Di Antara Adab Pergaulan adalah Mencocoki Saudaramu dalam Perkataan dan Perbuatan (Saling Seiya Sekata)

Asy Syaikh Abul Barakat al-Ghazzi

MEMAAFKAN KESALAHAN

Di antara adab pergaulan adalah Memaafkan kesalahan dan jangan mengungkit-ungkit kesalahan teman, saudara, dan sahabatamu.

Berkata Fudhail bin Iyadh, “Orang yang kuat adalah orang yang bisa memaafkan kesalahan saudaranya.”

Sebagaimana wajib bagi seorang hamba beradab terhadap tuannya, demikian pula wajib baginya bergaul terhadap orang yang menolongnya.

Berkata sebagian ahli hikmah, “Seorang mukmin itu memiliki tabiat yang baik dan berlapang dada.”

Berkata Ibnul Arabi, “Berlapang dada terhadap kesalahan saudaranya, akan melanggengkan persahabatan.”

MENCOCOKI SAUDARAMU DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN (SALING SEIYA SEKATA)

Termasuk dari adab pergaulan adalah meminimalisir perselisihan dalam jalinan persaudaraan. Membiasakan saling mencocoki dalam apa-apa yang diperbolehkan ilmu dan syariat.

Berkata Abu Utsman, “Mencocoki saudaramu dalam perkataan dan perbuatan itu lebih baik daripada sekedar menyayangi mereka.”

SALING MEMBERI PUJIAN

Termasuk dari adab pergaulan adalah engkau memuji mereka yang telah memberi sanjungan kepadamu, walaupun engkau tidak bisa turun tangan membantu mereka.

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

نِيَّةُ الْمُؤْمِنٌ اَبْلَغُ مِنْ عَمَلِهِ

“Niat seorang Mukmin lebih sampai daripada amalannya.”

Berkata Ali Radhiallahu’anhu, “Seseorang yang tidak mampu membawa saudaranya untuk memperbaiki niatnya, maka dia tidak dipuji atas kebaikan perbuatannya.”

MENINGGALKAN HASAD (IRI DAN DENGKI)

Termasuk dari adab pergaulan adalah janganlah engkau hasad (iri dan dengki) kepada teman-temanmu atas apa yang nampak dari karunia Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada mereka. Bahkan semestinya engkau senang dengan hal tersebut dan memuji Allah Ta’ala atasnya sebagaimana engkau memuji Allah Ta’ala apabila engkau diberikan karunia itu. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala mencela orang-orang yang hasad dengan firman-Nya,

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? (An Nisaa: 54)

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَقَاطَعُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ

“Janganlah kalian saling benci, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi (membuang muka saat bertemu) dan jangan saling memutus hubungan, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan (tidak bertegur sapa dengan) saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

TIDAK MENAMPAKKAN KEPADANYA APA-APA YANG YANG DIBENCINYA

Termasuk dari adab pergaulan adalah janganlah menampakkan kepada mereka dengan apa-apa yang dibenci saudaranya karena Rasulullah Shallallahualaihi wasallam melarangnya.

SENANTIASA MENJAGA SIFAT MALU

Termasuk dari adab pergaulan adalah menjaga sifat malu dalam setiap keadaan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam,

اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah’, yang paling rendah menghilangkan gangguan dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan.” (HR. Al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 35)

Berkata seseorang kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, “Berilah aku nasehat”. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

اِسْتَحْيِ مِنَ الله عَزَّ وَجَلَّ كَمَا تَسْتَحْيِ رَجُلًا مِنْ صَالِحِ قَوْمُكَ

“Malulah di hadapan Allah Azza wajalla sebagaimana engkau malu dihadapan orang Shalih dari kaummu.”

Rasa malu itu akan menuntun kita dan anak-anak kita menuju kebaikan sehingga kelak akan sampai di surga. Benarlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

الْحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِيْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ وَالجَفَاءُ فِي النَّارِ

“Malu itu termasuk keimanan, dan keimanan itu tempatnya di surga, sementara kekejian itu termasuk kekerasan, dan kekerasan itu tempatnya di neraka.” (HR. At-Tirmidzi no. 2009, dishahihkan Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

(Dinukil Dari Kitab Adabul ‘Isyrah wa Dzikru ash-Shuhbah wal Ukhuwwah, Penulis Asy Syaikh Abul Barakat al-Ghazzi)

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Adabul 'Isyrah, Akhlak Salaf, Potret Keluarga, Urgensi Dakwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image