Dakwah Kepada Sunnah dan Tahdzir dari Bid’ah (Bagian 1)

asy-Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah as-Suhaimi

Bagian 1

Merupakan salah satu prinsip utama Ahlus Sunnah wal Jama’ah para pengikut salaf ialah dakwah kepada as-Sunnah an-Nabawiyah. Di mana hal ini adalah landasan utama persatuan dan kesatuan serta sebab bersatunya kaum muslimin. Bahkan sebagai perlindungan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana wajibnya untuk tetap iltizam (komitmen) dengan as-Sunnah, maka wajib pula mengajak manusia kembali kepadanya. Di samping itu juga mentahdzir (memperingatkan) dari semua hal yang menyelisihinya baik berupa pemikiran orang tertentu atau syubhat dan aturan-aturan organisasi (hizbiyah).

as-Sunnah adalah asas persatuan, sumber kemuliaan, kekuatan dan kebaikan dunia serta akhirat.

Rasulullah adalah teladan dalam agama ini. Kemudian para sahabatnya, karena Allah dan Rasul-Nya telah memberikan tazkiyah (pujian) kepada mereka. Dan rasul-Nya wafat meninggalkan dunia ini dalam keadaan ridho kepada para sahabatnya.

Maka jelaslah bahwasanya al-haq (kebenaran), hidayah, dan bimbingan senantiasa bersama mereka, di manapun mereka berada. Mereka tidak akan bersatu (sepakat) di atas kebatilan. Berbeda dengan orang-orang selain mereka, dari berbagai kelompok sempalan yang ada, karena mereka justeru bersatu di atas kebatilan dan kesesatan.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan:
“Tidak ada pembelaan terhadap sosok tertentu secara umum dan mutlak kecuali kepada Rasulullah Shallalahu’alaihi wasallam. Tidak pula kepada kelompok tertentu kecuali kepada para sahabat Radhiallahu’anhum. Kerena sesungguhnya hidayah senantiasa bersama Rasulullah Shallalahu’alaihi wasallam di manapun beliau berada, demikian pula halnya para sahabatnya Radhiallahu’anhum.”

Sejumlah nash syari’at telah menguraikan anjuran dan dorongan untuk mengikuti prinsip mulia ini. Prinsip yang menjadi acuan persatuan dan kesepakatan di atas as-Sunnah dan jalan yang terang. Sehingga, tidak ada hujjah melainkan pada orang yang menjadikannya sebagai hujjah dan tidak ada ishmah (keterjagaan) dari penyimpangan kecuali bagi mereka yang berpegang teguh dengan as-Sunnah, dalam ilmu dan amal, ataupun pendalilan, serta pemahaman dan ittiba’.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Uswah adalah teladan, maka tidak ada telaadan (yang baik) kecuali beliau, tidak ada ittiba’ kecuali beliau, dan tidak ada keselamatan kecuali berjalan di atas jalan yang dilaluinya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)

Maka tidaklah benar pengakuan cinta seseorang kecuali dia membuktikannya dan meluruskan jalannya, yaitu dengan ittiba’ dan tetap berpegang dengan as-Sunnah.

Ibnu Qayyim Rahimahullahu menjelaskan:
“Tatkala semakin banyak orang-orang yang mengaku cinta, mereka dituntut menunjukkan bukti nyata pengakuan cintanya itu. Dan memang, kalau setiap orang diberikan tuntutannya menurut pengakuannya maka orang yang sedang merasakan lega akan mengaku-aku terbakar kesedihan. Bermacam-macam bentuk orang yang mengaku-aku dalam soal persaksian, sehingga ada yang berpendapat tidak diterima pengakuan tersebut kecuali jika ada bukti yang nyata. Maka Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Akhirnya semua mundur, kecuali para pengikut habib (kekasih, yakni Rasulullah) dalam setiap ucapan dan tindakan serta akhlaknya.”

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ

“Dan jika ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (an-Nur: 54)

Dalam ayat ini sangat jelas bahwa hidayah itu berkaitan langsung dengan ittiba’ kepada Rasul-Nya. Sedangkan ghiwayah (kesesatan) berkaitan langsung dengan penyimpangan dari Sunnah Rasul-Nya.

Hal ini ditunjukkan pula sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim dari Jabir ‘Abdillah, berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْناَهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُوْلُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتاَبُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkhutbah matanya memerah, suaranya meninggi, marahnya meningkat hingga seakan-akan beliau (sedang) mengomando satu pasukan tentara. Beliau berkata: ‘Perhatikan esok pagi dan petang kalian!’
Kemudian sesudah itu (amma ba’du). Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al Qur`an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dan seburuk-buruk perkara ialah yang diada-adakan dan setiap bidah adalah sesat.”(HR. Muslim Kitab Al Jum’ah 6/219 no 767)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوا بِهاَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٌ

“Aku wasiatkan kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun kepada budak Habsyi. Sesungguhnya, siapa yang hidup dari kalian sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunah para khulafaur rasyidin yang terbimbing. Peganglah dan gigitlah dia dengan geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud Kitab As Sunnah 5/12 no 4607, At Tirmidzi Kitabul ‘Ilm 10/ 104 no 2676)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

“Biarkanlah aku dengan apa yang aku tinggalkan buat kalian. Karena sesungguhnya kebinasaan ummat sebelum kalian adalah karena banyak bertanya dan berselisih dengan Nabi mereka. Maka jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian. Dan jika aku melarang kalian dari sesuatu maka tinggalkanlah.” (HR. Muslim Kitabul Hajj 9/143 no 1337)

Dari sejumlah hadits ini jelaslah bagi kita keagungan as-Sunnah, wajibnya mengikuti as-Sunnah tersebut, keselamatan bagi orang yang menempuh jalan yang digariskannya, dan menjauhi hal-hal yang menyelisihinya. Pengertian seperti ini telah dipahami dengan tepat dan dijaga oleh para sahabat serta tabi’in. Mereka senantiasa menyampaikan hadits tentang berpegang dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mentahdzir kebid’ahan, (melarang) bertetangga dengan ahli bid’ah dan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu serta orang-orang yang berpegang kepada ra’yu (akal semata).

Perhatikan sikap ‘Umar Radhiallahu’anhu, ketika dia berkata:
“Hati-hatilah dan jauhilah oleh kalian orang-orang yang menggunakan ra’yunya. Karena sesungguhnya mereka adalah musuh-musuh as-Sunnah. Mereka dilemahkan oleh hadits-hadits, hingga tidak mampu menghafalnya. Akhirnya mereka berbicara dengan ra’yu, merekapun tersesat dan menyesatkan (orang lain).” (Diriwayatkan oleh Ad Daraquthni dalam Sunnahnya dan Al Lalikai).

Sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud mengatakannya pula:
“Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah. Sesungguhnya kalian telah dicukupi. Dan setiap bid’ah itu sesat.” (Al Ibanah 1/327).

‘Umar bin Abdil Aziz berkata:
“as-Sunnah ialah yang telah digariskan oleh orang yang tahu bahwa menyelisihinya adalah penyimpangan. Mereka untuk berdebat lebih mampu daripada kalian.” (Al Ibanah)

Imam Malik bin Anas Rahimahullahu juga menegaskan:
“Jauhilah oleh kalian kebid’ahan!” Ada yang berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Abdillah, apakah bid’ah itu?’ Kata beliau: “Ahli bid’ah ialah orang-orang yang berbicara tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, juga ilmu dan kodrat-Nya. Mereka tidak mau berhenti dalam perkara dimana para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik berhenti (membicarakannya).”

[Dinukil dari kitab Usus Manhajus Salaf fii Da’wati Ilallah, Edisi Indonesia Manhaj Dakwah Salafiyyah, Penulis asy-Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah as-Suhaimi, Penerjemah Harits Abrar Thalib, Penerbit Pustaka Al Haura, hal. 147-157]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Manhaj As Salafus Shalih, Urgensi Dakwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image