Memuliakan Nama-Nama Allah Azza wajalla dan Mengganti Nama untuk Tujuan Ini

Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi

Diriwayatkan dari Abu Syuraih Radhiallahu’anhu,

أَنَّهُ كَانَ يُكْنَى أَبَا الْحَكَمُ، فَقَلَ لَهُ النَّبِى: إِنَّ الله هُوَ الْحَكَمُ، وَإِلَيْهِ الْحُكْمُ، فَقَالَ : إِنَّ قَوْمِيْ إِذَا اخْتَلَفُوْا فِيْ شَيْءٍ أَتَوْنِيْ فَحُكُمْتُ بَيْنَهُمْ، فَرَضِيَ كُلَّا الْفَرِيْقَيْنَ، فَقَالَ : مَا أَحْسَنَ هَذَا، فَمَا لَكَ مِنَ الْوَلَدُ ؟ قُلْتُ : شُرَيحْ، وَمُسْلِمْ، وَعَبْدُ الله، قَالَ : فَمَنْ أَكْبَرُهُمْ ؟ قُلْتُ : شُرَيحْ، قَالَ : فَأَنْتَ أَبُوْ شُرَيح

“Bahwasanya aku dulu diberi kun-yah (sebutan, nama panggilan) “Abul Hakam”, Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala adalah Al Hakam, dan hanya kepada-Nya segala permasalahan dimintakan keputusan hukumnya.” Kemudian aku berkata kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, “Sesungguhnya kaumku apabila berselisih pendapat dalam suatu masalah mereka mendatangiku, lalu aku memberikan keputusan hukum di antara mereka, dan kedua belah pihak pun sama-sama menerimanya.” Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Alangkah baiknya hal ini, apakah kamu punya anak?” Aku menjawab : “Syuraih, Muslim, dan Abdullah.” Nabi bertanya, “Siapa yang tertua di antara mereka? Aku menjawab, “Syuraih” Nabi bersabda, “Kalau demikian engkau Abu Syuraih.” (Riwayat Abu Daud (4955) dalam Al Adab. Nasai (226/8) dalam Adab Hukum. Dishahihkan Syaikh Al Albani. Berkata Al Arnauth Isnadnya Jayyid)

Penjelasan per-kata

Aku dulu diberi kun-yah: Kun-yah adalah setiap nama yang diawali dengan Abu atau Ummu, dan bisa diambil dari sebuah kata yang menyifatinya seperti Abu Fadhail (yang memiliki sifat keutamaan), dan bisa pula disnisbatkan kepada nama anaknya seperti Abu Syuraih, dan bisa pula diambil dari kebiasaannya seperti Abu Hurairah (yang memelihara kucing), dan bisa pula memang nama aslinya demikian seperti Abu Bakar.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala adalah Al Hakam: Yakni Dialah yang Maha Hakim, yang keputusannya tidak bisa ditolak.

Dan hanya kepada-Nya segala permasalahan dimintakan keputusan hukumnya: Yakni hanya kepada-Nya keputusan antar hamba di dunia dan akhirat.

Alangkah baiknya hal ini: Yakni apa yang disebutkan tentang asal penamaan kun-yahnya itu.

Apakah kamu punya anak?: Yakni apakah engkau memiliki anak yang engkau berkun-yah dengannya. Adapun arti “anak” menurut bahasa dimutlakkan anak laki-laki dan perempuan, berbeda dengan Ibnu yang khusus untuk anak laki-laki.

Penjelasan global

Abu Syuraih yang lengkapnya bernama Hani bin Yazid Al Kindiy Radhiallahu’anhu mengabarkan kepada kita bahwasanya dia mendahului Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam perjalanan tatkala dia menuju kaumnya, lantas ada yang menyeru kepadanya dengan kun-yah Abul Hakam. Dan tatkala Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendengar kaumnya memanggilnya dengan nama ini beliau mengingkarinya seraya mengabarkan bahwasanya Al Hakam adalah Nama kepunyaan Allah semata dan bahwasaya Dialah Al Hakam yang tidak bisa ditolak Hukum-Nya dan tidak bisa dibalas. Kemudian dia mengemukakan udzur tentang penamaan kun-yah itu dengan jelas, bahwa kaumnya yang memberi nama kun-yah itu dikarenakan dia kerap memberi putusan terhadap sengketa di antara mereka, dan mereka menerima putusannya. Dan bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menganggap baik dari udzur ini kemudian bertanya apakah dia punya anak yang dijawab bahwa dia memiliki tiga orang anak dan yang paling besar bernama Syuraih. Maka dia berkun-yah dengan anaknya yang paling besar yakni Syuraih.

Faidah Hadits ini

1. Bahwasanya Islam menghapus apa-apa yang berlaku sebelumnya.
2. Orang bodoh diberi udzur karena kebodohannya.
3. Wajibnya mengingkari kemungkaran.
4. Menetapkan Nama dari Nama-Nama Allah yaitu Al Hakam.
5. Bolehnya berhukum dengan hakim yang ingin memberi putusan jika tidak ada qadhi umum dan menerima putusannya selama bersifat adil sesuai dengan hukum Islam.
6. Wajibnya menerima udzur (alasan) dari seorang Muslim jika memang alasannya masuk akal.
7. Bolehnya berkun-yah dengan anak perempuannya. Karena kun-yah yang dinisbatkan kepada anak dimutlakkan anak laki-laki dan perempuan.
8. Disyariatkan berkun-yah dengan anaknya yang paling besar.

Keterkaitan hadits dengan Tauhid

Hadits ini menunjukkan pengingkaran terhadap nama yang menyerupai dengan Nama-Nama Allah Subhanahu wata’ala, yang merupakan syirik dalam perkara asma wa shifat.

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi]

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Asmaul Husna, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image