Larangan Mengkultuskan Para Wali, Orang Shalih, Atau Para Nabi dan Menjadi Sesembahan Selain Allah Subhanahu wa Ta’ala

asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (mereka juga mempertuhankan) Isa Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya diperintah menyembah Ilah yang Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 31)

Penjelasan per-kata

Orang-orang alim mereka: ulama mereka.
Rahib-rahib mereka: pendeta mereka.
Sebagai Rabb selain Allah: yang disembah selain Allah Subhanahu wata’ala.
Isa al-Masih putera Maryam: beliau adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya, Isa ‘alaihissalam.
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Ilah yang Esa: Allah Ta’ala memerintah mereka melalui lisan rasul-Nya agar hanya menyembah-Nya saja.

Penjelasan global

Allah Subhanahu wata’ala mengkabarkan kepada kita dengan ayat ini bahwasanya orang-orang Yahudi dan Nashara telah menyimpang dari jalan yang lurus dan mengambil peribadahan yang tidak diperintahkan dengannya, maka mereka menjadikan para ulama dan ahli ibadah di kalangan mereka sebagai Rabb selain Allah. Artinya, ketika para ulama dan ahli ibadah itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan oleh Allah, mereka mengikuti penghalalan tersebut. Dan ketika mereka mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah mereka juga mengikuti pengharaman tersebut. Bahkan ketika para ulama dan ahli ibadah tersebut menetapkan suatu syariat yang baru dalam agama mereka yang bertentangan dengan ajaran para Rasul itu, mereka juga mengikutinya.

Orang-orang Nashara tidak cukup sampai di situ, bahkan menyembah Isa ‘Alaihissalam dan mengungkapkan Isa sebagai “anak Allah” padahal tidak ada perintah di dalam Taurat dan Injil kecuali untuk menyembah Allah semata. Maha Suci Allah dari apa yang dinisbatkan orang-orang yang menyekutukan-Nya.

Faidah Ayat ini

1. Tidak boleh taat kepada selain Allah Azza wajalla dalam perkara yang menyelisihi hukum Allah dari perbuatan menyekutukan-Nya.
2. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada sang khaliq.
3. Tidak teranggap suatu amalan shalih kecuali memenuhi 2 syarat: ikhlas dan mencontoh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.
4. Tidak ada ulama yang ma’shum.
5. Penjelasan penyimpangan orang-orang Yahudi dan Nashara dari agamanya yang shahih.
6. Keberadaan ulama yang sesat atas umat ini.

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi, hal. 74-75]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Iklan

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image