Nikmatnya Bersahabat dan Bergaul Dengan Sesama Ahlus Sunnah

asy-Syaikh Abul Barakat Badruddin Muhammad al-Ghazzi

Segala puji hanya bagi Allah yang telah memuliakan hamba-hamba-Nya yang tertentu dengan bersatunya mereka di atas ad-diin, memberi mereka taufik untuk memuliakan hamba-hamba-Nya yang ikhlas (dalam beragama), dan menghiasi mereka dengan akhlak mulia dan watak yang diridhai untuk beradab dengan adab manusia yang paling utama dan pemimpin ummat, Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketahuilah, wahai saudaraku yang shalih, semoga Allah ‘azza wajalla memperbaiki urusan kita, bahwasanya adab-adab persahabatan dan pergaulan itu beragam caranya. Aku akan menjelaskan beberapa di antaranya, yang menunjukkan orang yang berakal kepada akhlaknya orang-orang beriman dan adabnya orang-orang yang shalih. Dan telah diketahui bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala telah menjadikan sebagian mereka rahmat dan penolong bagi sebagian yang lain. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ اِذَاشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُهُ بِالْحُمَّى وَالسَّهْر

“Permisalan orang-orang yang beriman dalam saling cinta dan kasih di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, niscaya seluruh anggota tubuh yang lain akan turut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

الْمُؤمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ الْمَرْصُوصِ يَشُدُّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya ibarat sebuah bangunan yang kokoh, yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.” (HR. Bukhari Muslim dari Anas bin Malik)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

الْاَرْواَحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ مَاتَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَاتَنَاكَرَ مِنْهَااخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” (HR. Muslim).

Maka apabila Allah ‘azza wajalla menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah akan memberi taufik kepadanya untuk bergaul dengan ahlus sunnah, orang-orang baik, dan ulama. Allah ‘azza wajalla juga akan menjauhkannya dari bergaul dengan ahlul ahwa’ dan ahlul bid’ah yang menyimpang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلىَ دِيْنِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ اَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka perhatikanlah oleh kalian siapa yang menjadi temannya” (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi)

‘Adi bin Zaid, seorang penyair Arab di zaman Jahiliyah, berkata dalam syairnya:

عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ
فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْـمُقَارَنِ يَقْتَدِي
إِذَا كُنْتَ فِي قَوْمٍ فَصَاحِبْ خِيَارَهُمْ
وَلاَ تُصَاحِبِ الْأَرْدَى فَتَرْدَى مَعَ الرَّدِي

Tidak perlu engkau bertanya tentang (siapa) seseorang itu, namun tanyalah siapa temannya
Karena setiap teman meniru temannya
Bila engkau berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan orang yang terbaik dari mereka
Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang rendah/hina niscaya engkau akan hina bersama orang yang hina

Dan di antara perkataan Ali bin Abi Thalib [1] Radhiallahu‘anhu:
“Dan janganlah engkau bersahabat dengan orang jahil. Jauhilah olehmu untuk bersahabat dengannya. Betapa banyak orang jahil membodohi orang yang bijak ketika ia menjumpainya. Seseorang bisa disamakan dengan orang lain tatkala orang tersebut menjadi teman jalannya. Sesuatu terhadap sesuatu yang lain ada banyak kesamaan dan keserupaan. Bagi qalbu terhadap qalbu yang lain ada petunjuk tatkala dia menjumpainya.”

Wallahu a’lam bish shawab

(Dinukil Dari Muqaddimah Kitab Adabul ‘Isyrah wa Dzikru ash-Shuhbah wal Ukhuwwah, Penulis asy-Syaikh Abul Barakat Badruddin Muhammad al-Ghazzi, hal. 11-13)
___________
Footnote:
[1] Penyandaran syair ini kepada sahabat Ali bin Abi Thalib adalah dha’if sebagaimana yang disampaikan oleh Al Ustadz Abu Mu’awiyah Askari ketika dars kitab ini. Akan tetapi, syair ini bagus dari sisi maknanya.

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Hidupkan Sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image