Berloyalitas Kepada Wali-Wali-Nya dan Memusuhi Musuh-Musuh-Nya Adalah Hakikat Kecintaan Kepada Allah Subhanahu wata’ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman dalam kitab-Nya,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)

Jadi, ittiba’ as-sunnah (mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) dan mengikuti syariat-Nya secara lahir dan bathin akan mendatangkan kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana jihad di jalan-Nya, berloyalitas kepada wali-wali-Nya, dan memusuhi musuh-musuh-Nya adalah hakikat kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِى اللهِ وَتُبْغِضَ فِى للهِ

“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta dan benci karena Allah Azza wajalla.” (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahihah no. 998)

Dalam sebuah hadits disebutkan,

مَنْ أَحَبَّ لِلّٰهِ وَأَبْغَضَ لِلّٰهِ وَأَعْطَى لِلّٰهِ وَمَنَعَ لِلّٰهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, menahan karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahihah no. 380)

Banyak orang yang mengaku mencintai Allah Subhanahu wata’ala, padahal dia adalah orang yang jauh dari orang lain dalam hal ittiba’ as-sunnah (mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam). Jauh pula dari amar ma’ruf, nahi munkar, dan jihad fii sabilillah.

Sekalipun demikian, (amat disayangkan) dia mengklaim bahwa yang dia lakukan itu lebih sempurna untuk mencapai kecintaan dari yang lainnya, karena anggapannya bahwa jalan kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala tidaklah tergantung di dalamnya kecemburuan dan kemarahan karena-Nya.

Hal ini menyelisihi apa yang telah ditunjukkan oleh al-Quran dan as-Sunnah. Karena inilah dalam hadits qudsi yang ma’tsur disebutkan,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِى الْيَوْمَ أُظِلَّهُمْ فِى ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman pada hari kiamat, ‘Di manakah orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, hari ini Aku akan menaungi mereka di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Ku.” (Riwayat Muslim no. 2566)
Firman-Nya ‘Di manakah orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku’ merupakan tanbih (peringatan) atas apa-apa yang tersimpan dalam qalbu-qalbu mereka berupa pengagungan kepada Allah Azza wajalla dan memuliakan-Nya bersamaan dengan itu mereka saling mencintai karena-Nya. Dengan demikian mereka adalah orang yang senantiasa menjaga batas-batasnya, bukan orang yang tidak menjaga batas-batasnya karena lemahnya nilai-nilai keimanan dalam qalbu-qalbu mereka.

Mereka adalah orang yang disebutkan dalam hadits,

حَقَّتْ مَحَبَّتِى لِلْمُتَحَّابِّينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِى لِلْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِى لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِى لِلْمِتَبَاذِلِينَ فِيَّ

“Berhak untuk mendapatkan kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, berhak untuk mendapatkan kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling bermajelis karena Aku, berhak untuk mendapatkan kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling berkunjung karena Aku, berhak untuk mendapatkan kecintaan-Ku bagi orang-orang yang saling memberi karena Aku” (Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahih al-Jami’ no. 4321-4331)

Hadits-hadits tentang orang-orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala cukup banyak. Dalam kitab Shahih dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ, وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ, وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالْمَسَاجِدِ, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ, وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ, وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ, وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Mereka adalah imam (pemimpin) yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, lelaki yang hatinya selalu terikat/terpaut dengan masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah mereka berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, (kemudian) seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang punya kedudukan dan kecantikan namun ia berkata, “Sungguh aku takut kepada Allah.” (Yang berikutnya) seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam keadaan sendirian lalu mengalir air matanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

[Disalin dari kitab at-Tuhfah al-‘Iraqiyyah fii al-A’maal al-Qalbiyyah, Penulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati dan Jenisnya, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 148-151]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Renungan Salaf, Tuhfatul Iraqiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image