Qalbu Yang Sehat Yaitu Qalbu Yang Seluruh Keinginan, Cinta, dan Tujuannya Hanya Untuk Allah Azza wajalla

Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah

Qalbu yang sehat akan mengutamakan sesuatu yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada sesuatu yang membahayakan, sedangkan qalbu yang sakit akan memilih hal yang sebaliknya. Dan makanan yang paling bermanfaat adalah makanan iman, dan obat yang paling bermanfaat adalah obat al-Qur’an. Dan di dalam iman dan al-Quran terdapat makanan dan obat.

Dan di antara tanda-tanda sehatnya qalbu juga adalah ia berpindah dari mengutamakan dunia ini hingga mengutamakan akhirat dan berdiam di dalamnya. Bahkan seakan-akan ia adalah penduduk dan anak negeri akhirat. Ia datang ke dunia ini sebagai orang asing yang mengambil sebatas keperluannya saja, dan akan kembali ke negeri asalnya yakni akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ وَعَدَ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir) dan anggaplah dirimu (salah seorang) di antara penduduk kuburan.” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Imam Ahmad Rahimahullah dan selainnya membawakan sya’ir.

فَحَيَّ عَلَى جَنَّاتِ عَدْنٍ فإنها مَنَازِلُكَ الْأُولَى وَفِيْهَا الْمُخَيَّمُ
وَلٰكِنَّنَا سَبِيُّ الْعَدُوِّ فَهَلْ تَرَى نَعُوْدُ إِلَى أَوْطَانُنَا وَنُسَلِّمُ

“Maka marilah menuju surga-surga ‘Aden, karena sesungguhnya ia adalah tempat-tempat persinggahanmu yang utama, dan di dalamnya tempat berteduh.
Akan tetapi kita ini tawanan musuh (dalam penjara dunia), apakah engkau mengira kita akan kembali ke negeri asal kita dan kita selamat?”

Dan setiap kali qalbu itu sembuh dari sakitnya maka ia akan cenderung memikirkan akhirat dan dekat dengannya, sehingga ia menjadi di antara penduduk akhirat. Sebaliknya, setiap kali qalbu itu sakit maka ia akan mengutamakan dunia dan menjadikannya sebagai negerinya, sehingga ia menjadi di antara penduduknya.

Dan di antara tanda-tanda sehatnya qalbu adalah ia senantiasa menyadarkan pemiliknya agar kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tunduk kepada-Nya serta bergantung kepada-Nya sebagaimana bergantungnya orang yang mencintai yang sangat membutuhkan kepada yang dicintainya, yang tiada kehidupan baginya, tidak pula kemenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan kecuali dengan keridhaan-Nya, dekat dengan-Nya, dan menghibur diri dengan-Nya.

Maka Dengan Allah Tabaroka wata’ala ia menjadi tenang dan kepada-Nya pula ia menjadi tenteram. Kepada Allah Tabaroka wata’ala ia berlindung dan dengan-Nya pula ia gembira. Kepada Allah Tabaroka wata’ala ia bertawakal dan dengan-Nya pula ia percaya, kepada Allah Tabaroka wata’ala ia berharap dan karena-Nya pula ia takut.

Maka mengingat Allah Subhanahu wata’ala adalah kekuatan dan makanan qalbu. Sedang kecintaan dan kerinduan pada-Nya adalah kehidupan, kenikmatan, kelezatan dan kebahagiaan qalbu.

Berpaling kepada selain Allah Azza wajalla dan bergantung kepada selain-Nya adalah penyakit qalbu dan kembali kepada-Nya adalah obatnya.

Tatkala ia telah mencapai kepada Rabbnya maka iapun tenang dan tentram dengan-Nya, sirnalah kegalauan dan kegundahannya, dan keperluannya pun menjadi terpenuhi. Karena sesungguhnya di dalam qalbu terdapat al-faaqah (kebutuhan yang selalu merasa tidak puas) yang tidak dapat dipenuhi oleh sesuatu pun kecuali oleh Allah Azza wajalla. Di dalam qalbu juga terdapat al-sya’ats (carut marut, ruwet) dan tak ada yang dapat menyatukannya kembali kecuali dengan menghadap kepada Allah Azza wajalla. Di dalam qalbu juga terdapat al-mariidh (penyakit) yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan memurnikan ibadah kepada Allah Azza wajalla semata.

Maka qalbu yang sehat akan senantiasa menyadarkan pemiliknya sehingga ia bisa tenang dan tentram bersama Ilah yang diibadahinya. Dan kala itu ia pun bisa menyentuh ruh kehidupannya, merasakan nikmatnya, dan ia selanjutnya memiliki kehidupan yang lain dari kehidupan orang-orang yang lalai dan berpaling dari perkara ini. Qalbu yang tentram dalam ibadah kepada Allah Azza wajalla adalah perkara yang karenanya diciptakannya para makhluk, dan karenanya juga diciptakannya surga dan neraka, dan karenanya diutusnya para rasul serta diturunkannya kitab-kitab. Dan jikalah tiada balasan apa pun kecuali keberadaan qalbu yang sehat maka cukuplah hal itu sebagai balasan, dan cukuplah dengan kehilangan qalbu yang tentram dalam ibadah kepada Allah Azza wajalla sebagai penyesalan dan siksa.

Abul Husain Al-Warraq berkata, “Hidupnya qalbu terdapat dalam mengingat al-Hayyu (Dzat Yang Maha hidup) yang tidak mati. Dan kehidupan yang tenteram adalah kehidupan bersama Allah Ta’ala, tidak bersama selainnya.”

Karena inilah, kehilangan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala menurut ‘Aarifiina billah (orang-orang yang mengetahui Allah Ta’ala) adalah lebih dahsyat daripada kematian. Karena kehilangan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala berarti terputusnya seseorang dari dzat yang Maha Benar, dan kematian adalah terputusnya seseorang dari makhluk, maka berapakah jauhnya jarak antara dua keterputusan ini?

Yang lain berkata, “Barangsiapa yang pandangan matanya sejuk dengan Allah Ta’ala maka sejuk setiap mata yang memandangnya, dan barangsiapa yang tidak merasa sejuk matanya dengan Allah Ta’ala maka qalbunya akan mengiris-iris urusan dunianya dengan berbagai penyesalan.”

Yahya bin Mu’adz berkata,”Barangsiapa yang gembira dengan pengabdian kepada Allah Ta’ala maka segala hal akan senang mengabdi kepadanya. Dan barangsiapa yang sejuk matanya dengan Allah Ta’ala maka setiap mata akan sejuk memandang kepadanya.”

Dan di antara tanda-tanda sehatnya qalbu adalah ia tidak terputus dari mengingat Rabbnya (berdzikir kepada Allah Azza wajalla) dan tidak bosan mengabdi kepada-Nya. Tidakah ia menghibur diri dengan selain Allah Azza wajalla, kecuali dengan orang yang menunjukinya ke jalan-Nya, mengingatkan dirinya serta mengulang-ulang perkara ini.

Termasuk tanda-tanda sehatnya qalbu adalah apabila ia luput dari wiridnya (dzikir rutin) maka ia akan mendapatkan rasa kehilangan yang lebih besar dari rasa yang dialami seorang yang antusias (cinta dunia) karena kehilangan hartanya dan kebinasaan hartanya.

Termasuk tanda-tanda sehatnya qalbu adalah ia rindu untuk mengabdi kepada-Nya sebagaimana seorang yang lapar rindu kepada makanan dan minuman.

Termasuk tanda-tanda sehatnya qalbu juga adalah tatkala telah masuk waktu shalat maka hilanglah galau dan dukanya dalam urusan dunia, dan terasa berat atasnya jika keluarnya waktu sholat. Dalam sholat ia menemukan kelapangan, kenikmatan, penyejuk mata, dan kegembiraan qalbunya.

Termasuk tanda-tanda sehatnya qalbu adalah keinginannya hanya satu, yaitu berada dalam ridha Allah Subhanahu wata’ala.

Di antara tanda-tanda sehatnya qalbu pula adalah ia lebih kikir dalam soal waktu jika terbuang percuma ketimbang orang yang paling kikir dalam urusan harta.

Termasuk tanda-tanda sehatnya qalbu adalah perhatiannya terhadap perbaikan amal lebih besar ketimbang perhatiannya dengan amalan itu sendiri. Karenanya, ia bersemangat terhadap keikhlasan dalam amalnya, juga jujur dalam amalnya, mutaba’ah (di atas sunnah rasul), dan ihsan (beribadah dengan baik). Dan itu ia barengi dengan persaksiannya atas karunia Allah Ta’ala terhadap dirinya, serta kekurangannya dia dalam memenuhi hak-hak Allah Azza wajalla.

Inilah enam kedudukan yang perlu dipersaksikan, yang tidak akan dipersaksikan kecuali oleh qalbu yang hidup dan selamat:

1. Ikhlas, engkau bersemangat terhadap keikhlasan dalam beramal shalih,
2. Nashihah, engkau jujur dalam beramal shalih,
3. Mutaba’ah, engkau beramal shalih di atas sunnah rasul,
4. Ihsan, pengertian ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau,
5. Dan itu engkau barengi dengan persaksianmu atas limpahan karunia Allah Ta’ala terhadap dirimu,
6. Serta kekuranganmu dalam memenuhi hak-hak Allah Azza wajalla.

Secara umum, qalbu yang sehat yaitu qalbu yang seluruh keinginan, cinta, dan tujuannya hanya untuk Allah Azza wajalla. Angota badannya, pekerjaan, tidur, dan terjaganya hanya untuk Allah Azza wajalla. Firman Allah Azza wajalla dan berbicara tentang-Nya adalah sesuatu yang paling ia ingini dari semua bentuk pembicaraan, dan seluruh pemikirannya berada di sekitar keridhaan-keridhaan Allah Azza wajala dan kecintaan-Nya.

Khalwat (menyendiri) dengan Allah Azza wajalla lebih ia kedepankan daripada bercampur-baur dengan masyarakat, kecuali jika pergaulan itu merupakan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Penyejuk mata, ketenangan, dan ketentramannya adalah dengan Allah Azza wajalla.

Maka qalbu yang sehat itu setiap kali ia mendapatkan dirinya berpaling kepada selain-Nya, ia akan segera membaca firman-Nya,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ. ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan qalbu yang puas lagi diridhai-Nya.” (al-Fajr: 27-28)

Ia mengulang-ulang khithab (panggilan) itu agar ia mendengarnya dari Rabbnya kelak pada hari bertemu dengan-Nya. Maka qalbu yang sehat ter-shibghah (terceluplah qalbunya) di hadapan Ilah dan sesembahannya dengan shibhah ‘ubudiyah (celupan peribadahan).

Maka beribadah merupakan sifat qalbu yang sehat dan pembawaan dirinya, bukan merupakan beban. Maka ia melakukan ibadah itu dengan rasa rindu, penuh cinta, dan taqarrub, sebagaimana seorang yang benar-benar mencintai kekasihnya akan datang untuk melayani dan menunaikan segala keperluannya.

Maka setiap kali datang perintah atau larangan dari Rabbnya, ia merasakan suara qalbunya berkata, “Aku sambut panggilan-Mu dan dengan setia menerima perintah-Mu, sesungguhnya aku mendengar, mentaati, dan akan melaksanakan. Dan Engkau memiliki anugerah atasku dalam perkara itu, dan segala puji hanya kembali kepada-Mu.”

Apabila suatu ketentuan Allah Azza wajalla (musibah) menimpanya, ia mendapatkan suara qalbunya berkata, “Aku adalah hamba-Mu dan aku adalah orang yang membutuhkan dan memerlukan-Mu, aku adalah hamba-Mu yang fakir, tidak mampu, lemah, dan miskin, sedangkan Engkau adalah Rabbi al-‘Aziz ar-Rahim (Rabbku yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang). Tiada kesabaran bagiku jika Engkau tidak memberiku kesabaran. Tiada kekuatan bagiku jika Engkau tidak membawaku dan tidak menguatkanku, tiada tempat berlindung untukku dari-Mu kecuali hanya kepada-Mu jua, tiada tempat memohon pertolongan untukku kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak bisa berpaling dari pintu-Mu dan tiada tujuan bagiku untuk lari dari-Mu.”

Maka dia berserah diri seluruhnya di hadapan-Nya, menyandarkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Apabila tertimpa sesuatu yang dibencinya ia berkata, “Ini adalah rahmat yang dihadiahkan kepadaku, dan obat yang bermanfaat dari Dokter yang mengasihi.”

Dan apabila dipalingkan dari sesuatu yang disukainya ia berkata, “Ini adalah keburukan yang dipalingkan dariku.”

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair,

وَكَمْ رُمْتُ أَمْرًا خِرْتَ لِيْ فِي انْصِرَافِهِ
وَمَا زِلْتَ بِيْ مِنِّى أَبَرَّ وَأَرْحَمَا

“Berapa banyak aku inginkan suatu perkara lalu Engkau pilihkan agar aku berpaling darinya
Dan Engkau masih senantiasa baik dan menyayangiku.”

Semua yang menimpanya, baik suka maupun duka membuatnya mendapat petunjuk jalan kepada-Nya, sehingga terbukalah pintu baginya untuk masuk kepada-Nya, seperti disebutkan dalam syair,

مَا مَسَّنِي قَدَرٌ بِكُرْهٍ أَوْ رِضًى إِلَّا اهْتَدَيْتُ بِهِ إِلَيْكَ طَرِيْقَا
أَمْضِ الْقَضَاءَ عَلَى الرِّضَى مِنِّى بِهِ إِنِّي وَجَدْتُكَ فِيْ الْبَلَاءُ رَفِيْقَا

“Tidaklah menimpaku suatu ketentuan yang kubenci atau kusenangi, kecuali dengannya aku mendapat petunjuk jalan kepada-Mu.
Aku melalui ketentuan-Mu itu bersama kerelaanku, dan sungguh aku mendapati-Mu sebagai teman di dalam ujian.”

Milik Allah Azza wajalla seluruh qalbu-qalbu ini dan segala simpanan-simpanan yang terselubung atasnya dan apa yang dikandungnya dari perbendaharaan dan simpanan di dalam qalbu. Dan milik Allah Azza wajalla rahasia-rahasianya yang baik, terlebih lagi pada hari ditampakkan seluruh rahasia-rahasia qalbu.

Demi Allah, telah diangkat untuk qalbu yang sehat itu ‘alamun ‘azhimun (tanda yang besar), maka qalbu itu bergegas menujunya. Dan telah tampak baginya shirathun mustaqim (jalan yang lurus) maka qalbu itu istiqamah (teguh) di atasnya.

(Disalin dari kitab Ighatsah Al-Lahfan min Mashaaid Asy-Syaithan, Karya Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah)

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Ighatsatul Lahafan, Renungan Salaf, TAZKIYATUN NUFUS
3 comments on “Qalbu Yang Sehat Yaitu Qalbu Yang Seluruh Keinginan, Cinta, dan Tujuannya Hanya Untuk Allah Azza wajalla
  1. Kosasih berkata:

    Subhanallah , Ya Allah Limpahkan rahmat dan hidayah Mu pada kami agar selalu merindukan Mu dan istikomah di jalan Mu ,Amien…..
    mohon ijin tuk copy , sukron sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image