Tujuan Diciptakannya Jin dan Manusia Adalah untuk Mengesakan Allah Ta’ala dengan Ibadah dan Tidak Berbuat Syirik

Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi

Definisi tauhid

Tauhid secara bahasa artinya mengesakan, sedangkan menurut istilah artinya mengesakan Allah Subhanahu wata’ala dengan rububiyah, uluhiyah, kesempurnaan nama-nama dan sifat-Nya.

Macam-macam tauhid

Tauhid ada 3 macam:

1. Tauhid rububiyah, yaitu mengesakan Allah Ta’ala dengan perbuatan-Nya dan mengikrarkan dengan pasti bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb segala sesuatu dan penguasa alam semesta, yang menciptakannya, yang membentuknya, dan yang mengaturnya.

Dailnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb mereka.” (al-An’aam: 1)

Dan firman Allah Subhanahu wata’ala,

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لا يَمْلِكُونَ لأنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلا ضَرًّا

“Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?” (ar-Ra’d: 16)

Dan firman Allah Subhanahu wata’ala,

هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah sebenarnya orang-orang yang lalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.” (Luqmaan: 11)

Sungguh, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyaksikan orang-orang kafirpun mengikrarkan tauhid Rububiyah ini, mereka mengikrarkan bahwa Rabb alam semesta adalah Allah Subhanahu wata’ala, namun jika hanya mengikrarkan tauhid rububiyah saja hal itu tidak serta merta memasukkan mereka ke dalam Islam.

2. Tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah Subhanahu wata’ala dengan seluruh macam ibadah, baik ibadah yang nampak maupun ibadah yang tersembunyi. Tauhid uluhiyah inilah yang dengannya para nabi dan rasul diutus dan diturunkannya kitab-kitab Allah. Inilah dakwah para nabi dan rasul ‘Alaihimussalam, dan inilah yang menimbulkan perseteruan antara utusan Allah dengan umatnya (pengikut tauhid vs pelaku kesyirikan).

Dalilnya dari al-Quranul Karim adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (al-Faatihah: 5)

Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Huud: 123)

Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (al-An’aam: 162)

3. Tauhid asma’ wa shifat, yaitu mengimani dengan apa-apa yang Allah Subhanahu wata’ala mensifatkan diri-Nya dalam al-Quran, dan apa yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mensifatkan Allah Ta’ala dari asmaul husna dan sifat yang tinggi. Mengikrarkan nama-nama dan sifat Allah Azza wajalla sebagaimana datangnya tanpa engkau tahrif, takwil, takyif, dan tamtsil.

Dalilnya firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syuuraa: 11)

Tujuan Diciptakannya Jin dan Manusia Adalah untuk Mengesakan Allah Ta’ala dengan Ibadah dan Tidak Berbuat Syirik

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (adz-Dzaariyaat: 56-58)

Penjelasan per-kata

Jin: yakni diketahui tidak nampak dari penglihatan.

Manusia: yakni keturunan Adam.

Menyembah: yakni mentauhidkan (mengesakan) dalam ibadah. Adapun ibadah artinya sekumpulan nama bagi setiap apa-apa yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala dan diridhai-Nya, baik ucapan maupun perbuatan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka: Yakni Allah Ta’ala tidak menghendaki dari mereka untuk memberi rezeki diri mereka sendiri dan selain mereka.

Dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan: Yakni Allah Ta’ala tidak menghendaki dari mereka untuk memberi makan diri mereka sendiri dan selain mereka.

Sesungguhnya Allah Dialah ar-Rozzaaq (Maha Pemberi rezeki): Yakni banyak memberi rezeki kepada makhluk-Nya.

Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh: Yakni pemiliki kekuatan. Adapun kokoh artinya sangat kuat.

Penjelasan global

Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan bahwasanya Dialah yang menciptakan jin dan manusia. Dan bahwasanya hikmah dari penciptaan mereka adalah untuk mengesakan-Nya dengan ibadah dan mengingkari peribadatan kepada selain-Nya. Dan sesungguhnya diciptakannya mereka hanya untuk ibadah dan Allah akan cukupkan rezeki mereka. Dia Maha Benar janji-Nya, Maha Berkuasa kehendak-Nya karena Dia al-Qowiyyul Matin (Maha Kuat lagi Maha Kokoh).

Faidah Ayat ini

1. Bahwasanya hikmah dari penciptaan jin dan manusia adalah untuk mengesakan Allah Subhanahu wata’ala dengan ibadah.
2. Menetapkan keberadaan jin.
3. Kesempurnaan kekayaan Allah Ta’ala dari makhluk-Nya
4. Bahwasanya sumber rezeki itu dari Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi makhluk mencarinya dengan melakukan sebab (dengan bekerja atau usaha)
5. Penetapan dua nama dari nama-nama Allah Subhanahu wata’ala, yaitu ar-Rozzaaq dan al-Matiin.

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi]

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image