Lebih Baik Shalat di Masjid Ahlussunnah

Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i

Pertanyaan:

Di dekat kami ada Masjid yang Imamnya adalah Ikhwani (kader ikhwanul Muslimin) yang mana ia menyelisihi sunnah dan ketika kami shalat di Masjid ini mereka mencela kami dan menghindar dari kami, jadi apakah kami tetap shalat di masjid ini dalam kondisi darurat, mengingat bahwa Masjid Ahlussunnah jauh?

Jawaban:

Jika engkau mampu untuk pergi ke Masjid Ahlussunnah maka aku menyarankanmu dengan itu dan engkau akan mendapatkan pahala dengan mengerjakan shalat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan juga engkau akan mendapatkan pahala dari ukhuwah islamiyah dengan saudara-saudaramu Ahlussunnah, kebaikan yang banyak, serta akhlak yang baik. Karena memang ada hadits dalam Shahih Muslim dari Jaabir Bin Abdullah Radhiallahu’anhu, yang mengatakan:

خَلَتْ الْبِقَاعُ حَوْلَ الْمَسْجِدِ فَأَرَادَ بَنُو سَلِمَةَ أَنْ يَنْتَقِلُوا إِلَى قُرْبِ الْمَسْجِدِ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُمْ إِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّكُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَنْتَقِلُوا قُرْبَ الْمَسْجِدِ قَالُوا نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ أَرَدْنَا ذَلِكَ فَقَالَ يَا بَنِي سَلِمَةَ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ

“Di sekitar masjid ada beberapa bidang tanah yang masih kosong, maka Bani Salamah berinisiatif untuk pindah dekat masjid. Ketika berita ini sampai ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda; “Rupanya telah sampai berita kepadaku bahwa kalian ingin pindah dekat masjid.” Mereka menjawab; “Benar wahai Rasulullah, kami memang ingin seperti itu.” Beliau lalu bersabda: “Wahai Bani Salamah, pertahankanlah rumah kalian, sebab langkah kalian akan dicatat, pertahankanlah rumah kalian, sebab langkah kalian akan dicatat.” (Riwayat Muslim)

Artinya: Tinggal di rumahmu yang berada jauh dari Masjid sehingga langkah-langkahmu dicatat untukmu.

Dan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيْدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِي سُوْقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيْدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيْهِ يَقُوْلُوْنَ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيْهِ

Shalat seseorang dengan berjama’ah melebihi dua puluh tujuh derajat dari shalat seseorang yang dikerjakan di rumahnya dan di pasarnya, demikian itu karena bila salah seorang diantara mereka berwudhu’ dengan menyempurnakan wudlu’nya, lalu mendatangi masjid, dan tidak ada yang mendorongnya kecuali untuk shalat, maka tidaklah ia melangkah satu langkah, kecuali akan ditinggikan derajatnya dan dihapus kesalahannya, hingga ia masuk masjid, jika ia telah masuk masjid, maka ia dihitung dalam shalat selama ia tertahan oleh shalat, dan malaikat terus mendoakan salah seorang diantara kalian selama ia dalam majlisnya yang ia pergunakan untuk shalat, malaikat akan berdoa: Ya Allah, rahmatilah dia, Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah maafkanlah dia, selama ia tidak mengganggu orang dan belum berhadats. (Riwayat Muslim)

Oleh karena itu, begitu menyenangkan jika mereka dapat menghadiri shalat di Masjid Ahlussunnah, jika tidak maka saya sarankan mereka untuk mendirikan Masjid untuk diri mereka sendiri yang pembangunannya tidak memberatkan dan tidak banyak pengeluaran sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku tidak memerintahkan membangun masjid yang mewah dan tinggi”.

Dari Anas Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

“Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia berbangga-bangga dengan masjid.” (Riwayat Imam Ahmad No. 11931)

Jadi yang disunnahkan adalah bahwa masjid cukup nyaman dan sederhana. Dan jika engkau mampu membangun masjid seperti masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam maka lakukanlah, jika engkau tidak mampu maka jangan membebani diri sendiri dan tidak mewah dalam membangun masjid yang dikhawatirkan menyelisihi sunnah, seperti hiasan-hiasan kaligrafi dan menara. Juga dengan apa yang mereka sebut al-Mihraab dan apa yang mereka pasang di empat sudut masjid dan apa yang mereka sebut ash-Shurufaat (serambi dan teras), hal ini tidak ditemukan di masjid Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ketika dibangun pada waktu itu. Demikian juga Mimbar yang meningkat lebih dari tiga langkah.

Wa Laa Illaaha illallaah, karena memang tidaklah datang kepadaku seseorang apakah dia berasal dari Eritrea atau dari Indonesia atau dari Sudan dan selain mereka dari negara-negara Islam kecuali bahwa ia mengeluh dari bahaya Ikhwaan al-Mufliseen (Persaudaraan yang Bangkrut) kepada Ahlus-Sunnah. Lalu saya katakan, Wallahul musta’an, sehingga mereka IM siap untuk melakukan bergabung dengan komunis dan dengan Mulhid (ateis) dan dengan sekuler dan dengan Ba’thists, dan dengan Naasirites dan dengan para Sufi dan dengan Syiah sementara mereka tidak mau kembali dengan Sunni kecuali ketika waktu pemilu semakin dekat, memang kemudian mereka berkata:

“Diamlah dalam membicarakan tentang kami dan kami akan tetap diam membicarakan tentang kalian”.

(Tuhfatul Mujib ‘Alaa Asilatil Haadhir wal Gharib, halaman 129-131)

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Manhaj As Salafus Shalih, Demokrasi dan Pemilu, Fatwa, Fiqih, Firqah Hizbiyah, Ikhwanul Muslimin, Ilmu dan Ulama, Shalat
8 comments on “Lebih Baik Shalat di Masjid Ahlussunnah
  1. Nur Latifi mengatakan:

    Memangnya kenapa dgn para sufi? Jangan suka mencela ibadah orang lain, apalagi membahas masalah ukuran tinggi mimbar. Sibukkanlah diri dgn memperbaiki diri sendiri, mencari cacat diri sendiri. Bukan sibuk mencari-cari cacat org lain apalagi dgn melebih2kannya menurut akal fikir. Kalau hanya berbicara dgn Qur’an dan hadits mereka jg berlandaskan keduanya, kalau sdh begitu hanya menyebabkan perdebatan yg tdk ada manfaatnya. Beribadahlah sesuai dgn apa yg kau pahami dan biarkan mereka beribadah menurut apa yg mereka pahami. Keputusan benar atau tidak mutlak hanya Allah yg berhak memutuskan, bukankah kelak akan ada yaumul hisab? Jd anda tdk perlu repot utk menghitung2 dan menilai amalan org lain benar atau tidak. Wallohu Memangnya kenapa dgn para sufi? Jangan suka mencela ibadah orang lain, apalagi membahas masalah ukuran tinggi mimbar. Sibukkanlah diri dgn memperbaiki diri sendiri, mencari cacat diri sendiri. Bukan sibuk mencari-cari cacat org lain apalagi dgn melebih2kannya menurut akal fikir. Kalau hanya berbicara dgn Qur’an dan hadits mereka jg berlandaskan keduanya, kalau sdh begitu hanya menyebabkan perdebatan yg tdk ada manfaatnya. Beribadahlah sesuai dgn apa yg kau pahami dan biarkan mereka beribadah menurut apa yg mereka pahami. Keputusan benar atau tidak mutlak hanya Allah yg berhak memutuskan, bukankah kelak akan ada yaumul hisab? Jd anda tdk perlu repot utk menghitung2 dan menilai amalan org lain benar atau tidak. Wallohu Memangnya kenapa dgn para sufi? Jangan suka mencela ibadah orang lain, apalagi membahas masalah ukuran tinggi mimbar. Sibukkanlah diri dgn memperbaiki diri sendiri, mencari cacat diri sendiri. Bukan sibuk mencari-cari cacat org lain apalagi dgn melebih2kannya menurut akal fikir. Kalau hanya berbicara dgn Qur’an dan hadits mereka jg berlandaskan keduanya, kalau sdh begitu hanya menyebabkan perdebatan yg tdk ada manfaatnya. Beribadahlah sesuai dgn apa yg kau pahami dan biarkan mereka beribadah menurut apa yg mereka pahami. Keputusan benar atau tidak mutlak hanya Allah yg berhak memutuskan, bukankah kelak akan ada yaumul hisab? Jd anda tdk perlu repot utk menghitung2 dan menilai amalan org lain benar atau tidak. Wallohu Memangnya kenapa dgn para sufi? Jangan suka mencela ibadah orang lain, apalagi membahas masalah ukuran tinggi mimbar. Sibukkanlah diri dgn memperbaiki diri sendiri, mencari cacat diri sendiri. Bukan sibuk mencari-cari cacat org lain apalagi dgn melebih2kannya menurut akal fikir. Kalau hanya berbicara dgn Qur’an dan hadits mereka jg berlandaskan keduanya, kalau sdh begitu hanya menyebabkan perdebatan yg tdk ada manfaatnya. Beribadahlah sesuai dgn apa yg kau pahami dan biarkan mereka beribadah menurut apa yg mereka pahami. Keputusan benar atau tidak mutlak hanya Allah yg berhak memutuskan, bukankah kelak akan ada yaumul hisab? Jd anda tdk perlu repot utk menghitung2 dan menilai amalan org lain benar atau tidak. Wallohu a’lam…

  2. dragon_omy3@yahoo.com mengatakan:

    (Jas merah…..Jangan melupakan sejarah)
    Siapakah kita…..hai orang islam indonesia……pelajarilah sejarah islam di indonesia….jangan mudah terprovokasi untuk menghakimi ataupun taklid(ikut-ikutan) dengan mereka….Yaitu orang-orang yang mengaku-ngaku menggunakan manhaj salaf/salafy/wahabbi/para sahabat…. yang menghukumi amalan-amalan umat islam indonesia saat ini banyak yang salah seperti tahlil,ziarah kubur,membangun kubah untuk kuburan orang saleh/para wali,bahkan cara sholat wajib pun mereka anggap salah.
    dan menganggap amalan mereka sajalah lah yang benar.
    Membuat kita menjadi berprasangka yang tidak-tidak terhadap banyak sekali ulama di indonesia,bagaimanakah ulama islam di indonesia ini,apakah mereka mengada-ngada dalam mengajarkan agama ini.apakah ulama itu tidak meyakini adanya surga yang penuh kenikmatan.Serta neraka itu berisikan orang-orang yang ingkar serta berbuat dosa….apakah ulama itu mengikuti nafsu dunia….??
    Islam disebarkan dengan jalan yang sangat indah,pelajarilah sejarah bagaimana islam tersebar di indonesia…siapa-saja yang menyebarkannya….bagaimanakah murid- muridnya.
    bukankah islam mengajarkan setiap kita adalah pemimpin.suami memimpin keluarganya.bertanggung jawab kepada keluarga…..berkasih sayang,toleransi,jujur itu baik,hindari berbohong.Perbanyaklah amal,harus iklas.
    siapakah yang benar….???
    mereka mengatakan bid’ah sesat.padahal merekalah yang memperbarui agama,

    Apa yang melandaskan mereka berbuat seperti ini,tentunya para ulama mereka yang mengajarkan untuk menghukumi kafir siapa saja yang tidak ikut dalam “jama’ah” mereka.jadi islam itu hanya menurut ulama mereka.

    Mereka menganggap kita tersesat….siapakah yang tersesat….??

    mungkin mereka yang mengatakan alangkah baiknya kita berjama’ah sebagaimana orang orang yang mengajari kami(di saudi sana).Dan mereka menganggap kita terpecah belah.

    Republik yang menurut mereka terpecah…….dahulu para ulama2 islam sebelum ajaran ini(wahabbi) masuk ke indonesia sungguh telah dahulu ulama ulama kita yang terpercaya(telah melakukan usaha dengan sungguh2 mengajarkan islam sesuai dengan yang diajarkan guru-guru mereka.lebih dulu ulama2 kita berijtihad atau berkesepakat dalam suatu hal(ijma)……sedang dahulu tekhnologi tidak seperti sekarang ini….meyakini kepada ulama terdahulu bukanlah sesuatu hal yang buruk karena “ULAMA ADALAH PEWARIS PARA NABI”
    Jika ditunjukkan kepadamu hadis rasullulah saw…tanyalah dulu ulama pendahulu mengapa mereka menyelisihi hadist apakah karena hawa nafsu mereka..??
    karena ijma ulama,seperti mengizinkan membuat kubah diatas kubur yang menurut mereka batil…..padahal sebelum mereka masuk ke indonesia…ulama pendahulu,lebih dulu memutuskan hal yang demikian tidak haram.

    Apkah mereka tidak berpikir mengapa ulama mereka mengharamkan sufi,semata2 karena ulama mereka ingin menjadi islam menjadi satu kerajaan…karena orang sufi tidak suka dengan diperintah oleh hukum manusia(kerajaan mereka)pastilah mereka mengkafirkannya.

    mereka tidak mencela yazid bin muawwiyah(sebagai penguasa).padahal husain bin ali menentangnya..imam ahmad mengutuknya….mereka beranggapan lebih baik dipimpin oleh penguasa islam yang zalim (raja islam) dari pada berpecah belah(memilih presiden)….inilah sebenarnya alasan mereka membenci kita…apakah benar pendapat mereka.
    tanyalah diri kalian…..apakah benar prilaku husein bin ali ataukah salah……???

    apakah benar menurut mereka(kerajaan islam meskipun dipimpin orang zalim) benar menurut agama…….ulama mereka mengeluarkan fatwa mereka ikuti….meskipun kadang fatwanya menyelisihi ulama kita….apakah ulama mereka saja yang benar….???

    Jadi kesimpulannya adalah ulama mereka bersepakat untuk mendukung kerajaan islam itu satu saja yang menurut mereka baik……mereka beranggapan kerajaan islam lebih mulia dari republik islam karena republik lebih menguntungkan orang kafir(menurut mereka)….mereka menganggap mengikuti raja islam salafi lebih baik dari presiden islam..inilah tujuan mereka sebenarnya yaitu E Pluribus Unum. paham siapakah ini….???
    karena kalian membagi-agama islam inilah yang menyebabkan perpecahan….inilah yang menyebabkan kita tidak lagi memerangi orang kafir(yahudi).karena kita sibuk berdebat siapa benar siapa salah…..karena ada yang merasa akulah kebenaran ikutilah aku….inilah fitnah umat ini..
    mengapa kami menolaknya…..apakah kalian tidak berpikir….???

    Duhai salafi mengapa kalian mengikuti orang yang membenci kami…..kami ini bukan musuhmu…..amalan kami bukan musuhmu….mengapa kau merasa lebih mulia dari ustadz kampung…..mengapa hatimu begitu tega.sesungguhnya engkau telah tertipu akalmu…..menganggap semua bid’ah adalah sesat…..apakah kau tidak melihat sejarah….mereka mengkafirkan ulama-ulama yang berselisih dengan mereka……mengapa kau belajar agama untuk membenci kami….??

    note:
    Mereka menganggap kita ahlu bid’ah ataupun orang kafir–bersabarlah karena Allah maha adil.
    Janganlah memerangi mereka kalau mereka tidak memerangi kita,janganlah “mencaci mereka karena mereka adalah orang islam juga,hanya saja pendapat mereka salah,janganlah menzalimi mereka,karena doa orang yang dizalimi itu dikabulkan.marilah kita doakan mereka agar mereka sadar bahwa mereka telah melakukan kesalahan yang besar(memperbaharui islam).
    Sesungguhnya taubat seorang hamba pasti diterima Allah apabila kembali kejalan yang lurus).

    Ya Allah satu padukanlah kami karena, kami terpecah belah.tunjukilah kami karena kami adalah orang yang sesat)

    Dari Sayyidina Umar:Rasulullah bersabda,
    Sesungguhnya rahmat Allah itu berada pada jama’ah,sedang menyendiri berasal dari syetan,sesungguhnya kebenaran itu berasal dari surga dan kebatilan itu berasal dari neraka,sesungguhnya teman-temanku adalah orang terbaik diantara kalian,karena itu muliakanlah mereka,kemudian kurun orang-orang yang datang berikutnya,kemudian muncullah kebohongan dan fitnah)))

    Barang siapa yang mengetahui sesuatu hendaklah mengambil manfaatnya,sesungguhnya musuh kita orang-orang yang memusuhi islam,maka kenalilah temanmu,
    terimalah kebenaran.
    Berbahagialah di antara kalian orang yang telah dipelihara dari hawa nafsu,kemarahan,ketamakan dan karunia kebenaran dalam berbicara,karena kebenaran pembicaraan akan menarik dia kepada kebaikan.Barang siapa berbohong,maka dia melakukan kejahatan,barang siapa melakukan kejahatan maka dia akan binasa.Kerjakanlah amal hari demi hari,hindarilah do’a orang-orang yang teraniaya dan anggaplah dirimu termasuk orang-orang yang meninggal.
    “Hendaklah seseorang diantaramu memelihara diri dari ucapan:aku berpuasa,jika sifulan berpuasa dan aku shalat malam karena sifulan shalat malam.Barang siapa diantara kamu berpuasa atau shalat malam maka hendaklah menjadikannya karena Allah.”

    wassalam

    • dragon_omy3@yahoo.com mengatakan:

      berdamainya umat islam,adalah awal untuk mengikuti sunnah nabinya…yaitu memerangi orang kafir yang nyata..menegakkan hukum Allah kepada mereka…..tidak mendahulukan HAM ataupun toleransi diatas hukum ALLAH…islam vs yahudi…..cepat atau lambat…..perang akhir jaman…dan tidak takut….karena percaya kepada janji Nya

  3. arsyil mengatakan:

    kami tidak pernah menghakimi amalan kalian, tp bukankah syarat diterimanya amalan adalah sesuai syariat dan ikhlas. berilmulah sebelum beramal wahai saudaraku

    • arf al-mossafer mengatakan:

      Orang2 sesat dituntun pd jln yg benar sesuai syariat.jika ia menolak itu urusanya dia dgn allah swt yg penting kita menyampaikannya dgn dalil dan sopan.orang yg malas dgn cara memudahkan agamanya spt:solat dgn batien saja atau cara2 lain yg tdk ada dalilnya maka ia orang munafik.peganglah surah al kafirun bagimu agamamu bgiku agamaku.cukuplah dinasehati jgn iri.

  4. arif sambora mengatakan:

    Beribadah jangan mengikuti apa kata Ustad,kyai.Guru,apalagi kata orang,tapi ikutilah Allah dan RasulNya,yaitu Al Qur`an dan Assunnah.

  5. ibnu mu'idz mengatakan:

    coba dengar tausyiah: http://radiorodja.com/900/prinsip-ahlus-sunnah-terhadap-masalah-kekufuran-dan-takfir/

    salafy tidak sembarang mengecap orang itu sebagai Kafir atau fasiq.
    coba liat video ustadz Abu Yahya di youtube tentang Salafi.

  6. muslimah mengatakan:

    al ilmu qobla qoul wal amali. inilah pentingnya menuntut ilmu syar’i. agar kebenaran tampak sebagai sebuah kebenaran dan kebatilan sebagi hal yang mesti dijauhi. bukannkah hadist nabi shalallallahu’alayhi wa sallam dar ‘aisyah radhiyallahu’anha ” barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak pernah aku contohkan maka amalannya tersebut akan tertolak”. ikhlaskan niat dalam mencari kebenaran sebagai sebuah kemestian. bagaiamana islam akan ditolong allah memerangi kaum kuffar jika aqidah kita masih belum bersih, amalan2 kita masih tercampur dengan hal2 yg baru dlam agama.. mungkinkah akan jadi sebab turunnya pertolongan allaah? hatta jika seorang kiyai yang antusias tahlilan dan sejenisnya..maka nasehati dengan hikmah dan lemah lembut. jika menolak, lebih baik dijauhi. ini prinsip di dalam islam. jika yang mengetahui kebenaran itu diam, maka siapa lagi yang akan menyampaikan kebenaran itu. para pendahulu kita tidak gratis mendapatkan islam. mereka mengorbankan nyawa, harta utk dinul islam. lalu, bagaimana dengan kita yang dapat gratis memeluk islam karena islam turunan?? silahkan memilih. wallahua’alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image