Inilah Landasan Mereka dalam Mencintai Allah Subhanahu wata’ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Landasan cinta adalah ma’rifatullah (mengenal Allah Subhanahu wata’ala) dan baginya ada 2 landasan:

Landasan pertama, yang disebut cintanya orang-orang kebanyakan, yaitu mencintai Allah Ta’ala karena perbuatan baik yang Allah Ta’ala curahkan kepada hamba-hamba-Nya. Mencintai Allah Ta’ala atas landasan ini tidak dipungkiri oleh siapapun juga karena hati manusia memiliki kecenderungan untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat jelek kepadanya, dan Allah Subhanahu wata’ala adalah Maha Pemberi Karunia dan Berbuat Baik Kepada Hamba-Nya secara hakiki. Dialah yang melimpahkan segala kenikmatan walaupun nikmat-nikmat itu sampai ke tangan hamba-hamba-Nya melalui perantara dan yang menciptakan sebab.

Akan tetapi mencintai Allah Ta’ala atas landasan ini jika tidak membawa jiwanya untuk mencintai Allah semata, pada hakikatnya hamba itu tidaklah mencintai kecuali dirinya sendiri. Cinta ini bukanlah suatu yang tercela, justru merupakan sesuatu yang terpuji.

Kecintaan atas landasan ini disyariatkan dalam sabda nabi Shallallahu’alaihi wasallam,
“Cintailah Allah Ta’ala karena Dialah yang telah memberi berbagai karunia kepada kalian dan cintailah aku karena kecintaan kepada Allah Ta’ala dan cintailah ahlul baitku karena aku.” (Dhaif, Syaikh al-Albani mendhaifkannya dalam kitab Dhaiful Jami’ no. 176)

Orang yang mencintai atas landasan ini berarti tidak mengetahui dari sisi Allah apa-apa yang mengandung keharusan bahwa dia mencintai Allah Subhanahu wata’ala kecuali karena Allah Ta’ala telah berbuat baik kepadanya.

Dan hal ini sebagaimana yang telah mereka katakan, “Sesungguhnya pujian kepada Allah ada dua macam. Yang pertama pujian bermakna syukur, dan ini dipanjatkan tidak lain karena limpahan rahmat-Nya. Dan kedua, pujian yang bermakna sanjungan dan mencintai-Nya, yaitu dengan apa-apa yang layak bagi Allah Ta’ala. Demikian pula dengan cinta.”

Landasan kedua, mencintai Allah Ta’ala karena Dia memang semestinya dicintai. Ini adalah cintanya ‘arrafa minallah (orang-orang mengenal Allah Azza wajalla), mencintai apa-apa yang berhak untuk dicintai karena-Nya. Dan tidaklah ada satu sisi dari berbagai sisi yang telah diketahui Allah Ta’ala dengannya dari apa-apa yang menunjukkan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya kecuali Dia berhak dicintai secara sempurna dari sisi itu, sampai dicintai pada segala perbuatan-Nya.

Karena seluruh kenikmatan adalah karunia dari-Nya sedangkan segala siksa adalah keadilan. Karena inilah Dia berhak mendapatkan pujian dalam setiap keadaan. Diapun berhak mendapatkan pujian, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Yang demikian lebih tinggi dan lebih sempurna. Dan inilah cintanya orang-orang khusus. Mereka itulah orang-orang yang mengharapkan lezatnya memandang wajah Allah al-Karim dan menikmati lezatnya berdzikir dan bermunajat kepada-Nya sehingga bagi mereka yang demikian itu lebih berharga nilainya ketimbang air bagi ikan. Sampai-sampai seandainya mereka terputus dari itu niscaya mereka akan merasakan sakit yang tiada terkira.

Mereka itulah as-saabiquun (orang-orang yang terdahulu) sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pernah melintasi sebuah gunung yang bernama Jumdan, maka beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ. قَالُوا يَارَسُولُ اللهُ مَنِ الْمُفَرِّدُونَ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرَا وَالذَّاكِرَاتُ

“Jalanlah kalian, inilah jumdan, al-mufarriduun telah berjalan terlebih dahulu. Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah siapakah al-mufarriduun?’ Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab, ‘Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala.” (Riwayat Muslim no. 2676)

[Disalin dari kitab at-Tuhfah al-‘Iraqiyyah fii al-A’maal al-Qalbiyyah, Penulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati dan Jenisnya, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 151-153]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Renungan Salaf, TAZKIYATUN NUFUS, Tuhfatul Iraqiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image