Orangtua yang Shalih untuk Anak-Anak yang Shalih

asy-Syaikh Abdussalam bin Abdullah as-Sulaimani

Di antara langkah-langkah yang hendaknya dilakukan oleh orangtua dalam tarbiyatul abna (mendidik anak) adalah:

Memulai dengan memperbaiki diri sendiri

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Maka seorang ayah yang baik dan ibu yang baik merupakan sebab utama yang bisa membantu dalam proses mendidik anak karena mereka adalah qudwah (tauladan) bagi anak-anaknya, sementara anak-anak suka meniru ayah dan ibu mereka. Kebiasaan anak laki-laki meniru ayahnya sementara anak perempuan meniru ibunya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.” (ath-Thuur: 21)

Memilihkan ibu yang terbaik bagi anak-anak kita (istri)

Sesungguhnya barangsiapa yang menginginkan buah yang baik hendaknya dia menanamnya di lahan yang baik. Dan di antara hikmah yang agung dari sebuah pernikahan adalah untuk memunculkan generasi anak-anak yang shalih, yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wajalla dan berbakti kepada kedua orangtua mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ

“Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang lagi subur, karena (pada hari kiamat nanti) aku membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 2050 dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/189)

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan metode seseorang dalam memilih istri:

تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعَةٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَلِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu (menurut kebiasaan yang ada) dinikahi karena empat perkara, bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama (shalihah). Bila tidak, engkau celaka.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (an-Nisaa’: 34)
Maknanya adalah ia taat kepada Allah Azza wajalla dan taat kepada suaminya, ia menjaga kehormatan suami ketika tidak ada di tempat, juga menjaga hartanya dan kehormatan dirinya.

Dan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam memperingatkan dari wanita yang cantik namun akhlaknya buruk,
“Jauhilah kalian ‘khadhara uddiman’. Para shahahabat bertanya, “Apakah itu khadhara uddiman?”
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menjawab, “Wanita yang cantik namun akhlaknya buruk.” (Riwayat Daruquthni dari hadits Abu Sa’id secara marfu’)

Dan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menganjurkan untuk menikahi wanita yang memiliki agama (shalihah),
“Maukah kalian aku beritahu sebaik-baik harta benda?” Itulah wanita shalihah.” (Riwayat al-Hakim dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu)

Demikianlah, di antara hak seorang anak atas orangtuanya adalah memilihkan ibu yang baik untuk mereka.

Seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khaththab Radhiallahu’anhu untuk mengadukan anaknya yang durhaka. Maka dihadirkanlah anaknya untuk memberitahukan atas kedurhakannya. Kemudian anaknya ini bertanya, “Apakah tidak ada hak seorang anak atas ayahnya?” Maka dijawab, “Tentu saja ada.” Anak ini bertanya, “Apakah itu?”
Umar menjawab, “Memilihkan untuknya seorang ibu yang bertakwa, memberinya nama yang bagus, dan mengajarkannya al-Quran.”
Maka anak ini berkata, “Sesungguhnya ayahku tidak melakukan itu semua. Adapun ibuku berasal dari agama Majusi (penyembah api), dan dia menamaiku dengan Ju’al, dan dia tidak mengajarkanku al-Quran satu hurufpun.”
Lantas Umar menoleh kepada ayahnya sembari berkata, “Apakah engkau datang kepadaku untuk mengadukan anakmu yang durhaka, sementara engkau telah mendurhakainya sebelum ia durhaka kepadamu?!”

Berkata Abul Aswad Adda-uli kepada anak-anaknya, “Sungguh aku telah berbuat baik kepada kalian saat kalian masih kecil, saat kalian dewasa, dan saat kalian belum dilahirkan.”
Anak-anaknya bertanya, “Bagaimana engkau berbuat baik kepada kami saat kami belum dilahirkan?”
Ia menjawab, “Dengan aku pilihkan untuk kalian seorang ibu yang tiada cela padanya (ibu yang shalihah).”

Seorang istri juga hendaknya memilih suami dari laki-laki yang shalih

Sebagaimana seorang suami memilih pasangannya yang shalihah, demikian pula seorang wanita hendaknya memilih suami yang shalih.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Apabila datang kepada kalian (para wali) seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)

Dengan demikian kita melihat bahwasanya asas (pondasi) yang kuat sebagai dasar pertimbangan dalam memilih pasangan hidup (suami atau istri) adalah dengan memperhatikan bagaimana cara dia beragama dengan benar dan memperhatikan akhlaknya. Itulah awal mula hakikat dalam rangka mendidik anak-anak kita dengan benar nantinya.

[Dinukil dari Kitab Tarbiyatul Aulad fii Dhaui al-Kitabi wa as-Sunnati, Penulis Abdussalam bin Abdullah as-Sulaimani, Taqdim Syaikh Shalih Fauzan, hal. 18-22]

Baca juga 5 artikel terakhir di Blog Sunniy Salafy:

Kami adalah penuntut ilmu, seorang sunniy salafy

Ditulis dalam Potret Keluarga, Tarbiyatul Aulad
One comment on “Orangtua yang Shalih untuk Anak-Anak yang Shalih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER HIJRIAH

"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fatawa 4/149)

:: Pengunjung Blog Sunniy Salafy disarankan menggunakan Google Chrome [Klik disini] supaya daya jelajah anda lebih cepat ::

Radio Sunniy Salafy

Kategori
Permata Salaf

image