Berdoalah Dengan Menyebut Asmaul Husna

asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu dan jauhilah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (al-A’raaf: 180)

Penjelasan per-kata

Asmaul husna: yakni nama-nama yang paling baik, pada puncak yang terbaik atau tiada lagi yang lebih baik daripadanya.

Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu: yakni berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan bertawassul kepada-Nya dengan asmaul husna. Sama saja apakah dalam ibadah maupun meminta. Hal tersebut dengan cara mengakhiri doanya dengan asmaul husna yang cocok. Seperti, “Wahai Rabbku ampunilah dan kasihilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.”

Dan jauhilah: yakni tinggalkanlah mereka dan berpalinglah dari diskusi mereka.

Menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya: adalah mereka yang menyimpang dalam perkara asma wa shifat dalam hakikat dan maknanya dari kebenaran yang tsabit.

Penjelasan global

Allah Subhanahu wata’ala mengkabarkan kepada kita dengan ayat ini bahwasanya hanya milik Allah-lah nama-nama yang mencapai puncak kebaikan dan bahwasanya hanya milik Allah-lah seluruh sifat yang paling sempurna dan paling tinggi. Kemudian mengarahkan kita untuk bertawassul dan meminta kepada-Nya dengan asmaul husna sampai diterima dan doa dikabulkan.

Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menjauhi orang-orang yang menyimpang dalam perkara asma wa shifat yang kemudian mereka diancam akan mendapat balasan di hari kiamat atas penyimpangan dan tahrif mereka terhadap asma wa shifat.

Faidah Ayat ini

1. Penetapan Allah mempunya nama-nama yang paling baik (asmaul husna).
2. Disyariatkannya bertawassul kepada Allah dengan asmaul husna.
3. Diwajibkannya hajr kepada mulhidin (orang yang menyimpang dalam perkara asma wa shifat) sekiranya dianggap bisa memperperbaiki aqidah mereka.
4. Haramnya ilhad (menyimpangkan) nama-nama dan sifat-Nya. Dan di antara bentuk ilhad adalah menamai Allah dengan apa-apa yang Allah tidak menamai diri-Nya atau menafikan apa-apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dari asma wa shifat-Nya.

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman Al Qar’awi, hal. 404-405]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Al Jadid Syarah Kitabut Tauhid, Aqidah Ahlus Sunnah, Tauhid Prioritas Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image