfatul Iraqiyah
KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image