Sekiranya Qalbu Mereka Bersih Tentu Tidak Akan Berpaling dari Al-Quran dan As-Sunnah

Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan qalbu mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh adzab yang besar.” Setelah firman-Nya,

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ

“Mereka terbiasa mendengar (berita-berita) dusta dan terbiasa mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu, mereka mengubah kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya.” (Al Ma’idah: 41)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba yang terbiasa mendengar dan menerima sesuatu yang bathil, maka hal itu akan menjadikannya terbiasa mengubah al haq (kebenaran) dari yang semestinya. Jika dia sudah menerima kebathilan, maka dia akan menyukai kebathilan serta meridhainya.

Maka jika datang suatu kebenaran yang berbeda dengan kebathilan yang telah dia terima, serta-merta ia menolak dan mendustakannya, jika ia mampu untuk melakukannya. Jika tidak mampu maka ia akan mengubahnya.

Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Jahmiyah dengan ayat-ayat sifat-sifat Allah Ta’ala dan hadits-haditsnya. Mereka menolak perkara ini dengan takwil (tahrif: meletakkan kalimat bukan pada maknanya yang dtunjukkan oleh dalil, tidak secara syar’i tidak pula secara bahasa) yang ini merupakan pendustaan terhadap hakikat maknanya. Yang ini mereka katakan hadits-hadits ahad yang tidak boleh berpegang atasnya pada bab mengenal Allah Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.

Orang-orang tersebut, juga orang-orang seperti mereka itulah yang Allah tidak hendak mensucikan qalbu mereka. Karena, seandainya qalbu mereka bersih tentu tidak akan berpaling dari al haq (kebenaran), serta mereka tidak akan berkelit dengan kebathilan untuk menggantikan firman Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam.

Sebagaimana orang-orang yang menyimpang dari mereka yang menginginkan kebaikan tetapi menempuh cara yang salah, tatkala qalbu mereka tidak lagi bersih maka mereka mengganti dengan mendengar dendangan atau nyanyian yang bersifat syaithani daripada mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang penuh dengan imani.

Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu berkata, “Sekiranya qalbu kita bersih, niscaya tidak akan pernah puas dengan Kalamullah (Al Quran)”

Maka qalbu yang bersih karena kesempurnaan kehidupan, cahaya, dan bersihnya dari berbagai kotoran dan keburukan tidak akan pernah puas dengan Al-Qur’an. Qalbunya tidak akan menyantap kecuali dengan hakikat-hakikatnya, qalbunya tidak akan mengobati sakitnya kecuali dengan penyembuhnya.

Berbeda halnya dengan qalbu yang belum dibersihkan oleh Allah Ta’ala. Qalbu tersebut akan menyantap makanan yang sesuai dengan dirinya, yang di dalamnya terdapat kotoran dan najis. Karena qalbu yang najis sama dengan badan yang sakit. la tidak bisa menyantap makanan yang disantap oleh orang yang sehat.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa sucinya qalbu tergantung pada kehendak Allah Subhanahu wata’ala. Dan bahwasanya Allah Subhanahu wta’ala tatkala tidak menghendaki untuk menyucikan qalbu orang-orang yang berbicara dengan kebathilan dan yang menyimpang dari kebenaran maka qalbu-qalbu itu tidak akan mendapatkan kesucian.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya sesiapa yang qalbunya tidak disucikan Allah Subhanahu wata’ala maka ia akan mendapatkan kehinaan di dunia dan adzab di akhirat, sesuai dengan tingkat kenajisan dan kekotoran qalbunya.

Karena inilah, Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan surga atas orang yang di dalam qalbunya terdapat najis dan kotoran, dan ia tidak masuk surga kecuali setelah bersih dan baik qalbunya, sebab surga adalah daar ath thayyibin (negeri bagi orang-orang yang baik qalbunya).

Karena inilah, dikatakan kepada mereka,

سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

“Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, engkau telah ada dalam kebaikan! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” (Az-Zumar: 73).

Maksudnya, masuklah kalian ke dalam surga disebabkan oleh kebaikan-kebaikan kalian. Dan berita gembira akan datang ketika kematian bagi mereka ini, yang tidak didapatkan oleh orang-orang selain mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (An-Nahl: 32).

Maka surga tidak dapat dimasuki oleh orang yang khobits (kotor), bahkan tidak oleh orang yang di dalam dirinya ada sedikit kotoran.

Maka barangsiapa yang membersihkan dirinya di dunia dan berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala dalam keadaan suci dari najis, niscaya ia akan masuk surga tanpa ada penghalang.
Dan barangsiapa yang belum membersihkan dirinya di dunia, terbagi menjadi 2 keadaan;

– Jika najisnya adalah najis ‘ainiyyah (yang sudah mendarah daging yang tidak ada sedikitpun kesucian seperti orang kafir) maka ia tidak akan masuk surga sama sekali. Demikian pula dengan bid’ah yang mukaffirah (bid’ah yang bisa membatalkan keislaman) maka ia tidak akan masuk surga sama sekali.
– Jika najisnya adalah yang sifatnya maksiat dan jalannya yang keliru maka ia akan masuk surga setelah ia dibersihkan terlebih dahulu di dalam neraka dari kotoran-kotoran itu, lalu ia masuk ke dalam surga yang selanjutnya tidak akan pernah keluar daripadanya selama-lamanya.

Sampai-sampai ahlul iman ketika telah berhasil melewati jembatan shirath, mereka ditahan di Qantharah, yakni suatu barikade antara surga dan neraka, lalu mereka akan diteliti dan dibersihkan dari sisa-sisa keburukan, kezhaliman, dan aniaya yang masih terdapat pada diri mereka yang belum mencapai syarat masuk surga, tetapi hal itu juga tidak menjadikan mereka masuk neraka, hingga jika mereka telah dibersihkan dan disucikan, barulah mereka diizinkan masuk surga.

Sebagaimana dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

“Orang-orang beriman yang telah selamat dari api neraka (telah melewati shirath/jembatan yang ada diatas punggung neraka,pent) akan tertahan di Qantharah (sebuah tempat di antara surga dan neraka). Kemudian ditegakkanlah qishash terhadap sebagian mereka akibat kezaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Setelah dibersihkan dan dibebaskan (dari kezaliman), barulah mereka diizinkan masuk surga. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang di antara mereka lebih paham terhadap tempat tinggalnya di surga daripada tempat tinggalnya di dunia.”(HR. Al-Bukhari)

Juga disebutkan dalam beberapa kitab-kitab aqidah, salah satunya adalah Al-Aqidah Al-Wasithiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau berkata,

فمن مر على الصراط دخل الجنة‏.‏ فإذا عبروا عليه وقفوا على قنطرة بين الجنة والنار فيقتص لبعضهم من بعض‏.‏ فإذا هذبوا ونقوا أذن لهم دخول الجنة

“Barangsiapa yang melewati shirath akan masuk surga. Jika mereka melewatinya, mereka akan berhenti di Qantharah antara surga dan nereka. Maka mereka saling qishas satu sama lainnya. Jika mereka Setelah dibersihkan dan dibebaskan (dari kezaliman), barulah mereka diizinkan masuk surga.”(Matan Al-Aqidah Al-Wasitiyyah)

Dan Allah Subhanahu wata’ala dengan hikmah-Nya menjadikan seseorang masuk surga tergantung pada kebersihan. Tidak sah shalatnya seseorang kecuali dalam keadaan suci, demikian pula Allah Subhanahu wata’ala menjadikan seseorang masuk surga tergantung pada kebaikan dan kebersihan. Tidak ada yang masuk surga kecuali dalam keadaan baik dan suci.
Maka ada 2 kebersihan: Bersihnya badan dari najis dan bersihnya qalbu.

[Disalin dari kitab Ighatsatul Lahafan min Mashaidisy Syaithan, Karya Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah]

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Akhlak Salaf, Ighatsatul Lahafan, Renungan Salaf, Sufisme Tasawuf, Tauhid Prioritas Utama, TAZKIYATUN NUFUS
One comment on “Sekiranya Qalbu Mereka Bersih Tentu Tidak Akan Berpaling dari Al-Quran dan As-Sunnah
  1. […] [Disalin dari kitab Ighatsatul Lahafan min Mashaidisy Syaithan, Karya Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image