Berusaha Sekuat Tenaga Untuk Menjalankan Ketaatan Kepada Allah Subhanahu wata’ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Dalam kitab Shahih-nya, Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu. Dia berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada setiap mereka ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu untuk melakukan apa yang bermanfaat buatmu dan minta tolonglah kepada Allah dan jangan bermalas-malasan. Jika kamu ditimpa oleh sesuatu musibah, janganlah kamu mengatakan: ‘Kalau saya melakukan (demikian dan demikian), niscaya terjadi demikan dan demikian.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Semuanya telah ditaqdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan kehendak-Nya.’ Karena kata ‘seandainya’ akan membuka pintu setan.” (Riwayat Muslim no. 4816)

Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah memerintahkan orang Mukmin agar bersungguh-sungguh dalam melakukan apa-apa yang bermanfaat baginya dan agar menjadikan Allah Tabaroka wata’ala sebagai pelindung. Hal ini sejalan dengan firman-Nya,

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

“Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya.” (Huud: 123)

Sesungguhnya berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan hal-hal yang bermanfaat bagi hamba merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan bentuk peribadahan kepada-Nya. Karena yang dapat memberikan manfaat kepadanya adalah ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Tiada sesuatupun yang lebih bermanfaat baginya daripada hal tersebut.

Jadi, segala sesuatu yang dapat dijadikan sarana untuk menjalankan ketaatan (kepada Allah Subhanahu wata’ala), hal itu pun merupakan bentuk ketaatan pula. Kendati hal itu adalah suatu perkara yang mubah. Dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda kepada Sa’ad,

وَ لَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى الْلُقْمَة تَجْعَلُهَا فِي فِيِّ امْرَأَتِكَ

“Tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala dengannya sampaipun satu suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (Riwayat Bukhari no. 56)

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah mengkabarkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala mencela al-ajzu (bermalas-malasan), yang merupakan lawan dari al-kais (rajin semangat). Karena sifat al-ajzu artinya tidak menjalankan apa-apa yang diperintahkan sebagaimana mestinya, karena hal itu akan menafikan kesanggupan untuk melakukan suatu amalan. Sesungguhnya kesanggupan akan melahiran amalan dan yang menjadi pengiring amalan tersebut.

Isti’anah (meminta pertolongan) kepada Allah Jalla jalaluhu, bertawakkal, dan berdoa kepada-Nya merupakan perkara-perkara yang bisa menjadikan seseorang menjadi kuat serta meringankan masalah-masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu sebagian salafush shalih mengatakan,
“Barangsiapa ingin menjadi manusia yang paling tegar (kuat) hendaknya ia bertawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

Dalam kitab Shahihain dari Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu’anhu,

أَنَّ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِفَتُهُ فِي التَّوْرَاةِ اِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراً وَحِرْزاً لِلْأُمِّيِّينَ أَنْتَ عَبْدِى وَرَسُوْلِي سَمَّيْتُكَ الْمُتَوَكِّلَ لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ وَلَا صَخًّابٍ باِلْأَسْوَاقِ وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِن يَجْزِى بِالسَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ وَيَعْفُو وَيَغْفِرُ وَلَنْ أَقْبِضَهُ حَتَّى أَقِيمُ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوِجَاءَ فأَفْتَحُ بِهِ أَعْيُناً عُمْياً وَآذَاناً صُمّاً وَقُلُوباً غُلْفًا بِأَنْ يَقُولُـوا لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ

“Sesungguhnya sifat-sifat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yang termaktub dalam Taurat adalah sebagai berikut: ‘Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi pemberi kabar gembira (kepada orang-orang beriman), sebagai pemberi peringatan (kepada orang-orang kafir), dan sebagai pelindung bagi orang-orang ummi (buta huruf). Engkau adalah hamba dan rasul-Ku, Aku menamaimu al-mutawakkil (orang yang bertawakkal), tidak berwatak kasar, tidak pula keras, tidak pula berteriak-teriak di pasar, dan tidak membalas perbuatan jelek dengan kejelekan namun membalas kejelekan dengan kebaikan, beliau sangat pemaaf, dan mengampuni. Aku tidak memanfaatkannya sampai dia menegakkan agamanya, dan meluruskan orang-orang yang sesatdan dengannya Aku membuka mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang tertutup dengan mereka mengatakan Laa Ilaaha illallah.” (Riwayat Bukhari no. 2125)

Oleh karena itu diriwayatkan pula bahwa para malaikat yang menjunjung ‘Arsy, mereka mampu untuk menjunjungnya karena mereka mengucapkan “Laa haula wala quwwata illa billah” (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Ta’ala).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (ath-Thalaaq: 3)

Dan Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran: 173)

[Disalin dari kitab at-Tuhfah al-‘Iraqiyyah fii al-A’maal al-Qalbiyyah, Penulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati dan Jenisnya, Penerjemah Abu Abdillah Salim Subaid, Penerbit Pustaka Ar Rayyan, halaman 55-61]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Renungan Salaf, Tuhfatul Iraqiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image